umdah

Hakikat Ahlussunnah wal Jama'ah (ASWAJA)

ASWAJA
Dewasa ini, banyak sekali pemahaman-pemahaman yang mendakwakan dirinya Ahlussunnah wal jamaah (baca; Aswaja), karena hanya golongan ini yang akan masuk surga, dan yang lain (72 golongan) akan masuk neraka. Berangkat dari sini, Ahlussunnah wal jama'ah adalah salah satu aliran utama dan mayoritas dalam Islam. Golongan lain seperti Wahabi Salafi, Hizbut Tahrir, Ahlul Hadits, dll atau organisasi massa (ormas) seperti NU (Nahdlatul Ulama), Muhammadiyah, Al-Irsyad, dll, mereka semua berlomba-lomba menjadi satu-satunya golongan tersebut dan mendakwa dirinyalah yang paling dekat dengan kriteria yang dimaksud oleh  Rasulullah SAW dalam sebuah hadis: “Bahwa golongan yang selamat dan akan masuk surga (al-Firqah an Najiyah) adalah golongan yang mengikuti apa-apa yang aku (Rasulullah SAW) kerjakan bersama sahabat-sahabatku" . Namun terlepas dari ikatan sebuah golongan, siapakah sebenarnya ahlussunnah waljamaah tersebut?

 Sejarah Penamaan

Semua di mulai dari abad-abad permulaan, yaitu di masa ke-khalifahan Ali bin Abi Thalib, hingga sampai sekarang terdapat banyak firqah (golongan) dalam masalah aqidah yang saling bertentangan di antara satu sama lain. Ini fakta yang tidak dapat dibantah. Bahkan dengan tegas dan jelas Rasulullah telah menjelaskan bahawa umatnya akan berpecah menjadi 73 golongan. Dalam sebuah hadis sahih riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim, Rasulullah SAW Bersabda :

افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة، وافترقت النصارى على اثنتين وسبعين فرقة، وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة، قيل: من هي يا رسول الله؟ قال: من كان على مثل ما أنا عليه وأصحابي. وفي بعض الروايات: هي الجماعة

Artinya: UmatYahudimenjadi 71 golongan. Nasraniterpecahmenjadi 72 kelompok.Umatini (Islam) akanterpecahmenjadi 73 golongan. Semuanya di nerakakecuali 1 (satu) golongan (yang selamat).Nabi ditanya, "SiapadiayaRasulullah?" Nabimenjawab,"Yaitu golongan yang sepertiaku dan para Sahabatku."Dalam sebagian riwayat, "Diaadalah jamaah."

Pemahaman yang Aswaja
Berpijak dari hadis nabi tentang hal tersebut, Imam Ghazali menjelaskan dalam karangan fenomenal beliau, Ihya Ulumuddin, bahwa Aswaja adalah yang bermazhab salah satu dari Syafi’i, maliki, hanbali dan hanafi di bidang figh, bermazhab Imam Abi Hasan Asy’ari atau Abi Mansur Al-maturidi di bidang i’tikad(tauhid), itulah tafsiran dari hadis tersebut. Hal tersebut, sekaligus menampik tafsiran-tafsiran tentang Aswaja yang beraneka ragam, terlepas NU-kah, Sunni-kah, Muhammadiah-kah, selama Seseorang masih berpegang pada mazhab yang telah di sebutkan di atas, maka tanpa keraguan dia digolongkan kepada Aswaja, satu-satunya golongan yang menurut nabi SAW akan masuk surga di hari kiamat, nantinya.

Di Indonesia, khususnya Aceh, mayoritasnya bahkan hampir seluruhnya bermazhab Imam Syafi’i di bidang fiqh dan bermazhab Imam Aay’ari di bidang tauhid. Pertama sekali yang di wajibkan kepada seseorang manusia di saat dia taklif (baligh dan berakal) adalah mengenal apa saja yang wajib bagi Allah, yang mustahil dan yang harus, begitu juga dengan rasul.

Wajib (dengan makna berdosa meninggalkannya) pada syara’, kepada setiap mukallaf untuk me-ma’rifah sifat yang wajib (tidak di terima akal ketiadaannya) bagi Allah ta’ala ,sifat yang mustahil ( tidak diterima akal adanya) dan sifat yang jaiz( di terima akal ada dan tiadanya). Jadi yang pertama sekali harus di lakukan seorang mukmin untuk bisa dikategorikan kepada beriman adalah ma’rifah, yaitu jazam (keyakinan) yang sesuai dengan waqi’( kejadian yang sebenarnya) disertai dengan dalil. Tidak boleh Taqlid, yaitu jazam pada akidah-akidah tauhid sesuai dengan kejadian yang sebenarnya tanpa di sertai dengan dalil, kepada mesti ma’rifah, tidak boleh taqlid, berpendapat oleh Jumhur Ulama (Ulama Mutakallimin, Fuqaha’, hadis). Maksud tidak boleh taqlid menurut mereka, bukan berarti orang yang taqlid tersebut tidak sah keimanannya, tetapi diantara mereka, terjadi perbedaan pendapat, menurut satu golongan orang yang taqlid mukmin, tetapi berdosa dengan sebab meninggalkan nadhar(melakukan penelitian) ma’rifah. Satu golongan lagi berpendapat bahwa orang yang taqlid meninggalkan ma’rifah tidak berdosa sama sekali, ada juga yang mengaitkan dosa kalau memang orang tersebut pakar melakukan ma’rifah, maka dia berdosa. Sedangkan golongan yang berpendapat tidak boleh taqlid, dan di hukumkan kafir kepada orang taqlid ersebut adalah pendapat yang keempat, pendapat tersebut di utarakan oleh abi hasyim dari golongan mu’tazilah( Hud-hudi/43) Ulama dari golongan Aswaja yang menyatakan kafir orang yang taqlid adalah imam sanusi( Hasyiyah Tahqiqul maqam ‘ala kifayatul awam/18). Perbedaannya di akhirat kalau menurut mu’tazilah orang yang taqlid akan di letakkan di satu tempat diantara dua tempat atau di istilahkan dengan manzilatin baina manzilataini( Hasyiyah Dusuqi/55), maksud mereka, orang tersebut kekal azab dalam neraka, tetapi bukan azab kafir, sama seperti orang mukmin yang maksiat, menurut Ulama Aswaja, seperti azab orang kafir dan kekal dalam api neraka. pendapat yang kuat pada masalah taqlid adalah boleh, di tambah lagi berdosa bagi orang yang pakar melakukan ma’rifah, sedangkan yang bukan pakar, maka tidak berdosa sama sekali.

Pendapat yang mengatakan kalau orang yang taqlid adalah kafir, adalah pendapat yang lemah, karena hal tersebut bisa mengkafirkan sebahagian besar ummat islam, dan hal tersebut merupakan hal yang tidak baik, karena  nabi Muhammad SAW, merupakan nabi dengan jumlah pengikut paling banyak, berdasarkan sebuah hadis:” bahwa sesungguhnya 2/3 ahli syurga kelak adalah ummat nabi SAW’’. Imam Sanusi memberikan tanggapan terhadap klaim tersebut, menurut beliau dalam dalam kitap syarhi syughra, dalil yang wajib di ma’rifah oleh setiap orang adalah dalil ijmali, maka tidak ada keraguan sedikitpun bahwa hal tersebut bisa dijangkau oleh sebagian besar ummat manusia sebelum akhir zaman. Maka tidak disyaratkan me-ma’rifah seperti yang dilakukan oleh ulama-ulama mutakallimin, menyusunnya, menolak syubhat yang ada pada dalil tersebut, bahkan tidak disyaratkan pula untuk bisa menjelaskan dengan lisan terhadap apa yang di i’tikadnya tentang dalil ijmali tersebut. Pernyataan Imam sanusi tersebut bertentangan dengan pendapat sebahagian besar ulama yang menyatakan kafir orang yang taqlid, yaitu dalil yang harus di ma’rifah setiap orang adalah dalil tafsili( Hasyiyah tahqiqul maqam ‘ala kifayatil awam).

Kenapa harus Bemazhab dengan salah satu dari Asy’ari atau maturidi ? karena kita belum sampai kepada tingkatan Mujtahid, yang bisa langsung menganalisa dan menggali hukum langsung dari Al quran dan hadis, sama seperti di masalah figh taqlid kepada Imam Syafi’i, jadi kepada orang yang pakar melakukan ma’rifah yang tidak ber-taqlid, harus dengan ma’rifah yang sesuai dengan ketentuan Mazhab Asy’ari atau Maturidi, apalagi kalau taqlid.
Meskipun taqlid itu boleh, tetap saja ma’rifah dengan jalan tafsili wajib, dengan jalan kifayah, kepada setiap satu daerah, ukuran satu daerah disini Musafah qasar, maksudnya jarak yang seandainya kita melakukan Musafir(bepergian) kita bisa melakukan qasar(pemendekan) sholat, yaitu sekitar 138,24 km, menurut satu pendapat( Syarqawi ‘alal hud-hudi).

Perbedaan dalil Tafsili dan Ijmali
Dalil Tafsili adalah dimana seseorang dengan berpegang pada dalil tersebut sanggup untuk menjelaskan bagaimana sebuah dalil mengarah/tertuju kepada maksud(tujuan) atau sanggup menolak/membedakan syubhat( kesamaan) di antara dalil-dalil tersebut, sehingga sanggup untuk membedakan sebuah dalil yang secara ekplisit cocok dan sangat pantas kepada sebuah hukum, padahal sebenarnya dalil itu bukan untuk hukum tersebut, dan sanggup untuk menjawab semua debatan yang datang kepada daliltersebut. Sedangkan dalil Ijmali adalah tidak sanggup melakukan satu atau semua hal yang telah di sebutkan( Tahqiqul kalam ‘ala kifayatil awam/15).

Ma’rifah dan yang mewajibkannya
Ma’rifah adalah keyakinan tentang sesuatu sesuai dengan yang sebenarnya di sertai dengan dalil. Sedangkan Taqlid adalah Keyakinan tentang sesuatu sesuai dengan yang sebenarnya tanpa di sertai dengan dalil. Tentang hukum wajibnya ma’rifah, tidak boleh taqlid, terjadi perbedaan pendapat diantara ulama tentang hukum tersebut, apakah hukum yang mewajibkan tersebut adalah hukum akal (pikiran/logika)? atau syara’( yang datang dari Allah dan Rasul)? mereka semua sepakat kalau hukum tersebut datang dari Allah SWT, Cuma perbedaannya, hukum tersebut sebut dengan apa? Ulama dari Mazhab Asy’ari berpendapat kalau hukum tersebut yang mewajibkan yaitu Syara’, seandainya Rasul tidak di utuskan maka kewajiban tersebut tidak akan ada, karena akal sendiri tidak akan sanggup untuk menemukan hukum tersebut tanpa ada Syara’, akal hanya mengikuti apa yang di tentukan syara’. Sedangkan Ulama dari Mazhab Maturidi, berpendapat kalau Hukum apa saja sebut dengan Syara’ kecuali Ma’rifah, karena ma’rifah sebut dengan akal, kenapa? karena ma’rifah itu jelas dan bisa di temukan oleh akal, dan terakhir pendapat dari golongan Mu’tazilah, mereka mengatakan kalau hukum tersebut sebut dengan akal, kenapa? karena akal punya kekuatan untuk membedakan antara yang baik dan buruk, kedatangan seorang Rasul hanya menguatkan apa yang sudah ditemukan akal. Dari ketiganya pendapat yang kuat dan paling benar adalah yang diutarakan oleh Ulama Asya’irah(Tahqiqul awam ‘ala kifayatul awam).

KESIMPULAN
Aswaja adalah ummat yang di janjikan nabi akan masuk surga, semua golongan berlomba-lomba untuk bisa menyandangnya. Namun, siapakah Mereka yang sebenarnya? Dengan segala perbedaan pendapat antara wajib ma’rifah, boleh dan tidaknya taqlid, Ulama-ulama terdahulu, melalui tulisan-tulisan mereka, seperti Imam Ghazali misalnya yang keilmuan dan karangannya diterima di seluruh dunia, dalam Ihya Ulumuddin , Ibnu Hajar Al-haitami dalam Tathhiru al-Jinan wa al-Lisan, , sepakat tentang satu ketentuan tentang pemahaman Aswaja, yaitu , Bermazhab kepada salah satu dari Mazhab Asya’irah atau Maturidiah di bidang Ketauhidan dan Bermazhab dengan salah satu dari Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanbaliyyah dan Hanafiah di bidang figh, wallahu a’lam.









Related

Telaah 6288294003499249832

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item