umdah

Lima Cara Dalam Berhijrah

Umdah.co.id - Berhijrah diartikan sebagai perpindahan perilaku, dari perilaku tidak islami atau tidak syar’i ke perilaku islami atau...




Umdah.co.id - Berhijrah diartikan sebagai perpindahan perilaku, dari perilaku tidak islami atau tidak syar’i ke perilaku islami atau syar’i. Berhijrah dimaknai dari yang semula tidak pernah beribadah, seperti malas salat hingga kemudian rajin salat. Berhijrah, kini, bermakna, yang semula jauh sekali dari ajaran-ajaran Islam menjadi paling dekat dengan tata acara kehidupan yang diajarkan dalam Islam.

Berikut ini adalah lima cara berhijrah:

Pertama, carilah guru yang benar. Seperti apa guru yang benar? Guru yang tak hanya pandai ilmu agama, tapi pun saleh dalam kehidupan nyata.

Biasanya guru yang benar punya ciri-ciri sebagai berikut: lemah lembut, suka dengan kesabaran, tidak sombong, tidak suka membicarakan keburukan atau aib orang lain, tidak membuang harta, dermawan.

Kedua, sabar dalam belajar. Setelah kita mengatur niat berhijrah, dari perilaku buruk, tidak islami menjadi perilaku baik, yang biasanya disebut taubat, maka Anda harus menyiapkan diri Anda dengan sepenuh hati untuk belajar.

Kita tidak harus berpuas diri dengan hanya mengubah pakaian, jilbab besar, ataupun telah berumroh. Kita seharusnya tidak boleh memadai dengan hanya mengejar satu atau dua guru saja untuk belajar. Kita mesti belajar dengan tekun. Belajar, belajar, dan belajar.

Islam merupakan ilmu pengetahuan. Al-‘ilmu, sering disebut dalam Alquran. Derajat orang berilmu dalam Islam, tinggi sekali. Makanya terdapat hadis, “tuntunlah ilmu sampai ke negeri China.” Atau terdapat ungkapan belajar dari ayunan hingga ke liang lahat, minal mahdi ilal lahdi. Satu sifat yang harus Anda miliki dalam belajar ialah bersabar. Jika tidak, Anda akan patah arang di jalan.

Ketiga, tidak boleh meninggalkan keluarga, rekan dan lingkungan lama. Jaga silaturahim, solidaritas, dan persaudaraan.

Pada poin ketiga ini, arti hijrah mesti mengacu kepada Nabi agung kita, Nabi Muhammad. Nabi Muhammad, sesudah berhijrah, meninggalkan Mekkah, tapi kemudian kembali lagi ke Mekkah, mendatangi segala yang terdapat di Mekkah, orang kafir, orang serakah, orang zalim, orang mabuk, beristri banyak, penjudi, dll.

Begitu pula kita. Kita jangan memaknai hijrah dengan meninggalkan segala-galanya, meninggalkan pekerjaan, meninggalkan teman, terlebih meninggalkan keluarga.

Berhijrah, tidak boleh dimaknai tidak pernah “kembali”. Bahkan dengan kembalinya kita, dengan tetap bersahabat, dengan tetap memuliakan dan menyukai orang-orang yang Aanda anggap belum berhijrah, adalah dakwah tersendiri. Teman, keluarga, tetanggaa, teman kerja, tempat kerja, semua itu merupakan potensi dalam menambah, menyebarluaskan, mensyiarkan tindakan baik kita, dan agama kita.

Keempat, hormatilah orang lain. Setelah Anda berhijrah, janganlah menilai diri sendiri merasa sangat baik, sangat benar. Karna kita tidak akan tau, bagaimana nantinya. Siapa yang akan berhasi melalui perjuangan hidup ini masih teka teki. Kita hanya berusaha semampunya.

Godaan orang berhijrah, dari kejelekan menuju kebaikan, adalah sifat ‘ujub, kagum pada diri sendiri. Misal merasa sudah bersedekah banyak, kemudian mengganggap orang lain sebagai seseorang yang kikir.

Merasa terus belajar, memandang yang lainnya bodoh. Merasa sudah berhijab, kemudian serta merta menilai yang terlihat rambutnya, yang tampak pahanya, sebagai seseorang yang buruk. Janganlah merasa baik sendiri, benar sendiri, dan Islam sendiri.

Sifat ‘ujub ialah godaaan yang tidak akan pernah hilang. Lebih-lebih, Anda tidak tahu, siapa yang akan menyelesaikan hidup ini dengan baik, dan husnul khatimah.

Ingat pula Nabi dan sahabatnya.Ketika berhijrah, mereka dalam suasana lemah, perlu solidaritas, perlu kasih sayang orang lain. Karena bila kita mengacu pada hijrahnya Nabi, sifat orang berhijrah ya memang orang lemah. Makanya kaum Muhajirin (Nabi dan semua sahabatnya) yang memerlukan pertolongan. Saat itulah, penduduk Yatsrib (Madinah), yang membantu Nabi dan semua sahabatnya, dinamakan kaum Anshar (para penolong).

Kelima, imbangi hal-hal lahiriah atau simbol-simbol keislaman seperti  pakaian, ibadah, atau sesuatu yang kasat mata, dengan nilai-nilai, akhlak mulia, kebaikan, dan prinsip-prinsip agama.

Sikap atau posisi yang seperti inilah akan tetap memunculkan rasa hormat kepada yang berbeda, tetap husnudon pada orang yang terlihat tidak baik, tetap hormat dan cinta untuk orang yang memusuhi, dengki, dll. Poin kelima ini,

Selamat berhijrah, lakukanlah semuanya karna Allah ta’ala.


Related

Motivasi 5384255095917057875

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

item