umdah

Keyakinan dan Keikhlasan, Sepasang Sayap yang Menerbangkan Harapan Terpendam

Umdah.co.id- Sebuah penggalan hadist Qudsi (hadis yang diriwayatkan oleh Nabi SAW dari firman Allah SWT) yang sangat luar biasa efek dan ...


Umdah.co.id- Sebuah penggalan hadist Qudsi (hadis yang diriwayatkan oleh Nabi SAW dari firman Allah SWT) yang sangat luar biasa efek dan manfaatnya. Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim,
أَناَ عِندَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Sesungguhnya Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hambaKu…”

Terkadang, sebuah kebaikan muncul dari sudut keyakinan dan keikhlasan. Dua hal ini, adalah sesuatu yang bisa saja berpengaruh kepada kehidupan seseorang. Ikhlas adalah rasa dari seseorang untuk bekerja tanpa pamrih, tanpa keinginan meminta balas budi. Sedangkan yakin adalah rasa percaya dari diri seseorang kepada sesuatu yang sedang dikerjakannya. Dua hal ini seperti sepasang sayap pada sebuah usaha. Dua pasang sayap yang berhasil menerbangkan harapan-harapan yang tidak diucapkan.

Saat berkunjung kerumah Abu Lamkawe, Abu menceritakan satu kisah menyentuh mengenai hadis ini.
Pada suatu desa, hiduplah seorang ahli maksiat dengan kesehariannya yang penuh dengan lumuran dosa. Penghasilannya sehari-hari diperoleh dari hasil mencuri. Pekerjaan ini telah menjadi kebiasaannya. Hampir tidak ada rezeki halal yang didapatkannya.

Namun Allah berkehendak lain dengan takdir si pencuri. Ia mendapat hidayah yang tak semua orang mendapatkannya. Seperti itulah, hidayah Allah adalah sebuah rahasia yang tak kita ketahui. Bisa berada di hati siapa saja.Tak hanya orang-orang mulia yang berkesempatan mendapat petunjuk.

Mungkin, ada satu kebaikan yang pernah ia lakukan, yang tak pernah disadarinya. Dengan satu kebaikan itu pula ia disayangi oleh Allah. Kebaikan, walupun yang paling terkecil, tidaklah menjadi sebuah kesia-siaan. Allah takkan lupa menghitung setetes air mata yang kamu tangiskan. Allah takkan lalai menghitung setiap gerakan kebaikan yang pernah kamu kerjakan.

Ketika siang menjemput senja, pencuri itu kelaparan. Ia tidak makan selama beberapa hari. Ia tidak menemukan seorang yang bisa menjadi sasaran kejahatannya.

Dalam krisis ekonomi yang sedang dirasakannya, tubuhnya pun melemah tak bertenaga. Tak ada yang bisa disantapnya. Satu-satunya cara yang tersisa adalah mencari uluran tangan dari penduduk sekitar yang mau bersedekah kepadanya. Tentunya dengan menutupi identitas nistanya yang cukup nestapa jika didengar telinga.

Ide pamungkasnya pun dilangsungkan di suatu petang. Ia mendatangi rumah sederhana yang dihuni seorang wanita dengan suasana rumah romansa ditemani seorang anak yang lama mengidap penyakit kusta. Sang ibu hampir putus asa dalam mengobatinya. Telah dicobanya berbagai macam obat dari tabib-tabib terkemuka namun tidak ada perubahan yang berarti.

Pencuri itu menyapa dengan sapaan terlembut yang pernah dimilikinya. Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang mujahid Allah yang tengah kelaparan. Ia mengharap belas kasih si ibu. Di dalam hatinya tersimpan harapan kepada si ibu. Harapan untuk diberi sesuatu makanan, walau hanya sedikit.

Si ibu menerimanya dengan senang hati, bahkan dengan penuh kegembiraan. Ibu itu mempersiapkan segalanya untuk disajikan kepada si pencuri tersebut.

Pencuri itu makan dengan lahap. Terlihat dari wajahnya gambaran rasa senang dan gembira. Walau agak risih dengan kehadiran anak sang ibu yang berpenyakit kusta. Tak lama kemudian si pencuri itu pamit.

Saat membereskan jamuan yang dihidangkan tadi, terbesit dalam benak si ibu. "Ia adalah pemuda mulia. Pasti Allah sangat mencintainya. Ia sangat yakin bahwa sosok dari mujahid ini mengalir keberkahan. Lalu pada kesempatan itu dengan mengharap pertolongan Allah, sang ibu mengambil air bekas cuci tangan perampok tadi dan dibasuhnya ke tubuh anaknya yang sakit kusta.
Dengan izin Allah seluruh badan anaknya sembuh seperti anak selayaknya. Berkah dari tawassul dan keyakinannya yang begitu kokoh.

Lalu, waktu lama berlalu. Si perampok tadi kembali ke rumah si ibu, dengan alasan yang sama. Ibu itu kembali menghidangkan makanan untuk si perampok dengan perasaan yang sama seperti saat pertama kali bertemu dengan perampok itu. Dengan perasaan senang dan gembira karna berhasil menyambut seorang tamu yang mujahid.

Perampok itu seperti biasanya, melanjutkan agenda makannya. Namun, tiba-tiba ia teringat dengan anak si ibu yang dulunya berpenyakit kusta. Dimana sekarang anak itu, bagaimana kabarnya. Ia bertanya langsung kepada si ibu.

"Anak ku telah sembuh dari penyakit itu."

"Ia sekarang seperti anak lainnya. Ia telah sembuh dengan izin Allah, hanya dari bekasan air cuci tanganmu."

Perampok itu lantas kaget. Ia merasa heran sekaligus merasa menyesal. Ia merasa malu. Bukankah dirinya hanya seorang yang berbohong. Bukankah dirinya hanya seorang perampok yang hina. Dimanakah letak kemuliaannya sehingga bekasan air cuci tangannya itu bisa menjadi obat yang dapat menyembuhkan penyakit kusta.

Ia terharu. Menangis dalam hati yang sudah tak bisa ia tahan lagi. Dengan perasaan seperti itu, ia lantas jujur dengan si ibu mengenai siapa sejatinya sosok dirinya itu.
"Oh, wahai sang ibu! Aku bukanlah seorang yang mulia yang pernah engkau sangka. Aku hanya seorang pembohong yang suka mencuri."

"Jika ada sesuatu yang telah berhasil membuat anakmu sembuh dari penyakit kusta itu, maka tak lain karna keikhlasanmu dalam menyambutku sebagai tamu Allah di dalam prasangka hatimu dan keyakinanmu kepada Allah sebagai Zat Yang Maha  Menyembuhkan melalui tawassul kepada sebuah kebaikan yang berasal dari sedekah yang engkau berikan kepadaku pula."

Related

tafakkur 683158842568950833

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item