umdah

Jadilah Sesederhananya SITI KHADIJAH R.A.

Umdah.co.id -Ini adalah sebagian kisah Siti Khadijah ra, istri Rasulullah saw. Seorang wanita yang cantik nan kaya raya, namun pada akhirn...


Umdah.co.id-Ini adalah sebagian kisah Siti Khadijah ra, istri Rasulullah saw. Seorang wanita yang cantik nan kaya raya, namun pada akhirnya, karna memperjuangkan agama islam, ia menjadi seorang yang miskin. Tidak ada yang membuatnya takut ketika kehilangan begitu banyak harta yang telah lama diusahakannya. Karna baginya, harta yang diberikan kepada agama Allah takkan pernah hilang, melainkan terus bertambah dan berganti menjadi pahala yang teramat besar dan agung.

Siti Khadijah adalah Wanita yang istimewa. dua pertiga wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah ra. Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.
Demikianlah keanggunan Siti Khadijah ra, awalnya adalah wanita karir, namun pada akhirnya menjadi wanita yang sederhana.
Siti Khadijah, merupakan wanita yang teramat dicintai oleh Rasulullah saw, dan cinta itu tak pernah pudar sedikitpun, tak pernah berkurang, malah semakin bertambah. Karnanya, saat hari perpisahan Rasulullah dengannya, mulai hari itu sehingga hari-hari selanjutnya, Rasulullah teramat merinduinya.
Apa yang tidak pernah bisa dilupakan oleh Rasulullah saat perjuangan hidup bersamanya? Apa yang membuat Siti Khadijah Selalu menjadi wanita istimewa walau saat-saat bersamanya telah berakhir? Adakah hal itu hanya semata-mata kecantikan wajahnya? Apakah karna kenangan yang sifatnya memang seperti itu, selalu membentuk rindu yang tak tertahankan?
Tentu saja tidak, cantiknya wajah bisa menua, namun wajah yang menua takkan pernah menghilangkan rasa cinta. Karna kecantikan yang sejati pada wanita selalu bisa membuatnya indah dipandang. Ya, kecantikan sejati itu adalah semua sifat keindahannya, semua tingkah laku kebaikannya, semua senyum serta air matanya yang ikhlas dan semua perjuangan dan semangatnya yang pantang menyerah disisi Rasulullah saw. Kecantikan itu terus bertambah, harum semerbak, dengan berbagai cobaan yang disertai sabar, dan ribuan nikmat yang disyukuri.
Jika kita memaknai kebahagiaan hidup, maka sepantasnya memaknai dengan cinta. Cinta yang mendatangkan rindu sehingga menginginkan pertemuan. Cinta pula yang menghadirkan rindu sehingga tidak sanggup menahan beberapa detiknya perpisahan.
Jika karna mencintai Allah ta'ala, semua takdir kehidupan ini adalah kebahagiaan hidup. Ketidakindahan dan berbagai rasa sakit, juga akan menjadi kebahagiaan hidup. Karna cinta kita kepada Allah akan memudahkan kita untuk melakukan semua perintah Allah swt. Dikala kita merindui, maka segala bentuk perbuatan ibadah adalah sesuatu yang tiba-tiba menjadi hobi dan kegiatan yang sangat digemari. Bagai pandangan mata menuju pantai dikala senja, ketika mata tergoda dengan kecantikannya, mata saksikanlah betapa inginnya berlama-lama bersama senja, tanpa rasa bosan.
Diriwayatkan dari kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,
"Daku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu".

"Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung da'wah Islam sepenuhnya", jawab Rasulullah"
Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik, “Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri”.
Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.
Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada disitu.
Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.
Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”
“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.
Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”

“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.
Rasulullah berkata didekat jasad Khadijah, “Wahai  istriku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Mahamengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?”
Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup,Siti Khadijah ra.
Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.
Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.
Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu lalu berbaring dipangkuan Khadijah hingga tertidur.
Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes dipipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.
“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.
“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.
“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.
"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.
"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.
Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ya Ilahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.
Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”
“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib, jawab menantu Rasullulah.

Jadilah sesederhananya Siti Khadijah ra. Yang selalu diingat oleh seluruh penduduk muslim walau tahun terus berganti. Yang selalu menjadi teladan, karna keluhuran sifatnya. Yang tak pernah menyerah memberi apapun yang ia miliki demi tersebarnya keindahan islam.
Jadilah sesederhananya Siti Khadijah ra. Yang hanya meminta sesuatu yang sedikit pada akhir kehidupannya, dan memberi begitu banyak pengorbanan dikala perjalanan hidupnya. (Muhammad Fajar As-Tsani)



Related

Motivasi 8028106939511180690

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item