umdah

Integrasi Zikir dan Fikir

Umdah.co.id  Zikir adalah bahasa Arab yang telah teradopsi kedalam bahasa Indonesia dengan makna mengucapkan (menyebut) nama Allah, pen...



Umdah.co.id  Zikir adalah bahasa Arab yang telah teradopsi kedalam bahasa Indonesia dengan makna mengucapkan (menyebut) nama Allah, pengaplikasian zikir bisa lewat lisan dan hati, sedangkan secara hakiki adalah mengingat Allah dalam setiap gerak hidup seorang mukmin, sedangkan fikir adalah akal yang bisa juga dikonotasikan dengan ilmu (pengetahuan). Hidup manusia akan sempurna (bahagia) jika zikir dan fikir itu dikombinasikan serta mendarah daging pada dirinya.

Keajaiban Fikir dan Zikir.
Miracle (keajaiban) fikiran pertama adalah saat Allah menciptakan Nabi Adam sebagai manusia pertama, saat itu Allah menguji Adam AS dengan beberapa pertanyaan yang tidak sanggup dijawab oleh para malaikat, potensi ini yang membedekan manusia dengan malaikat dan binatang,saat manusia sukses dalam menejemen akalnya kepada arah yang positif maka kedudukan manusia itu akan lebih mulia dari malaikat tetapi sebaliknya saat manusia gagal maka manusia akan turun derajatnya dibawah bintang.
Sedangkan zikir dalah obat bagi tiap penyakit hati, dia layaknya air yang hadir dikala kekeringan melanda jiwa, membasahi hati hati yang kering, dengan zikir seorang akan mendapatkan energi positif bahwa segala sesuatu butuh restu dari Allah, jika pada skenario Allah sebuah perkara baik maka cukup Allah yang menjadi Hakimnya. Zikir juga membuat hubungan manusia dengan Penciptanya semakin mesra,membuat muslim tidak bertutur kecuali yang bermanfaat saja.


Integrasi antara fikir dan zikir
Integrasi fikir dan zikir bisa ditamsilkan degan bulan dan bintang digelapan malam, menciptakan ketenangan dan keindahan disepanjang gelapnya malam, bahkan didalam Kitab Nasahihul Ibad seorang ulama pernah berkata “ Tidak sempurna fikiran kecuali dengan konsisten dengan zikir lisan disertai hati ”
Integrasi dua hal ini sepatutnya kita terapkan dalam kehidupan sehari hari dimanapun dan kapanpun,misalnya ketika padi disawah mulai menguning  kita tidak berhenti berfikir bahwa hal tersebut adalah proses alam atau pengaruh dari pupuk yang kita taburkan, ketika menyaksikan pergantian siang menjadi malam kita tidak berhenti bahwa ini adalah pengaruh dari perputaran bumi mengelilingi matahari, dan saat gempa bumi meluluh lantakan bangunan bangunan kita tidak behenti berfikir bahwa ini pengaruh dari lempengan bumi atau ketika sistem yang luar biasa dalam tubuh kita dalam satu waktu bekerja, kaki berjalan, tangan memegang sesuatu, lisan bertutur, mata memandang, hidung tidak berhenti menghirup oksigen, dan saat yang sama otak juga bekerja bukan berhenti semua ini adalah hasil dari tenaga yang diolah dalam tubuh,  akal yang cemerlang tidak berhenti pada rasa kagum saja tetapi berfikir dan berzikir siapa dibalik keajaibannya ini, siapa yang menciptakannya dan yang menjaganya, inilah yang membedekan muslim dan kafir, karena mereka hanya sebatas meneliti sebab sebab ilmiah tanpa menelusuli (ingintahu) Zat yang menjadi musabbab.

Integrasi fikir dan Zikir dalam menuntut ilmu Syari .
Islam menempatkan ilmu pada posisi yang strategis, dalam artian kedudukan seseorang muslim berpengaruh dengan ilmu yang dimilikinya, banyak ilmu dan baik implementasinya maka tinggi derajatnya disurga kelak.
Selain pada proses alam,Integrasi fikir dan zikir sepatutnya diaplikasikan dalam menuntut ilmu agama. Dalam menjalankan kewajiban yang telah diinformasikan oleh Nabi SAW empat belas abad yang lalu ini seorang mulim perlu mengkombinasikan fikir dan zikir sepeti yang terdapat pada wahyu pertama yang diterima oleh Nabi, yaitu “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. ”Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS:Al-‘Alaq | Ayat: 1-5).

Salafus shalih terdahulu selalu menggandengkan fikir dan zikir saat mereka menuntutilmu agama, seperti Al Imam al Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an Nawawi,seorang Mujtahij tarjih pada Mazhab Syafii yang hidup pada abadke VII ini adalah sosok yang mengintegrasikan antara fikir dan zikir hal ini dibuktikan dengan zikir zikir khusus yang beliau amalkan sebagaimana yang tertuang dalam Kitab Khulasah Al Maddad karangan Habib Umar bin Hafid.
Sebaliknya jika dua hal ini tidak dikombinasikan dalam menuntut maka akan lahir penuntut ilmu yang cerdas tapi kosong hatinya dari nilai nilai Ruhhiyah, kekosongan jiwa ini yang terkadang membuat mereka mengeluarkan persepsi persepsi yang nyeleneh. Semata mata mengedepankan logika sehingga mengenyampingkan aspek yang tidak dijangkau oleh logika mereka seperti lahirnya anggapan  bahwa Al Quran harus direvisi, mamakai jilbab semata mata hanya adat perempuan arab dll.

Dunia dayah dalam Fikir dan Zikir 
Dalam dunia dayah kesadaran akan pentingnnya implementasi dari fikir dan zikir membuat ulama terdahulu mengkombinasikan dua hal ini didayah dayah, selain rutinitas belajar yang penuh para santri dituntut untuk melakukan wirid wirid, seperti yang ada didayah Mudi Mesra misalnya, terdapat zikir harian setelah shalat wajib, kemudian zikir mingguan seperti pada malam jumat, bahkan dalam seluruh hari hari besar Islam Dayah yang yang terletak didesa Mideunjok kecamatan Samlangan ini merayakannya degan zikir. Sehingga melahirkan santri yang tidak hanya cakap dalam befikir tetapi memiliki kepribadian santun, semakin berilmu semakin dekat dia dengan yang maha memberikan ilmu.


Rizky Ramadhana AR


Related

tashauf 5120317673694748736

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item