umdah

Kisah Jenaka di Balik Lahirnya Qaidah Fiqhiyyah

Umdah.co.id- Kisah ini di mulai pada 2 orang ulama nan bersahaja. 2 ulama ini memiliki kemampuan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Ulama ...


Umdah.co.id- Kisah ini di mulai pada 2 orang ulama nan bersahaja. 2 ulama ini memiliki kemampuan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Ulama ini mampu mengembalikan atau meringkaskan seluruh permasalahan furu`-furu` hukum kepada beberapa poin yang dapat mencakup kepada seluruh furu` hukum yang terdapat dalam bidang fiqh. Keduanya adalah Abu Thahir Ad-Dabbasi dari mazhab hanafi dan Qadhi Husain. Abu Thahir Ad-Dabbasi mampu mengembalikan seluruh permasalahan hukum pada mazhabnya kepada 17 poin qaidah. Sedangkan Qadhi Husain juga tak kalah hebatnya, beliau mampu mengembalikan seluruh permasalahan hukum kepada 4 poin.

Namun, di balik lahirnya karya monumental yang luar biasa, yaitu kitab  Al Fawaidul Janiyyah, tak luput dari kisah jenaka yang tak dapat di hapuskan oleh zaman yang diibaratkan seperti cahaya fatamorgana yang tak dapat di hilangkan di balik bertanya sengatan jagat raya. Kisah ini di kekalkan dari ulama yang mendapat gelar mujaddid di abad ke 11 yaitu Imam As Sayuthy. Beliau menceritakan bahwa seorang ulama yang bermazhab Hanafi memiliki karya yang begitu besar bagi mazhabnya. Nama beliau adalah Abu Thahir Ad-Dabbasi. Beliau mampu mengumpulkan keseluruhan masalah hukum dalam mazhabnya kepada 17 poin qaidah. Pada waktu itu, kemasyhuran dan ketenarannya terdengar ke telinga-telinga ulama yang bermazhab Syafi`iy. Kemudian salah seorang ulama dari mazhab Syafi`iy memiliki keinginan yang sangat besar untuk dapat menemui sang Imam yang menjadi sorotan berita di kala itu. Nama ulama dari mazhab syafi`iy ini adalah Qadhi Abi Sa`id Al Harawi Asy Syafi`iy.

Pengembaraan seorang qadhi dari mazhab Syafi`iy ini pun di mulai untuk menemui sang idolanya tersebut. Maka tak lama kemudian, sampailah sang Qadhi Abi Sa`id Al Harawi Asy Syafi`iy di daerah Bahirah. Di sanalah tempat Abu Ad Dabasi berada. Uniknya, Abu Dabbas adalah seorang yang rabun penglihatannya. Penglihatan beliau sudah tidak terang. Dan yang lebih unik lagi adalah beliau selalu mengulang-ngulang qaidah yang 17 poin tersebut pada waktu malam tiba di mesjid setelah semua jamaah keluar. Pintu mesjid dikuncinya, kemudian beliau melanjutkan hafalannya.

Qadhi Abi Said telah mengetahui apa yang di lakukan oleh Abu Dabbasi. Maka dengan itu, beliau mengambil inisiatif untuk masuk ke dalam mesjid di tempat Abu Dabbasi melanjutkan hafalannya.

Beliau bersembunyi dengan menyelimuti dirinya di bawah tikar mesjid. Pada suatu ketika datanglah Abu Dabbas memasuki mesjid. Seperti biasanya, beliau menunggu para jamaah pulang dari mesjid dan kemudian beliau mengunci pintu mesjid. Kemudian beliau melakukan rutinitasnya, yaitu mengulang hafalan qaidahnya hingga qaidah ke-7.

Maka apalah daya. Karena bau yang begitu menyengat dari tikar mesjid, Imam Said tak dapat menahan bersinnya. Suara bersinnya terdengar oleh Abu Ad Dabbasi. Maka marahlah beliau, seingga ia memukul Abu Said dengan beberapa pukulan yang besar, Kemudian beliau mengusirnya. Setelah kejadian itu, Abu Thahir Ad Dabbasi tidak pernah lagi mengulang-ngulang hafalannya di mesjid.

Setelah kejadian itu, Abu Said harus pulang dengan torehan kisah kehidupan yang begitu menyedihkan. Kemudian, beliau memberitahukan kepada shabat-sahabatnya tentang kehebatan sang imam dari mazhab hanafi itu serta tetnang pemukulan yang dilakukan oleh sang imam terhadapnya karena menguping hafalan sang imam.

Berita itu terdengar sampai telinga Qadhi Husein. Setelah mendengar berita itu, beliau merangkai 4 qaidah yang mangembalikan kesuluruhan masalah furu` dalam mazhab Syafi`iy untuk menandingi sikap yang telah di lakukan sang ulama dari mazhab hanafi itu.

oleh : Muhammad Hakiki
Santriwan Kelas 3 Mudi Mesjid Raya

Related

Sejarah 583303752608226969

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item