umdah

Muhammad Saw atau Muhammad bin Abdul Wahab ?

Setiap bulan Rabiul Awwal tiba, ratusan juta umat islam di seluruh dunia melakukan acara peringatan Maulid Nabi. Maulid Nabi itu adalah peringatan hari lahirnya Sayyidul Ambiya, Nabi Muhammad Saw, yang jatuhnya pada hari Senin 12 Rabiul Awwal pada tahun gajah. Inilah pendapat yang masyhur yang telah dipilih ulama.

Setiap bulan maulid datang, seperti biasa selalu ada sikap pro dan kontra antara satu pihak dengan pihak yang lain. Sebenarnya, sikap pro dan kontra ini bisa dilihat hampir di setiap lini kehidupan dan permasalahan, bisa di bidang tauhid, fiqh, tashauf maupun disipilin ilmu lainnya. Seharusnya, sikap perbedaan itu bisa dimaklumi dan diterima akal sehat. Kenapa tidak, bahkan sahabat Ra, sendiri yang notabene adalah murid langsung Rasulullah Saw, dan mereka hanya mempunyai satu guru yaitu Rasulullah tapi masih bisa berselisih paham dalam masalah-masalah tertentu, apalagi generasi selanjutnya dimana mereka berguru dari banyak guru.

Dalam agama islam, perbedaan pendapat itu dibolehkan, bahkan itu disebut rahmat bagi umat islam itu sendiri. Lihatlah bagaimana kemudahan yang didapatkan oleh umat islam dengan adanya empat mazhab yang bisa diikuti. Tidak ada yang meragukan bahwa mempunyai empat pilihan lebih baik ketimbang satu pilihan. Dan selama ini, tidak ada masalah antara sesama penganut ke empat mazbab tersebut. Mereka hidup akur di belahan dunia manapun, tidak ada debat terbuka, tidak ada caci maki, lebih-lebih lagi saling bunuh demi menegakkan pendapat masing-masing. Mereka bagaikan saudara kandung yang hidup rukun dan saling bantu antara satu sama lain. Termasuk dalam permasalahan maulid ini pun mereka tidak mempunyai masalah apa-apa.

Namun sayangnya, sesama mereka tidak ada masalah justru bermasalah dengan sekelompok manusia yang lain. Sekelompok manusia ini, yang setelah dikaji ternyata datang dari luar mazhab empat atau mazhab manapun, tiba-tiba muncul kepermukaan dan menyalahkan apapun yang telah terbina baik selama ini, termasuk perayaan maulid. Bahkan dalam menentang perayaan maulid ini, mereka lebih beringas dari pada anjing kelaparan, lebih telengas dari pembunuh psikopat sekalipun. Jika Anda pernah melihat bagaimana beringasnya anjing kelaparan, begitulah beringasnya mereka terhadap orang yang merayakan maulid. Jika Anda pernah melihat bagaimana telengasnya psikopat membunuh, mereka bahkan lebih parah. Karena psikopat itu tidak mengerti agama, atau setidaknya membunuh karena kelainan jiwa, tapi kelompok orang ini membunuh atas dasar agama dan mereka juga tidak sakit jiwa. Berbagai alasan mereka kemukakan, berbagai hujjah mereka keluarkan demi membekukan perayaan maulid selama ini.

Dalam tulisan ini, penulis tidak hendak mengemukakan dalil-dalil. Penulis hanya ingin memaparkan beberapa keheranan yang selama ini terus membuat kening berkerut. Di antaranya yaitu,

1. Tidak boleh mencintai Nabi secara berlebihan,

Ini menjadi poin pertama yang membuat kepala berdenyut setiap mengingatnya. Bagaimana tidak, ini dijadikan sebagai alasan mereka untuk menolak perayaan maulid. Karena alasan ada hadit Nabi yang redaksinya begini,

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji (Isa) putera Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka sebutlah, ‘Abdullah wa rasuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya)’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang sangat mengherankan, kenapa dengan dalil ini tidak boleh membuat maulid ? Adakah larangan yang tegas di situ, tentu saja tidak ada, yang dilarang adalah memujinya seperti kaum nashrani memuji Maryam Ra. Bagaimana kaum Nashrani memuji Maryam rasanya anak-anak juga tahu, yaitu mereka menyembahnya. Pertanyaannya, apakah sekarang umat islam yang merayakan maulid terdapat acara menyembah-nyembah Nabi.? Permasalahan yang kedua, mereka selalu mendengung-dengungkan di setiap kesempatan tidak boleh terlalu memuji seseorang bahkan sekalipun Nabi, tapi kenapa mereka memuji setengah mati Muhammad bin Abdul Wahab dan Ibnu Taimiyah ? Apakah Muhammad bin Abdullah tidak boleh, sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab boleh. Apakah Muhammad mereka itu lebih baik ketimbang Nabi ? Padahal tuhan dan seluruh alam memujinya. Sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab, jangankan tuhan, bahkan ayah, guru dan saudaranya sendiri menyebutnya orang yang kurang waras atau kelainan jiwa. Tentunya mereka lebih tahu bagaimana dia sebenarnya, karena siapakah yang lebih mengetahui seseorang dari pada orang tua, saudara dan gurunya ? Namun kenyataannya sekarang, dia dipuji setinggi langit bahkan mengalahkan Nabi, bukankah yang memuji lebih gila dari yang dipuji ?

2. Fatwa tidak boleh melakukan maulid.

Ini juga bisa membuat seseorang mati penasaran, bila pemuka mereka yang mengeluarkan fatwa (Mereka menyebutnya fatwa), mereka memegangnya melebihi bui kap aneuk jok, itulah kiasan orang aceh yang cocok untuk mereka. Maksudnya, mereka tidak hanya sekedar menerima tapi malah berusaha keras agar semua orang harus seperti itu. Radikalnya, yang bukan seperti itu berarti sesat menyesatkan, alias kufur. Nauzubillah.

Inilah contoh fatwa pemuka mereka (Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin):
“Pertama, tanggal kelahiran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak diketahui secara pasti. Bahkan, sebagian ahli tarikh kontemporer yang mengadakan penelitian menyatakan bahwa tanggal kelahiran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah 9 Rabi’ul Awwal, bukan tanggal 12 Rabi’ul Awwal.

Kedua, dipandang dari sisi akidah, juga tidak ada dasarnya. Kalaulah itu syariat dari Allah, tentulah dilaksanakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atau disampaikan pada umat beliau. Dan kalaulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakannya atau menyampaikan kepada umatnya.
Sebenarnya pemuka (mereka menyebutnya ulama) mau mengatakan apa, atau kentut bagaimana juga tidak menjadi soal asalkan tidak menyalahkan orang lain dan memaksa kehendak, bahkan sampai mengkufurkan orang lain yang berlawanan. Ini yang sangat disayangkan bisa terjadi.
Fatwa ulama salaf dan ulama yang telah diakui keberkatan dan keabsahan ilmunya mereka tidak mau dengar, sedangkan fatwa “ulama” yang tidak jelas mereka bela mati-matian.

3. Mujaddid kok hanya 3 orang ?

Dalam menolak peringatan maulid, salah satu panutan mereka adalah Muhammad bin Adul Wahab, dia dijadikan panutan karena dianggap sebagai mujaddid, sang pembaharu.

Ini juga sangat mengherankan, mereka mengakui setiap seratus tahun sekali pasti Allah akan memilih di antara sekian banyak orang islam satu orang Mujaddid (Pembaharu) dikarenakan ada dalilnya, yaitu:
“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang-orang yang akan memperbaharui agama-Nya’ (HR. Abu Daud).
Mereka sangat tahu hadits ini dan juga mengakuinya, namun mereka hanya menyebutkan 3 orang saja mujaddid semenjak Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam wafat, yaitu: Imam Syafi’i Radhiyallahu anhu, Ibnu Taimiyah dan yang terakhir adalah pendiri Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab.

Padahal, mereka sendiri pun tidak berani menyebut mujaddid yang lain dari kalangan mereka, karena memang sangat tak pantas namun juga tidak mau menyebut mujaddid dari kalangan ahlussunnah wal jamaah, karena bila ini mereka lakukan bukankah sama halnya dengan membakar jenggot sendiri ?

Logikanya, semenjak nabi tiada sudah berlalu 14 abad. Itu artinya sudah ada 14 mujaddid yang dilahirkan ke muka bumi ini.

Itulah di antara sekian banyak hal yang membuat penulis tidak habis pikir kenapa bisa terjadi. Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat menganggap diri sendiri paling benar dan semua pendapat orang lain salah belaka. Wallahu’alam bisshawab

Membaca tulisan ini, mungkin ada di antara pembaca yang menganggap tulisan ini terlalu ekstrim dan terkesan kasar. Ya, penulis pun merasa demikian, namun bila dilihat bagaimana mereka membuat tulisan-tulisan ilmiyah tentang masalah ini, pasti pembaca akan menganggap tulisan ini sangat sopan dan lemah lembut. Adakah perkataan yang lebih kasar dari mengkafirkan orang lain ? Mereka menyebutnya demikian terhadap siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka.


Oleh: Ibnu Abdillah

Related

Opini 2696327482176515758

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item