umdah

Ketika Fitri Bertasbih, Bagian II

“Fitri ingin kuliah di kedokteran Nda, Fitri tidak suka ke pesantren.” Kata Fitri kepada Bundanya.
“Iya nak, bunda paham. Tapi ini pinta Abimu, Fitri harus ke pesantren. Kalau bunda setuju aja Fitri kuliah di kedokteran” kata bunda Fitri memberi penjelasan.

Bagi yangmengenal Fitri tidak akan heran bila dia tidak mau ke pesantren. Karena sejak sekolah dia sudah suka hal-hal yang berbentuk angka dan rumus-rumus ketimbang hadits-hadits dan ayat-ayat. Tapi betapun sukanya kepada ilmu science semisal kedokteran, tidak akan membutakan hatinya untuk membenci ilmu agama. Darah lebih kental dari air. Dia berdarah pesantren tulen, ayahnya seorang pimpinan pesantren. Ibunya juga pernah “masak” di pesantren beberapa tahun sebelum menikah dengan Abinya. Dia hanya terlalu suka kepada ilmu science, itu saja. Apakah dia salah ?

Apakah anak seorang pimpinan pesantren harus ke dayah ?

Walaupun pintar, Fitri belum bisa mengambil kesimpulan dari pertanyaan ini.

“Nanti bunda tanyakan sekali lagi ke Abi, siapa tahu dia mau meluluskan niat Fitri itu” kata bundanya sambil menatap anaknya penuh cinta kasih.

Fitri tahu, bundanya juga ingin dia ke pesantren. Tapi cintanya kepada anak perempuannya melebihi apapun di dunia ini sehingga membuat bundanya agak sedikit longgar kepadanya. Siapakah yang bisa menyalahkan perasaan seorang ibu ini ? hal ini bisa didapati di setiap rumah, di Negara dan benua apapun. Mungkin di rumahmu juga.

“Bunda… abi tahu Fitri tidak suka ke pesantren, tapi apakah kita harus menuruti dia ? Abi juga tidak akan terlalu memaksa bila keadaan tidak seperti ini. Lihatlah apa yang terjadi dengan mahasiswa sekarang ini. Kebebasan… bebas segala-galanya. Apalagi kedokteran ? kadang-kadang mereka dituntut untuk berduaan dengan yang bukan mahram, bunda mau Fitri seperti itu ?” Abi Muhammad menjelaskan alasannya panjang lebar kepada istrinya.

“Jadi harus bagaimana ini, dia tidak mau. Apa perlu kita paksa ? kasihan juga kan!”
“Hmmm… begini saja, coba tanyakan. Kalau tidak ke Samalanga, apakah dia mau ke pesantren yang lain. Siapa tahu saja ke Samalanga yang dia tidak mau” kata Abi, nampaknya abi sudah menemukan sedikit ide untuk menghadapi situasi anaknya.

“Memangnya kalau tidak ke Samalanga, abi mau bawa dia ke mana ?” Tanya bunda penasaran.
“Ada ratusan pesantren hebat di Indonesia ini, kenapa bingung untuk memilih salah satu buatnya ?”
“Iya, tapi kalau dia tidak ke Samalanga, apakah tidak merugikan dia ?”
“Tanyakan saja dulu, bunda jangan berpikir pesantren lain itu hanya mengajari awamel. Dayah bukan di Samalanga saja.”
“Bukan, Bunda hanya ingin Fitri alim seperti ayahnya dan dapat suami hebat seperti ibunya.” Kata bunda sambil mengerling mesra ke arah suaminya. Mendengar itu, Abi hanya tersenyum. Tidak sedikitpun kebanggaan tampak di wajahnya.

“… di rumah ini memang abi nomor satu.”

Setelah tamat dari SMA, dia selalu gelisah bila mengingat orang tuanya akan memintanya belajar di pesantren. Dia tahu, orang tuanya bukan tipe orang tua yang memaksakan kehendak, tapi dalam hal agama ayahnya bisa lebih galak dari harimau Sumatra. Dia hanya bisa berharap, bundanya bisa membujuk abinya untuk membatalkan “fatwa”nya ke pesantren. Seorang Ibu biasanya selalu menjadi mediator bagi anaknya.

“Bagaimana nda…” Tanya Fitri keesokan harinya.
“Kamu ada harapan… ” ucap bundanya dengan wajah tersenyum.
“Bener nda… ?” Teriak Fitri dengan senangnya.
“Sabar sayang…. Bunda mau tanya. Kalau bukan ke Samalanga sayang mau tidak ?”
“Maksudnya Nda…?”
“Maksudnya, Fitri ke pesantren lain aja, gimana ?”
“Pesantren lain…? kan sama aja bunda. Tetap juga ngga bisa kuliah”
“Ya ngga bisa memang, abi yang suruh tanya gitu”
“Tidak bunda, kalau memang tidak bisa selain ke pesantren ya lebih baik Fitri pilih Samalanga aja.” Kata Fitri setelah terdiam sejenak.

Dia memilih Samalanga bukan tanpa alasan, dia sering dibawa ke Samalanga oleh orang tuanya ketika ada acara-acara tertentu. Dia bisa melihat bagaimana perkembangan pesantren samalanga saat itu dan tentunya sangat mencocoki seleranya ketimbang pesantren yang lain. Dia dapat memilih dengan cepat karena jauh-jauh hari sebelumnya dia telah berpikir matang untuk hal ini. Karena dia yakin kecil kemungkinan Abinya akan meluluskan permintaannya untuk kuliah di fakultas kedokteran.

PERGI KE SAMALANGA

“Selamat datang di kota santri”. Itulah tulisan yang Nampak di baliho besar ketika Anda memasuki kota Samalanga. Sebenarnya Samalanga tidak pantas disebut sebagai kota, pantasnya disebut keudee Samalanga atau peukan Samalanga. Ketika kita tanyakan kepada seseorang pun “mau kemana ?” tidak ada yang menjawab “mau ke kota Samalanga” pasti jawabannya adalah “Mau ke keudee Samalanga”. Tapi sungguh tidak enak di lidah jika harus mengatakan “keudee santri”. Kurang mempunyai greget rasanya. Makanya orang ramai-ramai bilang “kota santri”. Dinamakan kota santri karena di Samalanga ini memang banyak santrinya. Tidak kurang ada sekitar 10.000 lebih santri yang belajar di kawasan ini di beberapa pesantren.

Tanggal 12 juli 2008 Fitri resmi masuk ke salah satu pesantren di Samalanga. Ketika ditawari tinggal satu asrama dengan sesama anak-anak pimpinan pasantren yang lain, Fitri dengan senang hati menerimanya. Ini bukan karena dia senang diistimewakan, tapi dia memilihnya karena lebih sunyi ketimbang di asrama lainnya.

Hari pertama di pesantren, Fitri sangat menderita dan gundah gulana. Dia gundah bukan karena jauh dari dekapan orang tuanya dan harus melakukan segalanya sendiri, tidak. Walau dia biasa dilayani di rumah oleh santri-santri yang belajar di pesantren ayahnya, tapi dia bukan tipe anak manja. Setidaknya tidak sedikitpun terbersit dalam hatinya bahwa dia seorang tuan yang harus dilayani dan disegani. Sekali lagi tidak. Dia gundah karena memikirkan terhadap cita-citanya yang ingin menjadi dokter, sedih dan kecewa karena semenjak menginjakkan kakinya di pesantren dia yakin bahwa niatnya untuk mencapai impiannya itu telah pupus. Menjadi dokter sekarang hanya bisa terwujud dalam mimpi. Itulah yang membuat Fitri menangis semalam suntuk. Di depan orang tuanya dia tidak mau melakukannya. Bahkan di depan siapapun dia enggan menangis. Betapapun keras sifat dan dingin sikapnya, tetap saja dia tidak bisa menahan perasaannya. Asalkan manusia pasti adakalanya harus menangis, apalagi dia seorang perempuan yang masih remaja.
Kata orang, menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Itu adalah kata hiburan supaya seseorang cepat diam. Yang benarnya, menangis dapat meringankan beban batin yang merana. Karena dengan menangislah segala kekesalan dan kekecewaan dapat diluahkan. Bukankah dalam agama juga disuruh supaya banyak menangis ? Menangis bukanlah kebiasaan jelek. Cengeng bukan orang yang sering menangis, tapi orang yang tidak bisa menghadapi kenyataan dan lemah.

Fitri bukan anak yang cengeng dan lemah, dia anak yang ulet dan tegar. Namun Kehilangan cita-cita dapat membuat siapapun goyah dan rapuh. Pernah terbersit dalam hatinya, kenapa dia harus menjadi anak seorang teungku, kenapa tidak anak orang biasa saja sehingga cita-citanya dapat terwujud dengan mudah. Tapi itu hanya sekilas, cepat-cepat dia membuang perasaannya ini. Dia memang belum bisa menerima sepenuh hati keputusan abinya, tapi rasa hormatnya melarangnya untuk berpikir yang macam-macam tentang abinya. hampir setiap hari orang-orang meminta pendapat abinya untuk menyelesaikan masalah, itu menjadi bukti betapa pendapat abinya sangat bisa diandalkan. Bagaimana dia berani menyalahkannya. Dia tidak menyalahkan, hanya belum bisa menerima. Itu saja. Bukankah banyak kebenaran tidak bisa diterima perasaan ?

Setelah lima hari hanya mengumpet di kamar, akhirnya Fitri mulai belajar layaknya santri yang lain. Dia tidak memulainya di kelas satu, dia lewat tes di kelas II. Semenjak mengenal urusan dia sudah berada di pesantren, soal kitab dan pelajarannya dia tidak merasa asing. Bagaimana tidak, dia lahir di pesantren.

Waktu melesat bagaikan anak panah lepas dari busurnya, waktu hanya tahu maju. Tidak pernah sekalipun mundur ke belakang. Jangankan mundur, bahkan berhenti sekalipun tidak pernah. Tidak terasa sudah 3 tahun Fitri di pesantren. Walau dia tidak sepenuhnya senang tinggal di penjara suci itu, tapi minimal dia juga tidak lagi terlalu menderita. Karena kesibukannya belajar 12 jam dalam sehari membuat dia tidak punya banyak kesempatan untuk berpikir yang macam-macam. Lagian dia sudah mencoret dalam kamusnya untuk menjadi dokter. Dia anggap itu hanya mimpi yang pernah singgah dalam tidur lelapnya. Percayalah, orang yang suka belajar sangat sulit bosan dan tidak kerasan tinggal di suatu tempat. Dia akan selalu mudah beradaptasi asalkan disuguhkan pelaran-pelajaran bermutu. Fitri merupakan salah satunya, bahkan kecerdasannya semakin meningkat. Setiap hari gurunya selalu menuntut dia berpikir kritis, suatu hal yang jarang dia dapatkan di sekolah. Tanpa disadari olehnya sendiri, kecepatan berpikirnya saat ini terkadang telah melampaui gurunya. Sekarang dia sudah kelas 5, ketika terdapat masalah yang rumit tidak jarang dia yang menyelesaikannya. Di sekolah dulu dia selalu menjadi bintang, di pesantren malah sinarnya melebihi apapun.
Fitri, itulah nama yang kini paling sering dibicarakan orang di pesantren itu. Tidak peduli dia laki-laki atau perempuan, asalkan menyebut nama ini pasti langsung teringat kepadanya. Ya, namanya telah membuat kaum adam merasa rindu, dan membuat kaum hawa cemburu. Bagaimana tidak, dia melebihi segala syarat untuk menjadi seorang pendamping seorang lelaki. Cukup melihat wajahnya saja sudah membuat orang melupakan hal lainnya, ini belum lagi kecerdasannya yang tidak ketulungan, akhlak dan keturunan pun tidak sederhana. Bukankah banyak perempuan yang ingin seperti dia ?

Namun sayangnya dia harus mengecewakan ratusan orang, sampai saat ini dia tidak menerima siapapun yang ingin melabuhkan perahu cintanya di dermaga hatinya. Dia begitu introvert, dingin dan sulit didekati. Sampai saat itu memang belum ada seorang lelaki pun yang dapat menggerakkan hatinya, Roni pun yang pernah dekat dengannya telah ditolaknya secara halus. Dia suka si Roni itu, terutama sikap dan wajahnya, tapi pertimbangan yang membuat dia harus mengambil keputusan tegas sebelum segalanya terlambat. Pacaran adalah pantangan besar dalam kamus keluarganya. Itulah keputusannya.

Tapi, sampai berapa lamakah seseorang dapat mempertahankan hatinya dari cinta. Sampai kapankah seorang perempuan dapat membentengi dirinya dari seorang lelaki ? Pasti akhirnya benteng itu akan runtuh, dan pertahanannya pun suatu saat akan goyah. Begitu pula dengan Fitri, akhirnya dia juga merasakan betapa perasaan cinta itu bisa menghampiri siapa saja.

Itu dimulai dua tahun yang lalu. Ketika dia sedang asik mendengarkan syarahan kitab dari gurunya, sekonyong-konyong ada seorang santriwati yang masyru’ (kerasukan) lari di samping balainya dengan kencang. Banyak orang sedang mengejar dibelakangnya, tapi si santriwati ini benar-benar telah tidak sadar diri lagi. Dia terus berlari menuju ke kawasan yang tidak ada pagarnya. Mungkin setan ingin membawanya keluar dari lingkungan pesantren. Tapi sebelum niatnya terlaksana, tiba-tiba ada seorang teungku yang menghadang di depannya sambil merentangkan tangannya. Melihat hal ini, si santri ini berusaha mengelak ke samping, tapi dengan sigap pula teungku itu juga menghadang. Ada beberapa kali si santri ini mencoba untuk mengelak tapi selalu teungku itu dapat menghalanginya. Melihat hal ini, si masyru’ ini sangat gusar dan marah, matanya semakin beringas dan merah.

“Mau apa kau ?” Tanya si masyru dengan suara parau. Teungku itu tidak menjawab apa-apa, dia hanya tersenyum. Sementara orang yang mengejarnya tadi hanya berdiri saja di samping, tidak ada yang berani menangkapnya karena sudah beberapa kali ditangkap selalu dapat lolos, dia begitu kuat dan menakutkan. Bahkan ada satu orang yang hampir pingsan dipukulnya.
“Cepat pergi kau, kalau tidak aku akan membunuhmu”. Ancam si masyru’.

“Kenapa tidak engkau lakukan ?” Jawab teungku itu dengan tenang seraya menatap lekat-lekat mata si masyru’.
“Aku tahu siapa kamu, dan dari mana kamu datang. Sebaiknya cepatlah engkau kembali kepada tuanmu. Katakan bahwa aku sudah berada di sini, sudah cukup dia merajalela di dayah ini. Kalau tidak aku yang akan datang ke sana”. Kembali teungku itu berkata dengan tenang, namun kali suaranya agak dalam sedikit, sehingga terkesan berwibawa.

“Dasar teungku kurang ajar, rasakan ini…”. Kata si masyru dengan amarah yang meluap sambil bergerak memukul sang teungku dengan bogem mentahnya yang mungil. Sebenarnya tangan itu tidak menakutkan untuk memukul orang, tapi jika dibantu setan dari dalam, maka hasilnya sungguh luar biasa. Beberapa orang yang menonton telah membuktikan bagaimana akibatnya. Makanya ketika melihat teungku itu dipukul, mereka nampak khawatir, takut teungku itu tidak tahan.

Bak bik buk… itulah suara yang terdengar dari pukulan si masyru terhadap teungku itu. Tapi satu kalipun teungku itu tidak membalas. Dia hanya memasang badan dan menatap si masyru dengan wajah agak ditekuk. Seolah-olah memberi peringatan kepada sang iblis yang bersemayam dalam tubuh si masyru itu agar tahu diri.

Setelah sekian lama memukul tanpa hasil, akhirnya santri itu terjatuh dan cepat-cepat disambut oleh temannya yang sudah dari tadi menunggu di sampingnya. Mungkin si iblis telah lari terbirit-birit melihat keperkasaan sang teungku itu.
Melihat kejadian itu, semua orang terkagum-kagum dengan kehebatan dan sikap teungku itu. Teungku itu memang tampan dan postur badannya juga tinggi. Apalagi dia baru saja menjadi pahlawan. Tak pelak lagi kejadian itu menjadi buah bibir di kalangan santriwati dan bahkan santriwan sendiri.

Ada satu orang yang hampir terbetot sukmanya melihat hal itu, dia adalah Fitri. Melihat teungku itu, jiwanya bergetar tak karuan. Bagaimana tidak, teungku itu jelas-jelas adalah Roni. Satu-satunya lelaki yang pernah dekat dengannya dan pernah memberikan sedikit kenangan manis walau akhirnya dia sendiri yang menghapusnya. Kenapa tiba-tiba dia bisa berada di sini, sejak kapan dia menjadi guru di pesantren ini ? sudah 3 tahun dia ada di sini, dan dia tahu Roni tidak mengaji di situ. Dia juga tiap malam melihat guru-guru yang berjaga-jaga di komplek putri , namun tidak pernah melihat Roni. Ini benar-benar membuat Fitri tidak habis pikir. Tidak ada yang memperhatikan bagaimana wajahnya saat itu, kalau tidak pasti orang-orang akan terheran-heran. Kapankah wajah sang bintang ini begitu tersentak dan kaget, bisa dikatakan tidak pernah. Namun sayang tidak ada yang memperhatikan hal ini, kalau tidak pasti kejadian ini juga bisa menjadi gosip luar biasa.

Fitri bertekad akan menyelidiki hal ini, kenapa si Roni bisa berada satu pesantren dengannya dan tiba-tiba menjadi guru malah. Kalaupun dia masuk ke pesantren itu kan paling-paling kelas lima seperti dirinya.

MENJADI INTELIJEN

Tidak sulit untuk menyelidiki siapa dan bagaimana cerita si Roni itu, karena semua orang juga ingin mengetahuinya. Dia hanya perlu menunggu hasilnya.

Ternyata dugaannya benar, baru dua hari sudah santer terdengar kabar bagaimana cerita tentang si pahlawan malam itu. Dia anak pindahan, baru seminggu ini pindah ke ke situ. Begitu pindah langsung duduk di kelas 7. Dia juga melakukan tes seperti Fitri.

Semenjak malam itu, Roni telah menjadi ikon baru bagi kalangan santriwati. Banyak yang ingin mengetahui lebih jelas tentang dia ini, tapi sayang tidak banyak yang tahu tentang dia. Teman sekelasnya pun belum tahu banyak. Semenjak hari itu pula Fitri tidak bisa konsen belajar, telah beberapa kali dia mencoba menghapus segala bisikan yang datang menghampiri hatinya, tapi dia selalu gagal. Apalagi kemanapun dia pergi selalu dia dengar nama Roni disebut-sebut. Bagaimana dia bisa melupakannya ?
Baru saat itulah dia sadar, ternyata dia benar-benar mencintai Roni. Andaikata dia tidak datang lagi, mungkin tidak sulit bagi dia untuk melupakannya, tapi ternyata takdir berkata lain. Mereka kembali dipertemukan. Apakah ini menjadi suatu tanda ?

Beberapa hari kemudian, Fitri agak terlambat masuk kelas karena suatu keperluan. Ketika dia mau naik ke balai, betapa terkejutnya dia melihat guru yang sedang mengajar di kelasnya adalah Roni. Mungkin guru paginya berhalangan hadir dan Roni disuruh ganti. Fitri langsung masuk kelas, Roni tidak bisa melihatnya karena kelas mempunyai tabir dan punya dua pintu, Fitri masuk lewat pintu belakang. Tapi walau tidak bisa melihat, Roni tahu ada yang baru masuk karena kelasnya berlantai kayu.
“Siapa itu, kenapa terlambat ?” Kata Roni dengan nada agak sedikit keras.

Fitri tidak menjawab. “Siapa, kenapa tidak menjawab, ayo cepat berikan alasannya. Kalau tidak akan saya suruh berdiri ?”. Tambah Roni dengan nada semakin tegas. Seolah-olah dia telah menjadi guru benar-benar. Walaupun Roni sekarang pada posisi gurunya, tapi Fitri tetap masih menganggap dia itu temannya dulu yang selevel. Jadi dia agak membandel.
“Baiklah, ayo cepat berdiri… ” kata Roni akhirnya.

Teman-teman sekelas Fitri heran juga dengan sikap teungku itu, karena belum pernah ada teungku yang begitu galak dengan Fitri. Mereka tahu Roni telah mengetahui siapa itu yang terlambat setelah melakukan pengabsenan. Karena hanya Fitri yang belum hadir. Mereka menganggap itu terjadi karena Roni belum pernah mendengar nama dan daya magis Fitri yang menjadi buah bibir selama ini. Padahal Roni melakukan itu hanya untuk mengerjai Fitri saja, dia tahu segala hal tentang si kutu langit ini, bahkan karena dialah makanya dia datang ke pesantren itu.

Akhirnya Fitri berdiri juga. Tapi baru hendak berdiri Roni kembali berkata:
“Tidak usah berdiri, duduk saja yang tenang. Asal jangan ribut udah cukup. Paham … !” Tegas Roni.

Fitri sudah marah benar-benar, dia benar-benar dibuat keki kali ini. Bayangkan semua santri yang belajar di samping balainya pada melihat ke balai mereka. Cukup kehadiran Roni saja sudah membuat situasi riuh, apalagi kini disuguhkan adegan yang belum pernah terjadi, yaitu disuruh berdirinya Fitri di kelas.

Fitri bertekad membalasnya. Untuk melakukan hal ini, dia tahu cara yang paling jitu. Ya, dia akan mendebatnya habis-habisan. Di samping untuk melampiaskan kemarahannya juga untuk melihat sejauh mana perkembangan si Roni kenapa tiba-tiba malah melampaui dirinya.

Apakah fitri berhasil mendebat Teungku Roni, atau malah fitri yang keok, tunggu kisah selanjutnya.

BERSAMBUNG KE BAGIAN III

Related

Remaja 8418697387977557296

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item