umdah

Kenapa Santri Harus Menulis ??

Umdah.co.id- Menulis adalah menyalurkan seluruh ide atau gagasan yang terdapat dalam fikiran kedalam bentuk tulisan. Bahkan dalam dunia...


Umdah.co.id- Menulis adalah menyalurkan seluruh ide atau gagasan yang terdapat dalam fikiran kedalam bentuk tulisan. Bahkan dalam dunia kesehatan menulis dapat mencegah kepikunan pada usia lanjut. Selain itu menulis layaknya sebuah trafi atau olah raga bagi otak manusia, layaknya tubuh akan semakin sehat dan kuat bila rutin berolah raga.

Bagi santri, permasalahan ini tidak boleh dinomor duakan, tullab Menjadikan seluruh aktifitasnya demi meraih ridha Rabbinya, ada value yang tidak diperoleh didunia saat tulisan itu diniatkan karena Allah sebab dia adalah sebuah amal. dan salah satu cara adalah dengn menulis ilmu agama agar mudah diakses diseluruh kalangan dan bukankah ini adalah salah satu dari pada cara meneyabarkan ilmu ? Dalam tarikuhul islam (sejarah islam) menulis merupakan suatu tradisi yang telah terjadi pada masa Rasulullah, saat rasul memerintahakan Zaid bin Tsabit untuk menuliskan Hadits dan ayat Alquran dipelepah pelepah kurma dan batu.

Dalam artikel ini pena akan coba menyebutkan beberapa alasan kenapa seorang santri lebih layak menjadi penulis. Berikut alasan-alasannya.

1. Menulis Melahirkan Ridha dan Pahala.

Santri adalah komunitas yang telah mengaji dan mengkaji Islam lebih dalam tentunya telah memahami bahwa tiada tujuan yang dapat memberikan kebahagiaan hakiki kecuali dia mendapat ridha dari Allah SWT.
Pemahaman yang mendasar bahwa Allah selalu memberikan ganjaran sebuah kebaikan sekalipun dia sebesar biji zarrah, kabaikan yang kecil dan mendapat ridha Allah lebih berharga dari rumah mewah yang kita miliki didunia.
Adapun salah salah satu cara yang ditempuh seseorang agar dia memmperoleh kebaikan yang kecil adalah menulis kebaikan, dimasa saja baik facebook , instagram atau dilembaran yang dibaca oleh orang banyak dan tentu dengan niat yang benar.
Tulisan yang memotivasi orang lain untuk berbuat baik, memberikan solusi dalam masalah masalah fiqh atau lainnya, atau menulis ide ide brilian yang mengarahkan umat kepada yang lebih baik.
Karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada orang lain.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni ).

2. Menulis merupakan tradisi islam.

Kegemilangan Islam berjalan seiring dengan budaya dan tradisi masyarakat muslim saat itu. Apa tradisi mereka? Salah satunya adalah menulis. Islam meninggalkan peradaban yang besar salah satunya dengan banyak karya turash yang dikarang. Ulama ulama yang hari ini kita pelajari karangan mereka adalah orang yang telah mendedikasikan seluruh waktu mereka untuk menulis ilmu untuk generasi setelah meraka, misalnya saja Imam Sayuthi yang telah menulis 600 karangan dari fan ilmu fiqh, ushul fiqh, hadits, ilmu hadits, tafsir dan ilmu lainnya.
menariknya budaya menulis turash bukan hanya milik ulama timur tengah , ada beberapa ulama Indonesia yang telah menulis turash seperti Abd al-Samad al-Falimbani (w. 1789) dengan karya, antara lain, Sayr al-Salikin dan Arsyad al-Banjari (w. 1812) dengan salah satu kitabnya yang terkenal, Sabil al-Muhtadin, sedangkan dalam ranah Aceh ada sosok Abdul Rauf Assingkili, dan Nuruddin Ar Ranini Menulis merupakan tradisi umat islam yang sudah pernah menghiasi peradaban dunia, majunya barat hari ini dibidang sains dan teknologi tidak terlepas dari pada tinta ulama muslim terdahulu.
Masih Ingat saat bangsa Mongol memasuki kota Baghdad ? dari situ peradaban Islam sedikit meredup. Karya-karya para ulama dan ilmuan yang terkompres dalam kitab kitab dibakar dan sebagiannya dimasukkan ke sungai, adalah  Sungai Dajlah menjadi saksi bisu kekejaman bangsa Mongol. Karena banyaknya buku yang dijeburkan kesungai, hingga mampu menjadi jembatan yang dapat dilalui. Warna sungai akhirnya berubah menjadi warna tinta. Padahal sungai itu cukup luas dan dalam.

3. Menulis Adalah Ladang Dakwah Santri

Sebagai seorang santri yang sedang menempuh pendidikan ada tiga kegiatan yang harus dalam ingatannya dan prilakunya yaitu ilmu, amal dan nasyru. menjadi aktiviatas yang sangat penting nasru dizaman kita sekarang sebab umat islam hari ini diserang dua kelompok, pertama dari orang kafir  yang secara nyata memusuhi Islam dari luar umpama ide ide misionaris atau kristenisasi, kedua dari ide sempalan yang diluar pemahaman Aswaja. kepada komuniatas pertama santri menyebarkan ide atau opini publik bahwa islam bukan agama pengacau, teror tetapi agama kita adalah agama yang salim yang menyejahterakan tidak hanya rasa nyaman bagi sesama manusia namun juga kepada bintang sekalipun.

Belajar dari kasus yang belakangan ini menjadi perhatian semudahnya memvonis perempuan bercadar sebagai wanita teror, bahkan sempat viral sebuah vidio santri sarungan yang diperiksa tasnya oleh polisi sebab diduga terdapat barang barang yang mengacam . Ini adalah opini publik yang ada, maka menjadi tugas santri untuk mebersihakan nama Islam karena Islam itu selamanya adalah agama yang damai.
Yang kedua santri memvokuskan dakwah dengan tulisan yang menentang ide sempalan yang telah kian banyak tersebar dimedia masa dan google, denag tulisan yang benar akan mengcounter atau menurunkan rating tulisan yang keliru dengan tulisan santri juga bisa menyampiakan pesan yang sengaja disembunyikan oleh media elektronik dan cetak

Sebagaimana yang dikatakan oleh cendikiawan muslim . “ Satu peluru hanya mengenai satu kepala. Tapi satu tulisan bisa mengenai ribuan kepala”.

Tulisan juga tidak hanya berupa ilmu-ilmu, tetapi bisa juga dengan kisah-kisah hikmah yang menggugah.

Sebab sebagian besar media hari ini memojokkan kaum muslimin. Subjektifitas dalam prinsip prinsip jurnalistik mulai pudar. akibatnya Islam seakan dipandang minoritas dalam kacamata media sekuler, padahal pemeluk Islam 85% dinegeri ini. Maka dengan adanya tulisan, mampu menyingkap semua fakta yang berusaha ditutup-tutup. Dan menunjukkan dengan jelas antara kebenaran dan keburukan.

Itulah 3 alasan kenapa seorang santri layak menjadi penulis. Lalu adakah alasan menjadikan kita untuk tidak memraih kebaikan dan menyebarkan agama ini melalui tulisan?

"Saya tidak bakat dalam menulis", Jika bakat yang menjadi halangan, Bukankah bakat itu adalah latihan yang terus diulang ?… Dengan kata lain munculnya bakat karena terus ada latihan dan latihan. Bukan karena dia dari keluarga penulis dan condong senang menulis.
Mari kita menjadi bagian dari pelopor kebaikan melalui tulisan.

#AR

Related

Tips 6906271809394866153

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item