umdah

Islam dan krisis Akhlak Liberalis

Islam ,Sebagaimana yang telah kita tahu bersama adalah agama yang membawa kedamaian,islam tidak ketinggalan zaman,tidak mengikuti zaman tapi islam adalah sebagai pengukur sejauh mana zaman itu boleh berkuasa,bertindak dan mengatur. Di zaman sekarang banyak orang mengatasnamakan islam untuk kepentingan pribadi atau berbagai kelompok instansi tertentu, seolah-olah islam itu punya mereka. Mereka bebas mengutarakan pendapat, bebas berijtihad tanpa merasa bersalah,seolah mereka paling pantas.

Salah satu yang membuat beda antara manusia dan hewan adalah akal, kenapa hewan tidak malu menyusui anaknya di tempat umum? Sederhana, karena mereka tidak berakal, sehingga rasa malu terasa biasa saja bagi mereka, Akal yang ada pada manusia membuat manusia terasa lebih, ya lebih, tapi bukan berarti dengan kelebihan itu manusia bisa dengan angkuhnya menyalahi kodrat yang sudah digariskan syara’. Manusia harus sadar dan tahu malu untuk tidak melanggar batas-batas itu, batas yang punya ketentuan khusus, tidak bisa dicapai oleh manusia pada umumnya, seperti mengajukan permohonan beasiswa, bukankah yang lulus saja yang berhak menerima? Bukankah yang memenuh syarat saja yang diterima? Dan bukankah orang-orang terpilih, yang telah benar-benar sanggup menguasai materi yang disyaratkan untuk lulus yang akan mendapat kehormatan itu?

Manusia sekarang pada umumnya tidak tahu malu, tidak tahu diri, merasa pantas padahal tidak, . Sebagai contoh, ada sebuah persepsi dari seseorang yang pernah sekolah ke negeri paling maju di dunia, negeri yang merasa dialah yang paling berkuasa, seseorang itu mengatakan bahwa dalam Al quran tidak dijelaskan bahwa laki-laki harus menikahi perempuan, tapi hanya dijelaskan bahwa menikah itu mencari kebahagiaan, jadi jika perempuan tidak bahagia menikah dengan laki-laki atau sebaliknya, maka mereka dibolehkan menikah dengan yang sejenis. Subhanallah!

Apakah karena dia memakai hijab dari ujung kaki sampai kepala,bergelar Doktor, bertitel Prof, di gadang-gadang sebagai calon menteri yang ideal, lalu dia berani ber-ijtihad dalam Al quran, secara implisit mendakwa dirinya mujtahid mutlaq, selevel imam syafi’i, mengalahkan imam Nawawi yang yang hanya mujtahid fatwa? yang di saat menulis jari-jarinya mengeluarkan cahaya? yang ilmunya diakui di sentero dunia? Ini kejahatan yang luar biasa, seperti pembantu yang punya nafsu besar, disaat majikannya tidak ada di rumah, mengundang orang se-kampung ke rumah majikannya, lalu berlagak dia lah yang punya rumah, dia yang kaya, dia yang punya dan dialah segala-galanya, orang ini merasa pantas, padahal tidak. Dia menyalahi kodrat yang telah ditetapkan padanya, juga tidak pernah bersyukur dengan apa yang sudah dia dapat, bukankah lebh baik menjadi pembantu rumah orang dari pada jadi gelandangan di jalan? Bukankah lebih baik jadi profesor, naik mobil kemana-mana dari pada hanya menjadi pegawai biasa yang naik motor kredit? kenapa mau jadi majikan dengan kebohongan? Dan kenapa mau naik ke taraf Mujtahid mutlaq yang meng-ijtihad hukum dalam Al-quran secara serampangan? Sehingga berefek pada  menyesatkan orang lain? Na’uzubillah.

Islam liberal 

Yang dimaksud Islam Liberal dalam praktek adalah kebebasan dalam menafsirkan ajaran-ajaran Islam agar Islam compatible dengan modernitas, compatible dengan perkembangan zaman. Untuk mencapai tujuan tersebut harus dilakukan penafsiran ulang atas al-Qur”an, tidak boleh mengikuti metode tafsir ulama-ulama terdahulu, menafsirkan al-Qur”an harus dengan cara kontemporer atau modern, bahkan harus membuang jauh-jauh sunnah Rasulullah saw dan menghujat ulama-ulama besar seperti Imam Syafi”i.

Realita yang sedang terjadi dan nyata banyak mujtahid-mujtaahid gadungan, sesat dan menyesatkan yang merasa pantas mengatakan bahwa agama islam atau lebih tepatnya aturan-aturan yang berlaku di dalamnya yang diambil dari kitab-kitab terdahulu sudah tidak relevan dengan perkembangan masa sekarang. Sebagai contoh pernyataan seorang mahasiswa yang mengutip perkataan dosennya, perempuan diharamkan berpergian sendiri (musafir) apabila tidak ditemani mahram, itu wajar, karena dahulu tidak ada kendaraan umum seperti sekarang, sehingga mengancam keselamatan perempuan tadi, tapi untuk zaman sekarang, karena kendaraan umum sudah banyak, maka kita harus berpikir terbuka, yaitu dengan memperluas makna mahram. Mahram tidak hanya bermakna orang yang haram menikah dengan perempuan tadi, tapi mahram di sini bisa diartikan keadaan suatu kendaraan umum yang ramai penumpang, sehingga akan menjamin keselamatan perempuan tadi.

Ya, inilah contoh nyata praktek islam liberal. Padahal kalau dipikir-pikir apakah ramai orang itu bisa menjadi jaminan keselamatan? Apakah yang mengancam itu tidak bisa mengajak teman?, mungkin doktor lulusan luar negeri ini tidak pernah mendengar kisah nabi Ibrahim AS dengan Siti Sarah, di saat ada satu golongan yang ingin mengganggu Siti Sarah, Nabi Ibrahim tidak mengatakan Siti Sarah sebagai istrinya, tapi mengatakan kalau Siti Sarah itu saudaranya, sehingga golongan tadi mundur dan tidak menganggu siti sarah.

Subhanallah! Inilah salah satu kelebihan hikmah mahram dalam safir seorang perempuan, ya sekali lagi, Anda tidak akan pernah bisa mengukur ilmu dan hikmah dari sebuah ketentuan yang sudah di gariskan oleh allah SWT dengan kepala!

Harga diri dan Rasa malu

Harga diri dan rasa malu mungkin merupakan fitrah manusia dalam menjalani kehidupan sosial. Seseorang akan merasa malu bila tidak memakai baju ke tempat kerja, seseorang akan merasa harga dirinya diinjak-injak bila dihina di depan orang banyak, namun itu tidak seberapa karena bukan rasa malu dan harga diri dalam masalah agama. Di mana harga diri mereka yang mau memindahkan makam Rasulullah SAW. Dari mesjid nabawi, karena takut orang-orang yang berziarah ke tempat itu akan syirik dan sesat? Di mana harga diri sebuah negara yang yang mayoritas penduduk muslimnya salah satu yang terbesar di dunia, lalu Mufti-nya seorang perempuan? Yang menghalalkan pernikahan sejenis? yang menghalalkan paham pluralisme antar agama? yang ”mau dan berani bersuara”, yang menjadikan Islam sebagai komunitas yang teduh, dialogis, dan inklusif?

Tidak, sungguh islam bukan milik mereka, negara ini bukan milik mereka, apalagi makam rasulullah SAW. hanya karena ada di tempat mereka. Apa harga diri dan rasa malu mereka yang punya hak, sudah sebegitu tinggi kah levelnya? Sehingga karena tingginya orang-orang biasa tidak bisa merasakan kalau harga diri itu adalah kedhaliman yang harus dikubur dan dibuang jauh-jauh sampai kepada daerah kegelapan di satu tempat di muka bumi ini, tempat yang tidak akan ditemukan oleh manusia, tempat yang tidak ada matahari, bertetangga dengan mata air kehidupan yang pernah dikunjungi nabi khidir? Tidak, jangan menyalahi imam syafi’i yang menulis dalam kitabnya kalau pernikahan sejenis itu haram, jangan mengganggu rasulullah SAW. Karena seluruh dunia dan isinya ada karena beliau.

wallau ‘alam 


Related

Opini 8568893565949292719

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item