umdah

Tafakkur | Pemimpin

Setiap manusia adalah pemimpin, baik pemimpin terhadap dirinya maupun terhadap orang lain. Suami adalah pemimpin bagi isteri dan keluargan...

Setiap manusia adalah pemimpin, baik pemimpin terhadap dirinya maupun terhadap orang lain. Suami adalah pemimpin bagi isteri dan keluarganya, gebernur adalah pemimpin bagi rakyatnya dalam suatu provinsi, dan presiden adalah pemimpin bagi rakyatnya dalam suatu negeri.

Semakin besar rakyat yang kita pimpin semakin besar pula tanggungjawab yang harus kita pikul. Abdullah bin Abdul Aziz pernah menasehati khalifah Harun ar-Rasyid mengenai hal ini. Abdullah berkata: “Lihatlah ke arah ka’bah itu!, berapa jumlah orang yang engkau lihat?, dan berapa orang yang seperti mereka?” “Hanya Allah yang tahu,” jawab Khalifah. “Ketahuilah engkau wahai Khalifah bahawa setiap mereka itu hanya akan ditanya pada hari kiamat tentang diri mereka saja, sedangkan engkau akan ditanya tentang mereka semua. Maka berhati hatilah engkau tentang nasib engkau nanti.” Mendengar pernyataan itu, Khalifah Harun ar-Rasyid terduduk dan menangis mengenangkan masa depan beliua di akhirat kelak.

Kewajiban pemimpin antara lain mengayomi rakyatnya, berbuat adil terhadap mereka, serta mencegah terjadinya kemungkaran di muka bumi ini. Dan setiap kewajiban harus dipertanggung-jawabkan di hadapan sang pencipta di hari kelak.

Adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Hak pemimpin boleh dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, tapi hak rakyat tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pemimpin. Saidina Umar Ra. Tidak mengambil dana dari kas negara untuk mengganti pakaian anaknya yang penuh tambalan. Padahal saat itu beliau boleh mengambilnya dan menggantinya di kemudian hari, tapi saidina Umar merenungkan bahwa ajal bisa mendatangi beliau sebelum hutang terbayarkan.

Menegakkan Amar ma’ruf Nahi Mungkar juga tugas utama pemimpin. Membiarkan kemungkaran merajalela adalah dosa, karena hakikatnya pemimpin mampu menegah kemungkaran itu, karena pemimpin punya kekuatan, punya pelindung, dan punya prajurit yang bisa diperintahkan untak melawan kemungkaran tersebut. Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangan (kekuatan), apabila tidak mampu, hendaklah ia merubahnya dengan lidah, apabila tidak mampu juga, hendaklah ia merubahnya dengan hati.”

Ulama berkewajiban menyampaikan dengan lisan apa saja yang termasuk kemungkaran di negeri ini. Orang awam yang tidak punya kekuatan hanya berkewajiban membenci kemungkaran dengan hatinya. Sedangkan pemimpin wajib merobah kemungkaran yang nampak di daerah kekuasaannya dengan kekuatan yang ia miliki. Pemimpin harus bertanggung jawab atas tempat – tempat wisata maksiat dan tempat – tempat perzinaan dalam daerah kekuasaanya.

Allahumma Ihdinash Shirathal Mustaqim...!

Oleh: Teungku Wali al-Madadi

Related

tafakkur 3369939576038145148

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item