umdah

Muharram : Lentera Refleksi dan Sebuah Bingkisan Kejuaraan

Umdah.co Nada waktu terus memproduk sejuta irama, ada dua sikap insan kala itu, yang pertama menyusun nada nada dan kemudian melahirkan ...



Umdah.co Nada waktu terus memproduk sejuta irama, ada dua sikap insan kala itu, yang pertama menyusun nada nada dan kemudian melahirkan irama perjuangan dan yang kedua hanya lambaian tangan semata yang mengisyarahkan kepada penolakan dari menggenggam nada apalagi menyusunnya menjadi melodi melodi perjuangan.

Kini nada baru “Muharram” diberikan lagi kepada kita, ini tanda kasih sayangNya, sebuah priode kebaikan dan perbaikan, sebuah kerang yang didalamnya mungkin ada mutiara !! sebuah waku yang masih tersimpan sejuta rahasia. 
Bagi seorang pemuda islam muharram itu harus luar biasa, bagaimana tidak ?? renungilah sejarahnya, saat Rasul mustafa meniti padang sahara yang kala itu sahabat setia Abu Bakar RA barsamanya, perjalanan menuju sebuah misi Illahi rabbi tentang perkembangan Izzatul Islam (kemulian Islam) dan Umatnya. Semangat inilah yang harus diadopsi oleh santri, semanagt hijrah dari hitam keputih atau mungkin abu abu keputih, senada dengan sabda baginda :  “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Bagi seorang santri menjadi seorang talabul ilmi sangat besar kelebihan, Allah memuji mereka, Nabi SAW perkata bahwa mereka mendapatkan sayap malaikat sebagai tanda ridha saat mereka dalam majliis ilmu, seluruh akifitas yang mereka lakukan memiliki faidah yang besar sebagaimana yang disampaikan oleh Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu , :
 “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).”

Dengan sejuta kelebihan ilmu dan warna warni waktu yang masih dikandung sejuta tanya didalamnya maka perlu ada sebuah kesadaran akan penting refleksi dari masa lalu yang telah terlewatkan, Lentera Refleksi adalah sebuah istilah yang ingin pena  bagikan, itibar lentera adalah sebuh cahaya, dan refleksi adalah semangat perbaikan agar waktu yang dijelang tidak lagi berbuah penyesalan.
Lentera Niat .

Tidaka ada perkara terpenting yang diutamakan kecuali niat sehingga dalam banyak turash masalah ini lebih diutamakan oleh musannif dari pada yang lain. Niat yang menentukan kebersihan dan kehitaman sebuah amalan, sungguh banyak amalan dunia dengan berkat bersihnya niat amal itu menjadi amalan akhirat dan berapa banyak pula amalan akhirat seperti shalat misalnya dengan karena buruknya niat dia menjadi amalan dunia saja, hingga saat hisab tiba kita bertanya dimana shalatku dahulu ??  Nauzzubillah sehinga perkara inilah yang  banyak membuat orang shalih menagis disepanjang malam dan disertai mutiara doa dari baginda “ Ya Allah, Sungguhakumintakepada-Mu ilmu yang manfaat, rizki yang baik, danamal yang diterima.” (HR. Ahmad, IbnuMajah)
Sebagai santri yang  Menyandang status sebagai tentara Allah “begitulah istilah yang dipakai oleh Tgk  Yusuf Jeunib  pada dakwah Muharram  Mudi Mesra 1439 H”  adalah tanggung jawab  yang besar, karena seorang tentara bertugas mempertahan garis teritorial agama, layaknya sebuah benteng yang kokoh, penjaga eksistensi agama pada masa yang akan datang dan akan meneruskan estafet perjuangan para ambiya,  maka sangat dibutuhkan pondasi (Niat) yang kokoh. Lentera niat yang lurus akan melahirkan perbuatan yang cakap disetiap tempat dan keistiqamahan dengan apa yang dijalani, uniknya orang yang mempuanyai niat yang baik hanya karena Allah SWT dia jauh dari tujuan yang semu , fatamorgana pujian, tidak kecewa saat datang timpukan atau bahkan tamparan dari alpa.

Lentera Amal

Mengamalkan ilmu membuat seseorang semakin kokoh dan semangat untuk meraih ilmu lain nya langkahnya pasti karena taufik Rabbi yang selu mengiringi, terbuka baginya gerbang-gerbang ilmu yang belum diketahui.

Sebaliknya ada ancama yang sangat pedih pada orang yang tidak mengamalkan ilmu sebagimna sabda Nabi SAW “ Ada seseorang yang didatangkan pada hari kiamat lantas ia dilemparkan dalam neraka. Usus-ususnya pun terburai di dalam neraka. Lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya.

Lantas penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada yang kebaikan dan yang melarang kami dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri yang mengerjakannya.”  (HR. Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989)
Lentera Semangat.
Didalam beberapa ayat dalam Quran Allah SWT menyeru orang mukimin utnuk selalu semangat dalam kebaikan misalnya : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu, … ” (Ali Imran: 133)
“Berlomba-lombalah kamu …” (al-Hadid: 21)
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, … “ (an-Nasyrah: 7)
Dalam menuntut ilmu semangat atau himmah adalah sesuatu yang timbul dari hati, dia tidak bisa dicipkan dengan memadanya fasilitis buktinya cukup banyak orang yang telah sukses dalam menuntut ilmu  dulunya mereka hidup menjalaninya dengan kekurang fasilitas, tempat tidur yang jauh dari pada kelayakan bahkan rasa lapar sudah mejadi sahabat disetiap waktunya.
Habîb ‘Ahmad bin Hasan Al-Haddâd, Tatsbîtul Fuâd dalam Tatsbîtul Fuâd, juz.1. hal.214 mengatakan: Seseorang yang semangatnya terikat dengan Allâh, maka sesungguhnya ia telah memasuki samudera yang tak bertepi. Ia akan mendapatkan apa yang dicita-citakannya, meskipun cita-citanya teramat tinggi dan tubuhnya lemah. Semangatnya tersebut akan mengantarkannya untuk memperoleh sesuatu yang tidak dapat digapai oleh tubuhnya yang lemah dan kekuatannya yang lemah.

Sebuah bingkisan kejuaraan .
Sangat berkesan dari apa yang Al Mukaram Aba sampaikan pada penutupan Muharram  1439 H, bahwa Juara adalah pemberian Allah dan dia juga sebagai Bais (penyemangat) bagi diri masing masing dan bagi orang lain yang belum berhasil juga, uniknya lagi sekretaris PHBI yang malam itu mengumumkan sang jawara lomba berkata : “Bek harap ek kenoe menyoe dicong bale mantong lale dengan cicak dan beliau juga berkata bek harap ek kenoe meyoe bak lapek kita na nomor hape santriwati”.
Hal yang wajar jika kita mempunyai cita cita juara,  tapi ingat ini bergantung pada usaha, seberapa kuatkah pena cita cita itu menggores pada lembaran batin kita, mungkin pena kita belum terlalu kuat !!  maka hijrahlah dari pada kegagalan lama yang sia sia bila empunya duka meraung disemua masa yang ada, tidak menerima, kecewa dan lainnya.

Wallahualam bissawab..

Related

Peristiwa 5136174195436264393

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item