umdah

Kronologi Wafatnya Abati 'Athaillah bin 'Abdul Aziz

Ditulis oleh: Ahmad Al-Azhary Minggu, 16 Februari 2014, sekitar pukul 10.40 WIB, saya beserta teman-teman menuju ke Meunasah Mideu...

Ditulis oleh: Ahmad Al-Azhary

Minggu, 16 Februari 2014, sekitar pukul 10.40 WIB, saya beserta teman-teman menuju ke Meunasah Mideun Jok untuk menghadiri undangan Maulid. Saat itu kami melihat Abati di Meunasah masih dalam keadaan sehat, beliau duduk tidak jauh dari tempat kami duduk. Beberapa saat kemudian kami dipersilahkan masuk ke Meunasah untuk mencicipi hidangan kenduri Maulid. Saya tidak melihat apakah Abati juga masuk ke dalam Meunasah atau tidak.

Tepat pukul 11.00, kami kembali ke dayah. Setiba nya kami di depan Gang Panah, Tgk. Muliadi Geudong memanggil beberapa orang dari kami untuk membantu beliau mengangkat Abati untuk dibawa ke Puskesmas Samalanga. Karena Abati tidak sanggup bangun lagi. Abati meminta dipasangkan oksigen, cuma karena oksigen mobil ambulan sedikit bermasalah, kemudian saya, Tgk. Aji Gampong Baro, dan Tgk. Syarifuddin (supir) membawa Abati ke Puskesmas Samalanga dengan mobil ambulan MUDI untuk mendapatkan perawatan. Abati mengeluhkan bahwa dadanya sakit sekali, dan perutnya juga sakit karena masuk angin dan BAB tidak lancar.

Sampai di Puskesmas Samalanga, Abati langsung dipasangkan oksigen. Setelah beberapa saat, datanglah Tgk. M. Nur Padang Tiji (Tgk. Amad Syarek) dan Tgk. Amri Leubue. Setelah bermusyawarah dengan dokter, akhirnya diputuskan bahwa Abati harus dirujuk ke Bireuen. Karena Tgk. M. Nur harus kembali ke dayah lebih dulu, maka yang berangkat ke Bireuen adalah Tgk. Syarifuddin, saya, Tgk. Aji Kampong Baro, Tgk. Amri Leubue dan seorang santri MUDI. Sebelum berangkat, Abati sempat berpesan kepada Tgk. M. Nur untuk membawa serta ummah (red. istrinya Abati) ke Bireuen. Saat itu dokter juga memberikan 4 butir pil yang katanya untuk meringankan sakit dada. Sekitar pukul 11.30 kami berangkat ke Bireuen.

Menuju Bireuen

Dalam perjalanan ke Bireuen, sepanjang jalan Abati selalu mengatakan bahwa dadanya sakit sekali. Beliau berkata: "Kaleuh ta jep ubat, hana kureung cit saket dada". Setelah melewati kawasan Peudada, Abati berkata "Ho katrok ile? Trep that lago? Hana payah antri are me moto, meunyo na kesempatan tameng aju". Mungkin karena Abati tidak sanggup menahan rasa sakit di dadanya. Padahal, menurut penuturan Tgk. Syarifuddin sebagai supir, beliau sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menambah laju kecepatan ambulan, masalahnya ambulan tersebut hanya mampu melaju di km 100, kata beliau. Ditambah lagi keadaan di jalanan kendaraan agak ramai, jadi kita juga harus berhati-hati.

Setelah itu Abati meminta tolong kepada Tgk. Aji untuk mengubah posisi Abati untuk duduk. Kemudian kami mengangkat tubuh Abati, sehingga Abati berada dalam posisi duduk sekitar 15 menit, dalam posisi duduk, Abati meminta agar punggung bagian kirinya ditepuk. Abati berkata "Blah wie, neu peh-peh bacut-bacut, nyo gara-gara meu angen, menye ji tubiet angen, sang glah mandum". Lalu, Tgk. Aji menepuk punggung Abati perlahan-lahan. Setelah itu Abati meminta dibaringkan kembali. Sepanjang jalan, Abati selalu mengeluhkan dadanya sakit, raut wajahnya mengisyaratkan bahwa beliau sedang menahan rasa yang sangat sakit.

Setibanya di Simpang Empat Bireuen, Alhamdulillah lampu merah tidak menyala, kami langsung berbelok ke arah Takengon, menuju rumah sakit BMC. Abati sempat mengucap kalimat ALLAH....ALLAH....ALLAH.... sebanyak lebih kurang tujuh kali. Kira-kira pukul 13.00 kami tiba di Rumah Sakit BMC. Sesampainya di rumah sakit, Abati langsung ditangani oleh beberapa orang dokter. Abati berkata kepada dokter "Dok, dada saya sakit sekali dok", dokter menjawab "Bapak sabar ya pak, jangan stress! Tenang! Kalo bapak stress, dadanya makin sakit". Kemudian dokter mengambil sebutir pil kecil berwarna kuning dan meminta Abati membuka mulutnya, lalu pil tersebut di letakkan dibawah lidah Abati. Kami semua masih disamping Abati. Sesaat kemudian, dokter langsung memasang infus di lengan kiri abati, sementara Abati terus mengeluh dadanya sakit sekali. Dokter juga memasang alat semacam penjepit yang saya tidak tahu namanya, mereka memasangnya di kedua lengan dan kedua kaki Abati, dan memasang semacam alat pendeteksi detak jantung kira-kira 6 buah, melintang di bawah dada Abati. Abati masih menahan rasa sakit di dadanya, kejadian tersebut berlangsung sekitar 15 menit. Lalu saya keluar sebentar, duduk di teras rumah sakit. ketika itu disamping Abati ada Tgk. Aji Kp. Baro dan seorang santri mudi.

Detik detik akhir

Sekitar 15 menit kemudian, kira-kira pukul 13.30, seseorang yang tidak saya kenal, memanggil saya untuk masuk. Sampai di dalam, saya melihat Abati sudah tidak bisa mengeluarkan suara, tubuh Abati mengejang, nafasnya putus-putus. Tgk. Aji bertanya kepada dokter "Dok, kiban keadaan Abati??", saya melihat sepertinya dokter berusaha untuk memilih kata-kata yang tepat. Dokter menjawab "Kondisi bapak nyo hana stabil, tulong ne peurateb siat!!" Lalu saya dan Tgk. Aji mengucapkan kalimat "Laa ilaaha illallaah" berkali-kali di telinga Abati, Tgk. Aji di telinga kanan, dan saya di telinga kiri. Dokter juga berusaha menetralkan detak jantung Abati dengan memberikan tekanan secara kontinyu di dada abati. Saat itu, seorang perawat juga menyuntikkan cairan ke dalam selang infus Abati sebanyak dua kali. Kami terus menerus men-talqinkan Abati. Walaupun Abati tidak bisa mengucapkan kata-kata, tapi kami sangat yakin bahwa Abati pasti masih bisa mendengar. Kami tidak bisa melihat raut wajah Abati, karena mulut kami saat itu berada di telinga abati. Sampai akhirnya, sepuluh menit kemudian, kira-kira pukul 13.40, Abati terdiam, wajah Abati yang sebelumnya merona, kini pucat pasi seketika. Tgk Aji bertanya kepada dokter "Kiban keadaan Abati???", lalu dokter mengambil senter kecil, mengarahkan cahayanya ke mata Abati, menggerak-gerakkan cahanya sebanyak tiga kali, namun mata Abati tidak lagi memberikan respon terhadap cahaya. Dokter berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala "Bapak hana le, ka neuwo bak Allah..."

Sepersekian detik kami terhenyak, dengan menitikkan airmata, satu persatu dari kami mengecup kening Abati, kecupan terakhir, kecupan perpisahan. Selamat jalan Abati tercinta, do'a kami selalu menyertaimu. Semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisi Allah, semoga amal ibadah yang telah engkau kerjakan diterima oleh Allah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan yang mungkin pernah engkau kerjakan, baik sengaja atau tidak, dan semoga Allah menempatkan engkau di tempat yang tinggi, tempat yang sangat mulia, di syurga jannatun na'iim, bersama para anbiya, syuhada, auliya dan para ulama, amiin ya rabbal 'alamiin.

Related

News 1340548211945307135

Posting Komentar Default Comments

  1. YA ALLAH NUE PELUAH KUBU BESELAMAT IMAN DUNIA DAN AKHIRAT...AMIN

    BalasHapus

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item