umdah

Hukum Meruntuhkan Mesjid

www.umdah.co

Semakin banyaknya masyarakat yang ada di suatu daerah, maka semakin banyak pula jama'ah yang melakukan i'tikaf di masjid pada bulan Ramadhan, padahal masjid yang ada di daerah tersebut begitu kecil, maka atas inisiatif perangkat desa desa tersebut, masjid akan diperluas.

Pertanyaan : " Apa hukum meruntuhkan dan membuat perluasan mesjid ? "

Jawaban:
Menurut ibnu ajil al-yamani hukumnya boleh. Sedangkan Imam Asbahi melarang. Sebahagian pen-syarah Alwasit berpendapat: Boleh, dengan catatan terdorong hajat (keperluan) dan adanya ijtihad dari imam atau orang yang bertempat pada posisi imam.

Kejadian di atas (meruntuhkan mesjid)  pernah terjadi beberapa kali di masjid yang ada di Mekkah dan Madinah pada masa ulama terdahulu termasuk para mujtahid namun tidak ada di antara mereka yang mengingkarinya.

Apabila kita mendapati bentuk bangunan yang berbentuk masjid dan tidak di ketahui apakah bangunan  tersebut di wakaf untuk mesjid atau bukan.

Pertanyaan :
" Apakah bangunan tersebut di hukum kepada masjid?"

Jawaban :
Menurut yang dipahami secara dhahir, bangunan tersebut dikategorikan sebagai masjid, karena beramal dengan dhahir keadaan. Ibnu Hajar al-Haitami melihat sebagian ulama muta'akhirin berfatwa seperti demikian. Tersebut dalam fatawa Ibnu Shilah dalam bab waqaf ''Disebutkan secara frontal (shareh) berlaku hukum masjid." Pendapat ini sama dengan pendapat yang diutarakan Imam Subki, alasannya karena beramal dengan qarinah (tanda-tanda yang memberatkan dihukumkan benda tersebut kepada mesjid, seperti bangunannya). Akan tetapi, hukum ini berlaku jika masyarakat tidak menamakannya sebagai masjid. Namun,  bila masyarakat menamakannya sebagai masjid,   maka jelas dihukumkan sebagai masjid.

Referensi: Fatawa Fiqhiyah Kubra Hal. 263-264

وسئل عن نقض المسجد وتوسيعه هل يجوز فأجاب بقوله جوزه ابن عجيل اليمني ومنعه الأصبحي وقال بعض شراح الوسيط يجوز بشرط أن تدعو الحاجة إليه ويراه الإمام أو من يقوم مقامه فقد فعل في مسجد مكة والمدينة مرارا في زمن العلماء والمجتهدين ولم ينكر على ذلك أحد وسئل عما إذا وجدنا صورة مسجد ولم ندر هل وقف مسجدا أم لا فهل تثبت له أحكام المساجد فأجاب بقوله الظاهر أنه يثبت له ذلك عملا بظاهر الحال ثم رأيت بعض المتأخرين أفتى بذلك وفي فتاوى ابن الصلاح في باب الوقف ما هو صريح في ذلك و جرى عليه السبكي عملا بالقرينة هذا إن لم تستفض تسمية الناس له مسجدا وإلا حكم بكونه مسجدا بلا توقف والكلام في غير مساجد من غير مسجد الخيف فإنه لا يمكن وجود مسجد فيها غيره لأنه يمنع بناء مسجد فيها.

Related

Konsultasi 4782555587873162956

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item