umdah

Potret Siswa yang Nekat Ke Sekolah dan Siswa yang Hura-hura

Bagi sebagian orang pergi ke sekolah itu hal yang biasa dan cenderung menyenangkan. Namun bagi sebagian yang lain, pergi ke sekolah tak ubahnya pergi ke medan perang, yaitu dengan mempertaruhkan nyawa. Itulah yang terjadi di beberapa daerah yang akan kami tampilkan di bawah ini. Potret ini kami hadirkan sebagai pertimbangan dan renungan bagi kita mengigat ulah sebagian anak-anak sekolah di sekitar kita dalam beberapa hari ini yang begitu menggemaskan dan memalukan. Mereka menyia-nyiakan harapan dan kesempatan, padahal di saat yang sama ada ribuan anak-anak yang seusia mereka sedang menggadaikan nyawanya untuk bisa bersekolah.

Mari kita lihat bagaimana antusiasnya para siswa di beberapa tempat di Indonesia dan Dunia.

1. INDONESIA

Desa Batu Busuk Ke Padang

Anak-anak desa Batu busuk hrus bergelantungan untuk menyeberangi sungai agar mereka sampai di sekolahnya yang ada di padang. Mereka Sudah melakukan kegiatan seperti ini selama 2 TAHUN sejak jembatan rusak akibat hujan deras.

Berikut Foto-fotonya



Desa Sanghiang Tanjung

Anak-anak desa sanghiang tanjung harus melewati sungai dengan menggunkan jembatan yang sudah collapsed. Sebenarnya ada alternatif rute, dengan menambah waktu 30 menit, hanya saja anak-anak lebih memilih menyebrang sungai dengan jembatan yang kondisinya sudah hancur tersebut. Jembatan ini hancur karena banjir pada januari 2012.
Beruntung Perusahaan Produsen Tembaga Negara Membuat Jembatan Baru untuk mereka.

Berikut foto-fotonya:



Desa Suro Ke Desa Pelempungan

Anak-anak di dua desa tersebut, jika ingin menyebranga maka harus menggunakan jembatan yang bahkan hanya tinggal tersisa papan panjang seadanya. Mereka memilih rute ini karena jika rute lain mereka harus menambah jarak sekitar 6 KM.




2. VIETNAM

Anak-anak Filipina setidaknya memiliki ban bekas. Siswa Vietnam ini yang tidak begitu beruntung. Puluhan anak-anak dari kelas 1 sampai kelas 5 berenang dua kali sehari di seberang sungai untuk sampai ke sekolah di Trong Hoa komune, distrik Minh Hoa. Untuk menjaga pakaian dan buku-buku dari basah, para siswa menempatkan benda-benda tersebut dalam kantong plastik besar dan tertutup rapat saat melintasi sungai, sedangkan mereka hampir telanjang saat melewati sungai. kantong plastik ini juga digunakan untuk menjaga mereka mengapung saat berenang melewati sungai. Setelah mencapai sisi lain dari sungai, mereka mengambil pakaian mekmakainya kembali. Sungai lebar 15 meter dan kedalamannya 20 meter.


3. NEPAL

Jika kita lihat di nepal orang naik turun gunung dengan menggunakan gondola yang nyaman. namun ternyata ada anak-anak Nepal yang harus melewati sungai dengan menggunakan tali dan papan yang telah dimodivikasi. Selama beberapa dekade, kurangnya keamanan menyebabkan banyak terjadi kecelakaan. Beruntung beberapa CSR perusahaan uangnya digunakaan untuk membangun jembatan gondolan untuk mencegah kecelakan lebih lanjut.


4. COLUMBIA

Di Columbia, anak-anak dari beberapa keluarga yang tinggal di hutan hujan, 40 km sebelah tenggara dari ibukota Bogota, bolak-balik menggunakan kabel baja yang menghubungkan satu sisi lembah yang lain. Ini adalah satu-satunya cara untuk mencapai sekolah. Kabel baja 800 meter menggantung 400m di atas deruan sungai Rio Negro.
Fotografer Christoph Otto mendapatkan gambar Daisy Mora bersama adiknya Jamid sedang melewati lembah dengan kecepatan 50 mil perjam.
Dia meletakkan adiknya di dalam karung dan bergelantungan dengan katrol pada kabel baja untuk melewati lembah. Dia mengerem dengan sebuah benda mirip seperti penjepit.


5. PALESTINA

Peperangan yang tiada usai antara Palestina dan Israel memebawa cerita tersendiri bagi anak-anak disana. Dalam sebuah foto, anak peremppuan harus melewati barisan pendemo dari palestina dan tentara untuk pergi ke sekolah.


6. TIONGKOK

Desa Genguan ke Bijie, Di Selatan Provinsi Guizhou

Bagi anak-anak desa Genguan, perjalanan menuju sekolahnya di SD Banpo (Bijie) itu perjalanan yang biasa, tapi bagi kita yang melihat sangat mengerkan. Mereka harus berjalan 2 jam melewati tebing sangat curam, dengan jalan setapak yang hanya memiliki lebar 0.5 meter dan terbentuk dari saluran irigasi yang sudah berumur 40 tahun. Berikut foto-fotonya


Pili ke Xinjiang

Sektar 80 anak-anak harus melewati gunung yang sanagat berbahaya untuk bersekolah. jarak Antara Pili ke Xinjiang sekitar 125 mil. Belum lagi mereka harus melewati sungai yang dingin . Perjalanan sendiri memakan waktu 2 hari. Untungnya mereka didampingi oleh tentara dan orang dewasa lain.



BANDINGKAN DENGAN HAL-HAL DI BAWAH INI !




Apakah itu sebagai ungkapan rasa syukur mereka ? Dengan membuat ulah yang sangat menjijikkan dan melanggar norma-norma ? Atau dengan menjadikan penjual kondom kaya mendadak dalam dua hari ?

Mereka mungkin masih anak-anak dan remaja, tapi apakah gurunya juga masih anak-anak ? Seingat kami dulu ketika belajar di SMA, guru lah yang sangat berperan aktif dalam mencegah hal itu terjadi. Kami diancam akan diberikan sanksi yang berat bila hal itu dilakukan. Terbukti hal itu berhasil dan bisa meredam keinginan kami untuk melakukan hal yang tidak-tidak.

Related

Remaja 6468995097264081090

Posting Komentar Default Comments

  1. Segalanya kembali kepada orang tua dan guru. Mungkin orang tua dan gurunya juga demikian ketika sekolah dulu. Klop deh murid, guru dan orang tua.

    BalasHapus
  2. beutoi tgk,,

    luar biasa semangat mereka..

    BalasHapus

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item