umdah

Taruhan Bola = Judi

World Cup 2014 yang sedang diadakan di Brazil banyak menyita perhatian masyarakat, tidak terkecuali umat islam. Semangat yang ditimbulka...

World Cup 2014 yang sedang diadakan di Brazil banyak menyita perhatian masyarakat, tidak terkecuali umat islam. Semangat yang ditimbulkan oleh event akbar ini juga bukan main-main, banyak manusia yang rela meluangkan waktu istirahat malamnya hanya untuk menyaksikan tim-tim favoritnya berlaga, baik dia benar-benar pecinta sepak bola atau cuma ikut-ikutan semata.

Sebagaimana kita ketahui dengan adanya World Cup 2014 banyak orang melakukan taruhan, apalagi kalau pertandingan itu antara kesebelasan yang dianggap favorit untuk dijagokan. Dalam kesempatan ini, kami ingin menjelaskan bagaimana hukumnya bila kita ikut-ikutan taruhan?

Sebagian orang memberikan argumentasi bahwa mereka tidak melakukan taruhan/perjudian, tapi hanya ikut-ikutan menyemarakkan World Cup 2014. Juga mereka beranggapan bahwa jumlah taruhannya tidak seberapa kalau nilainya dihitung dengan uang. Contohnya seperti kalau pihak yang kalah harus membelikan makanan buat pihak yang menang, ada yang berdalih "kita nggak cari untung kok..., kita khan nggak ngincar uangnya...hanya ikut2an semangat aja...."

 Islam melarang perjudian, atau menurut istilah al-Qur'an disebut "maysir" dan "qimar" . Keduanya adalah bentuk perjudian. Dalam ayat 90-91 surah al-Maidah dijelaskan bahwa maysir termasuk "rijsun" artinya perbuatan yang tercela dan hina dan termasuk perbuatan Syaithan. Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa syaithan memanfaatkan perjudian untuk menyulut api permusuhan dan kedengkian dalam hati manusia dan agar mereka lupa dan terlena dari mengingat Allah. Demikian juga dalam surah al-Baqarah ayat 219, bahwa maysir termasuk perbuatan yang di satu sisi mengandung manfaat, namun di sisi lain mengundang kerusakan dan madlarat yang lebih besar dari pada manfaatnya.

Perjudian didefinisikan sebagai transaksi yang mengandung unsur spekulasi yang bisa menguntungkan salah satu pihak dan merugikan yang lainnya.

Islam memperbolehkan perlombaan, atau yang disebut "musabaqah"/kompetisi dengan cara-cara yang benar dan islami. Kompetisi bisa berupa balapan kuda atau menembak atau lomba lari dan jenis ketangkasan lainnya. Dalam hadist yang Abu Hurairah "Rasulullah mengizinkan pacuan kuda dan juga melakukannya (Hadist yang menceritakan pacaun kuda ini diriwayatkan oleh Ahmad, ABu Dawud dan Ibnu Majah ). Hadist serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar (H.R. AHmad).
Para ulama melihat bahwa kompetisi yang diperbolehkan adalah yang mengandung unsur mendidik atau melatih ketangkasan dan sesuai dengan etika-etika agama, adapun kompetisi yang tidak mempunyai unsur mendidik dan peningkatan ketangkasan atau yang banyak menampilkan unsur ma'siat, maka ini termasuk yang dilarang agama, seperti kompetisi yang membuka aurat dan lain sebagainya.

Ulama meletakkan ketentuan dimana kompetisi diperbolehkan yaitu sbb :

  1. Hadiah diberikan oleh pihak selain peserta kompetisi, misalnya pihak penyelenggara. Imam Malik melihat bahwa hanya dengan cara ini kompetisi atau pertandingan diperbolehkan.
  2. Hadiah disediakan salah satu peserta, juga diperbolehkan asalkan peserta yang lain tidak ikut iuran memberikan hadiah. Misalnya dilakukan oleh dua orang, salah satunya adalah penyedia hadiah, bila peserta lainya menang maka hadiah untuknya sedangkan bila kalah, ia tidak harus membayar apapun kepada pemenang.
  3. Hadiah disediakan oleh lebih dari satu peserta, misalnya dua orang peserta, namun di sini harus mengikut sertakan peserta lain dan hadiah akan diberikan kepada peserta pemenang. Apabila penyedia hadiah memenangkan pertandingan maka ia berhak mendapatkan hadiah dan peserta lain (ketiga) tidak boleh membayar apapun.
Taruhan dalam menonton sepak bola tidak termasuk dalam perlombaan yang memenuhi kriteria yang diperbolehkan syariah. Taruhan tidak ubahnya perjudian, karena para peserta memberikan uang, lalu menggantungkan kepada nasib dan kejadian yang belum jelas, bila pilihannya tepat ia akan mendapatkan uang rivalnya dan bila pilihannya meleset, uangnya akan diambil oleh rivalnya. Inilah bentuk perjudian yang dilakukan oleh bangsa Arab saat diturunkan ayat al-Qur'an di atas. Meskipun taruhan itu tidak berbentuk uang, misalnya dengan mentraktir lawannya, ini juga tidak jauh berbeda dengan apabila menggunakan uang.

Dalam hukum negara pun judi merupakan hal yang terlarang dan ada hukumannya bahkan untuk judi online, Di Indonesia terdapat beberapa peraturan yang mengatur mengenai perjudian, seperti Pasal 303 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) dan untuk perjudian online diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”).
Pasal 303 bis ayat (1) KUHP, berbunyi:

“(1) Diancam dengan kurungan paling lama empat tahun atau denda paling banyak sepuluh juta rupiah:

ke-1 barangsiapa menggunakan kesempatan untuk main judi, yang diadakan dengan melanggar ketentuan – ketentuan tersebut pasal 303;

ke-2 barangsiapa ikut serta permainan judi yang diadakan di jalan umum atau di pinggirnya maupun di tempat yang dapat dimasuki oleh khalayak umum, kecuali jika untuk mengadakan itu, ada izin dari penguasa yang berwenang.”

Sementara dalam UU ITE, pengaturan mengenai perjudian dalam dunia siber diatur dalam Pasal 27, yang berbunyi:
 “Setiap orang sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan, atau membuat dapat diaksesnya Informasi atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.”

Ancaman pidana dari pasal di atas yakni disebutkan dalam Pasal 45 UU ITE yaitu pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 1 miliar. Sehubungan dengan pertanyaan yang Anda ajukan, maka dapat dijelaskan bahwa ancaman hukuman maksimal yang dapat diterima oleh saudara Anda adalah 6 (enam) tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.

Nah sudah tau kan hukumnya judi bola, Kalau kita dilarang melakukan sesuatu oleh agama, kita harus meninggalkannya secara keseluruhan baik besar maupun kecil. Kita dilarang mencuri, apakah kita boleh mencuri uang yang jumlahnya sedikit? Kita dilarang minum minuman memabukkan, tentu banyak maupun sedikit yang kita tenggak tetap diharamkan. Terkadang karena biasa melakukan dosa kecil, kita menjadi ringan hati untuk melakukan dosa yang lebih besar dan seterusnya.

Menjadi fans sepakbola dan menikmatinya tidak harus melalui tatacara yang salah, dilarang agama atau malah menjerumuskan diri kepada hal-hal yang negatif. Disana juga banyak nilai positif yang bisa kita petik kalau kita menghendakinya, seperti pentingnya kesehatan, sportifitas, kejujuran dan keuletan, do'a, disiplin serta manajemen waktu yang baik. Itu semua nilai-nilai Islami yang terkadang kita lupakan pada saat kita menonton sepak bola, sehingga tidak sedikit dari saudara-saudara kita yang lebih senang mengambil nilai negatifnya.

Mari kita renungkan seruan ayat suci yang menggugah hati kita yang sering lengah, "Fastabiq-ul Khairaat" "Berlomba-lomba lah dalam kebaikan".

Wallahu a`lam 

Related

Life Style 137329340959207026

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item