umdah

Kebahagian Yang Tak Ternilai

Sejak seorang insan lahir ke dunia, orang yang paling dekat pertama kali dengannya adalah kedua orang tua, ketika tumbuh besar adalah teman yang akrab dengannya, ketika sudah menikah adalah istri dan anak-anaknya. Insan itu sangat beruntung bila orang yang dekat dengannya menerima kehadirannya. Kedua orang tua tersenyum dan tertawa di saat insan itu lahir ke dunia. Insan itu juga beruntung bila masih ada teman yang bisa menerimanya. Dan yang paling patut disyukuri bila istri dan anak-anaknya menerima insan tersebut sebagai pemimpin dalam keluarga mereka. Di saat insan itu meninggal dunia kebanyakan orang merasa kehilangan dan melinang air mata.

Kebahagian Yang Tak Ternilai
Pernahkah kita bayangkan betapa sedihnya manusia di saat dia tidak diterima oleh kedua orang tuanya sampai dia mengeluarkan kata-kata "peu lon nyo ken anek droneh?"
(apa saya ini bukan anakmu?) "Menyo ken aneuk dron necok parang ne tak kuh" (kalau benar bukan anakmu ambil parang bacok saja aku). Kedua orang tuanya seolah merasa menyesal telah melahirkan anaknya itu sehingga dia dikucilkan dalam keluarga, seolah dia bukan bagian dari keluarga, bahkan seolah dia itu tak pernah ada di sisi orang tuanya.

Pernahkah kita renungkan betapa malangnya nasib seorang manusia di saat teman yang akrab dengannya mengatakan "teulah lon meturi ngeun drokeuh" (menyesal saya berteman denganmu). Insan itu tidak diterima oleh teman sekitarnya. Mungkin ini kadang tidak seberapa sedih karena insan tersebut masih bisa mencari teman yang lainnya.

Pernahkah kita hayati betapa sedih dan malangnya nasib seorang kepala keluarga yang sempat istrinya mengeluarkan kata-kata "pakeun droneuh jeut keu lako lon" (kenapa kamu bisa jadi suami saya). perkataan ini dikeluarkan karena sang istri menyesal insan tersebut yang jadi suaminya dan berharap supaya insan tersebut tak pernah hadir dalam kehidupannya.

Pernahkah kita renungkan dan menghayati betapa berharap nya seseorang supaya dia tidak dilahirkan di dunia ini di saat anak nya mengatakan "pakeun bak droneuh lahe lon" (kenapa kamu yang jadi ayah saya). Anak merasa menyesal karena insan tersebut yang jadi ayahnya, anak itu berharap supaya orang lain saja yang jadi ayahnya,

Maka, selayaknya kita mensyukuri dan memuji sang pencipta karena kita tidak diciptakan jadi orang yang tidak diterima oleh kedua orang tua, orang yang tidak diterima oleh teman dekat, orang yang tidak terima oleh istri dan anak kita. Wallahu 'alam!...








Related

tafakkur 1172061693432188780

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item