umdah

Impian Yang Tertunda

Kadang kala hidup bagaikan air terjun yang mengalir begitu saja dengan derasnya tanpa bisa dihentikan, Begitulah awal ku memulai tulisan ...

Impian Yang Tertunda
Kadang kala hidup bagaikan air terjun yang mengalir begitu saja dengan derasnya tanpa bisa dihentikan, Begitulah awal ku memulai tulisan ini.
Aku bernama Mu’izah. Kini umur ku sekitaran 40 tahun. Aku menikah dengan seorang ustad yang bernama Muhammad Akmal. Ia anak semata wayang keluarganya. Ayahnya memiliki sebuah dayah di daerah tempat tinggalnya. Dulu semasa mondok ayahku adalah murid dari ayahnya Akmal, yang sudah di anggap seperti anaknya sendiri. Lama waktu berlalu, demi meningkatkan tali persaudaraan kami maka kami di jodohkan. Walaupun awalnya kami masih belum saling mengenal namun cinta itu tumbuh dengan berjalannya waktu. Aku dinikahinya pada umur yang masih muda yaitu 17 tahun. Singkat cerita, dua tahun berselang, kebahagiaan kami semakin bertambah dengan kehadiran sang malaikat kecil di tengah-tengah perasaan cinta yang kami bina.
Dia sang bidadari kecil yang begitu cantik jelita, dan sang putri penyejuk hati yang diberi nama oleh Akmal yaitu “ Safinatul Iffah”. Ternyata tanpa disadari setelah aku memliki satu putrid, aku tidak bisa memiliki keturunan lagi. Bukan tak sedih ketika aku mengetahui hal tersebut, namun bisa apa semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Maka dari tersebutlah semua kasih sayang suami dan aku hanya tertuju khusus kepada putri kami ini. Rasanya tidak ada hal sekecil apapun yang kami abaikan dari Iffah karena kami berfikir siapa lagi yang bisa kami manjakan selain dia. Semakin hari Iffah semakin tumbuh besar bak seorang putri dari sang raja dan ratu.
Rasa sayang yang kami curahkan ke Iffah rasanya full hanya untuknya. Apapun yang dia inginkan tidak pernah kami tolak sama sekali. Walaupun begitu Iffah tidak seperti anak lainnya yang menikmati kemanjaan yang di berikan orang tuanya. Bagi kami, Iffah sangatlah berbeda. Ia sangat cerdas, membuat keluarga besar dari Abi dan Uminya sangat bangga terhadapnya. Ia juga memliki IQ yang tinggi, saking gigihnya dia selalu mendapatkan juara dalam setiap perlombaan walaupun bukan juara satu yang didapatkannya, namun dalam juara dia selalu bisa meraihnya. Sering dari kalangan kerabat mengatakan bahwa kami begitu beruntung memiliki seorang putri yang luar biasa.
Menjelang Remaja sang putri kami ini, sudah terselesaikan masa pendidikannya itu di Tsanawiyah dan wakktunya kini ia masuk ke Madrasah Aliyah. Kami memilih tempat melanjutkan pendidikannya Iffah di kalangan pondok Pesantren yang terbaik di kota kami. Kebetulan abinya Iffah seorang ustad dan kakeknya seorang pemimpin dayah jadi kami tau dayah mana yang cocok untuk Iffah menimba ilmu agamanya. Masa-masa Iffah di dayah, ia menjadi anak yang masyhur di dayahnya.
Dia sering mendapatkan juara umum baik di kalangan dayah maupun antar dayah dan semakin membuat harum nama umi dan abinya dan membuat kami semakin bangga dan bahagia dengan putri kesayangan kami. 5 tahun berlalu, Iffah mondok, dan tidak sedikit pula dari kalangan kerabat-kerabat Abuchiknya (kakek) yang sampai ke rumah untuk meminang Iffah. Namun kami merasa belum waktunya Iffah untuk berumah tangga. Kami masih ingin Iffah agar mondok sekitar 3 tahun lagi. Bukannya tidak memikirkan masa depannya, malah kami sudah menyiapkan begitu besar perencanaan masa depan Iffah ketika ia menikah nanti. Kami juga sering berencana agar nanti ketika resepsinya, kami adakan dengan semewah-mewahnya dan juga mengundang seluruh Ahli Family dari kalangan dayah dan para santri dari dayah lain hingga mengundang seluruh masyarakat dalam kawasan kami berada. Bak rasanya ingin sekali membagikan kebahagiaan yang kami miliki dengan orang lain tanpa harus memikirkan dua kali untuk kebahagiaan Iffah.
Hari terus berganti bulan pun ikut berjalan dan tahun pun terlewati, tibalah masanya libur yang di nanti-nantikan yaitu libur panjang. Rasa sang Ibu yang merindukan lama kehadiran riuhnya sang anak di dalam rumah. Sama seperti santri lainnya, Iffah juga pulang ke rumah. Hal yang membuat diriku bahagia adalah bisa bersama kembali bercanda tawa riang dengan Abi juga dan sang putri tercinta. Minggu ke dua Iffah di rumah, awalnya aku merasa aneh dengan Iffah karena kemanjaannya denganku tidak seperti biasanya. Tapi saya abaikan begitu saja karena saya berfikir lama tidak pulang ke kempung halaman mungkin dia terlalu merindukan suasana rumah.
Dalam minggu itu, Iffah sering sekali meminta ku untuk menyuapinya makan, malah dengan abi pun ia sering seperti itu. Magrib jumat kami berjamaah bersama - Iffah aku dan abi- seperti biasa selesai jamaah kami wirid dan zikir, baca yasin dan dilanjutkan dengan shalat insya yang di pimpin oleh Akmal suami tercinta sekaligus ayah yang sangat luar biasa bagi Iffah.
Selesai shalat Iffah meminta ku dan abi untuk menemaninya tidur nantinya. Hal itu membuat aku dan suami saling memandang dengan pandangan aneh, namun kataku pada suami “ah, mungkin dia sangat merindukan kita makanya dia seperti itu” Akmal hanya tersenyum dengan senyuman memahami maksad ku. Malam itu hal tidak biasanya kami tidur bertiga bagaikan keluarga yang begitu bahagia. Terasa hanya kami yang memiliki moment yang indah sekaligus romantis seperti ini.
Subuhnya Iffah membangunkanku dan abinya untuk shalat berjamaah bersama. Selesai salam iffah menyalami abinya dan aku dengan rasa seperti masih mengantuk dan kemudian dia tidur kembali dalam pangkuanku sambil memegang tangan abi. Kelakuan Iffah seperti itu membuat aku dan abi tersenyum bahagia, sambil menunggu jam 6 ku biarkan iffah terlelap di pangkuanku. Kumintakan agar abi untuk membacakan ayat Al-quran agar suasana tidak begitu sepi. 25 menit berlalu ku lihat jam sudah tepat pukul 6 maka niatku untuk menyiapkan sarapan. Ku bangunkan Iffah agar ia tidur di tempat tidurnya saja. Lama ku bangunkan ia yang masih tidur di pangkuan ku ternyata tidak ada respon sama sekali. Dibangunkan kembali oleh abinya, namun sama saja. Perasaan kacau semakin menyentak hatiku. Saat itu aku terasa seperti di sambar petir pada pagi buta dan hati hancur berkeping-keping. Suamiku langsung menggendongkannya dan membawanya ke rumah sakit.
Rasa tak percaya akan hal tersebut bahwa ternyata sang malaikat kecilku yang begitu aku cintai dan sang penyejuk hati pergi begitu cepat meninggalkan umi dan abinya. Air mata berderai terus, aku memeluk anak ku dengan rasa yang begitu kecewa, aku tak tau lagi entah bagaimana kehidupanku tanpanya. Sejam aku pingsan tak sadarkan diri, ketika aku tersadar terlihat bagitu banyak orangg di rumah dan mayatnya Iffah sudah terbaring lemah di hadapan ku. Aku tidak bisa menahan diriku dalam pelukan suami degan penuh kesedihan yang mendalam. Sang suami menenangkan ku hingga sedikit tidaknya aku bersabar melihat mayat anakku dimandikan dan dikafankan hingga dikuburkan. Hari pertama sampai hari ke tujuh aku bagaikan hidup seperti mayat tanpa roh. Aku selalu menangis dan terus menangis. Namun dengan berkat suami dan keluarga, aku semakin bisa menerima kenyataan yang pahit ini.

Memang lama rasanya untuk mengikhlaskan kepergian sang putri tercinta, namun dengan adanya dukungan dari keluarga dan kerabat-kerabat, ku bisa melewati semuanya dengan penuh kesabaran. Kenangan singkat bersamanya takkan pernah terlupakan, hingga doakan selalu terpanjatkan semoga nantinya kami berkumpul di surga Nya Rabb. Amin.

Oleh  Azizah Rustam

Related

Santri 6291188776569579784

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item