umdah

Praktik Jual-Beli dalam Ekonomi Islam

                
A. Pendahuluan
Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam. Segala aturan yang diturunkan Allah swt dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.

B. Pembahasan
1. Pengertian jual beli 
Jual beli secara etimologi adalah pertukaran sesuatu dengan lainnya. Sedangkan secara terminologi adalah pertukaran harta dengan harta dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan  syara'. 

Sumber hukum yang menjadi landasan terjadinya jual beli adalah Ayat Al qur'an dan hadis yang telah banyak disebutkan dalam kitab-kitab para ulama terdahulu.

2. Rukun Jual Beli
Rukun Jual beli ada 6 :
1. penjual
2. pembeli
3. barang yang diperjualbelikan
4. alat pembayaran
5. ijab ( pernyataan ridha si penjual)
6. qabul ( pernyataan ridha si pembeli)

3. Syarat ( ketentuan) Jual Beli
a. syarat si penjual dan pembeli
Syarat utama untuk penjual dan pembeli adalah harus taklif (baligh dan berakal), maka tidak sah melakukan transaksi jual beli orang yang belum taklif, seperti anak kecil yang belum baligh, orang gila dan orang yang dipaksa. Islam bagi pembeli, bagi orang yang berencana memiliki hamba sahaya yang muslim atau mushaf, walau satu ayat. Karena tidak boleh non-muslim memiliki hamba sahaya yang muslim dan mushaf, karena syara' menganggapnya sebagai sebuah pelecehan. Sedangkan orang yang tidak berencana melakukan transaksi hamba sahaya yang muslim dan mushaf, maka tidak disyaratkan islam.
b. syarat objek jual beli dan alat pembayaran
Syarat utama untuk objek yang diperjualbelikan dan alat pembayaran adalah sama-sama harus dimiliki oleh si penjual dan pembeli, maksud milik di sini adalah punya kekuasaan pada objek yang diperjualbelikan tersebut, terbenar kepada milik sendiri, wakil dari orang lain, sebagai wali ( seperti ayah dan kakek, wali untuk anak kecil) dan izin dari syara' seperti barang temuan yang ditakutkan akan tidak bisa dipergunakan lagi, kalau tidak segera dijual, seperti makanan yang sudah kadaluarsa. Maka memiliki barang tersebut bukanlah syarat, tetapi punya kekuasaan terhadap barang tersebut yang menjadi syarat. Lalu syarat khusus pada barang yang jadi objek jual beli (mabi') adalah harus yang suci dengan dicuci atau jenisnya, maka tidak sah lah menjual kotoran, khamar dan sejenisnya. Lalu, harus dilihat dengan mata kepala sendiri oleh penjual dan pembeli seandainya objek tersebut berbentuk barang yang muayyan (tertentu, seperti seekor sapi misalnya), selanjutnya objek tersebut, harus sanggup diserahkan kepada pembeli oleh penjual, maka tidak sah lah, menjual hamba sahaya yang telah lari dari pemiliknya.
c. Syarat pada sighat ( Ijab dan Qabul)
Ijab (pernyataan keridhaan si penjual) ) yaitu si penjual mengatakan, “Saya jual barang ini dengan harga sekian”. Dan Qabul (pernyataan keridhaan pembeli) yaitu si pembeli mengatakan, “Saya terima atau saya beli”.  Beberapa syarat terhadap ijab-qabul di antaranya, di saat melakukan ijab-qabul, jangan diselangi oleh perkataan yang tidak berhubungan dengan akad, juga jangan diselangi oleh diam yang panjang dari orang yang menerima. Menurut pendapat yang kuat ukuran diam yang panjang yaitu ukuran yang momotong Qiraat Fatihah dalam shalat, yaitu ukuran yang melebihi berhenti untuk bernafas. Selanjutnya, antara ijab dan qabul harus sesuai maksud, seandainya tidak, maka tidak sah jual beli tersebut. Seperti misalnya si penjual mengatakan: "saya jual dengan barang tersebut dengan harga sejuta rupiah "lalu si pembeli menjawab: "saya terima barang tersebut dengan satu juta dolar " maka tidak sah. Kemudian, tidak boleh dalam akad itu dikaitkan dengan sesuatu, atau diberi waktu kepada jual beli tersebut, seperti: "seandainya si fulan meninggal maka saya jual barang ini kepada engkau dengan harga sekian atau saya jual barang ini kepada engkau dengan harga sekian selama satu bulan" maka tidak sah.
4. Pembahagian jual beli
Jenis jual beli terbagi kepada 4 macam, yaitu:
  1. jual beli yang objek barang yang diperjual belikan,dilihat oleh kedua belah pihak, maka hukumnya boleh, karena tidak ada tipuan padanya.
  2. jual beli yang objeknya dipesan ( salam, dengan segala ketentuannya) oleh si pembeli kepada penjual, apabila sesuai dengan pesanan, maka hukumnya juga boleh.
  3. jual beli objek yang tidak ada pada majelis (tempat melakukan akad jual beli) dan belum pernah dilihat oleh kedua belah pihak, maka tidak boleh. Sebaliknya, kalau barang tersebut tidak ada dalam majelis akad, tetapi sudah pernah dilihat oleh kedua belah pihak, dan pada kebiasaan, barang tesebut dari saat dilihat sampai akad, tidak akan berubah, maka hukumnya boleh.
  4. Jual beli manfaat yaitu sewa menyewa, maka hukumnya boleh, sesuai ketentuan yang ada pada masalah sewa menyewa.
C. Kesimpulan
Jual beli merupakan transaksi yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat, dibandingkan dengan transaksi-transaksi lainnya,  maka sudah sepantasnya transaksi tersebut harus mendapat  legalitas dari syara'. Kenapa? Karena dengan legalitas dari syara', kita akan aman dari permasalahan yang akan timbul di kemudian hari. Seandainyapun ada, maka akan dapat segera diatasi dengan adil dan bijak oleh kedua belah pihak. Wallahua'lam.





Related

Telaah 4587976981091374131

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item