umdah

Membumikan Etika Pergaulan Islami

Etika Pergaulan Islami
Gambar ilustrasi
Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan buruk sekaligus tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Sedangkan pergaulan dapat diterjemahkan sebagai proses seseorang untuk bersosialisasi dengan manusia lain dan lingkungannya. Sebagai makhluk sosial, bergaul adalah suatu kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia. Disadari atau tidak, kita membutuhkan kehadiran orang lain dalam menjalani kehidupannya walaupun manusia memiliki ciri, sifat, karakteristik ataupun tingkah laku yang berbeda. Keberagaman ini adalah salah satu bentuk kekuasaan dan keagungan Allah Swt sebagai Sang Pencipta.

Pada dasarnya, pergaulan bukanlah sekedar interaksi horizontal sesama manusia. Bukan pula hanya sebagai bentuk kepekaan sosial dalam kehidupan bermasyarakat melainkan pergaulan itu harus mampu melahirkan ketentraman dan keselamatan manusia itu sendiri. Dan hal ini sangat tergantung pada etika pergaulannya yang tentu saja tidak terlepas dari pendidikan akhlak yang diterima manusia itu sendiri.

Ketika membicarakan akhlak, maka kita turut pula memperbincangkan seorang manusia yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia yaitu Nabi Muhammad Saw. Seluruh sahabat Rasulullah Saw mensifatkan bahwa sosok idola kita ini adalah manusia yang paling bagus akhlaknya. Bahkan semua kalangan mengakui bahwa faktor utama keberhasilan dakwah Rasulullah Saw adalah akhlak mulia yang diterapkan dalam setiap interaksinya dengan seluruh lapisan kelompok masyarakat tanpa memandang suku, ras bahkan agama sekalipun. Hal ini mengindikasikan bahwa akhlak memiliki peranan utama dalam membentuk etika manusia dalam pergaulannya sehari-hari. Dengan kata lain, bila seseorang ditempa dengan akhlak yang mulia, maka akan terbentuk etika pergaulan yang baik dalam dirinya. Begitu juga sebaliknya, akhlak tercela akan menjadikan manusia terpenjara dalam kungkungan etika pergaulan yang rusak kalau ogah dikatakan tidak beretika sama sekali.

Dalam pergaulannya, tidak sedikit manusia menganggap remeh etika pergaulan yang dianjurkan oleh pemilik etika pergaulan terbaik di seluruh permukaan bumi ini, yaitu Rasulullah Saw yang selanjutnya dilestarikan oleh para ‘Ulama, komunitas pewaris Nabi Saw. Padahal diakui atau tidak, etika pergaulan bertujuan untuk melindungi seseorang dari akibat buruk yang lahir dalam pergaulan itu sendiri.

Bila kita mencoba memperhatikan kehidupan manusia abad ini, hal yang kita dapati adalah krisis moral yang semakin hari semakin memprihatinkan, terutama di kalangan remaja dan pemuda. Berkembangnya pergaulan bebas, minuman keras, konsumsi obat terlarang seperti sabu-sabu dan ganja, perampokan, penculikan, pemerasan, pemerkosaan dan pembunuhan malah menjadikannya sebagai berita yang setiap hari menghiasi semua media baik cetak maupun elektronik.

Kemerosotan akhlak manusia tersebut tidak dapat dipungkiri berefek negatif terhadap etika pergaulan kehidupan masyarakat. Sering kali manusia berkata dan berperilaku yang menyakiti dan menghina manusia lainnya hanya dikarenakan hal-hal sepele. Bahkan guyonan dan ledekan terkait kekurangan fisik dan status sosial-ekonomi orang lain pun sudah menjadi hal yang “wajib” di-update seperti halnya sikap yang ditunjukkan para selebritas yang mengatasnamakan lawakan dan tuntutan peran untuk pembenaran terhadap etika pergaulannya. Hasilnya, hal seperti ini semakin cepat menyebar secara bebas tak terbatas dan menyerang pola pikir serta perilaku masyarakat remaja konsumtif bahkan cenderung “diimani” sebagai etika pergaulan yang “layak” ditampilkan dalam interaksi sosial masyarakat negara maju dan berkembang.

Bila sedikit menelisik tacara pergaulan yang salah kaprah ini, tentunya kita tidak memungkiri bahwa teman sepergaulan dan lingkungan yang tidak sehat menjadi faktor penting dalam membentuk kepribadian masyarakat usia pertumbuhan disamping pendidikan akhlak yang diterima dalam keluarganya. Padahal para ‘Ulama kita selaku penerus perjuangan dakwah Nabi Muhammad Saw telah berupaya membimbing generasi muda muslim dengan berbagai nasehat dan anjuran agar tercipta etika pergaulan yang sesuai dengan tuntunan Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi sekalian makhluk.

Seorang teman sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan tingkah laku manusia itu sendiri. Nabi Muhammad saw bersabda dalam salah satu haditsnya :

اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu berdasarkan tabiat temannya, maka hendaklah engkau perhatikan temannya tersebut”. (HR. Imam Abu Daud)

Senada dengan hadits tersebut, Imam al-Zarnuji menukilkan sebuah syair di dalam kitabnya, Ta’lim al-Muta’alim Thariq al-Ta’alum :

عَنْ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَأَبْصِرْ قَرِينَهُ # فَإِنَّ الْقَرِينَ بِالْمُقَارِنِ يَقْتَدِي

فَإِنْ كَانَ ذَا شَرٍّ فَجَنِّبْهُ سُرْعَةً # وَإِنْ كَانَ ذَا خَيْرٍ فَقَارِنْهُ تَهْتَدِي

“Jangan bertanya tentang diri seseorang secara langsung, namun cukup lihatlah siapa temannya. Karena siapapun dia, sesungguhnya ia senantiasa mengikuti temannya. Bila temannya adalah orang yang bersifat tercela maka jauhilah segera. Dan jika ia bersifat baik maka jadilah temannya, niscaya dirimu akan terpetunjuk”.

Alangkah dahsyatnya pengaruh yang dimiliki teman sepergaulan. Karena itu, memilih teman yang baik agamanya adalah pilihan pertama yang harus ditempuh dalam usaha memperbaiki pergaulan. Hal ini telah diingatkan oleh Allah Swt dalam firman-Nya :

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ

“...Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan daripada mengingat Kami dan mengikuti hawa nafsunya...”. (QS. al-Kahfi : 28)

Kemudian, menjadikan teman yang mempunyai pemikiran yang baik dan berperilaku terpuji adalah kriteria selanjutnya ketika bergaul dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian ‘Ulama berkata :

مِنْ خَيْرِ الِاخْتِيَارِ صُحْبَةُ الْأَخْيَارِ # وَمِنْ شَرِّ الِاخْتِيَارِ صُحْبَةُ الْأَشْرَارِ

“Sebagian dari pilihan terbaik adalah berteman dengan orang yang terpuji akhlaknya. Sementara pilihan terburuk adalah berteman dengan orang yang buruk perilakunya”.

Ada sebuah ungkapan menarik dan mengandung tamsilan makna yang mendalam terkait hal tersebut. Ungkapan itu berbunyi : “Bergaul dengan orang yang berakhlak mulia ibarat bergaul dengan penjual minyak wangi dimana ia selalu memberi aroma yang harum semerbak setiap kita bersamanya. Sedangkan bergaul dengan yang orang yang buruk perangainya ibarat bergaul dengan tukang pandai besi yang akan memberikan bau asap besi itu ketika kita bersamanya”.

Kebenaran ungkapan tersebut memang demikian adanya. Ketika bergaul bersama dengan pemilik akhlak mulia tentu sedikit banyaknya akan ikut tertuju kepada bagusnya akhlak kita. Sebaliknya, ketika berteman dengan orang yang berakhlak tercela, kita pun akan terbawa kepada keburukan sikapnya.

Semakin maraknya pelanggaran larangan agama dalam pergaulan hendaknya menjadi perhatian serius dari semua kalangan masyarakat Islam mengingat jika suatu penyimpangan telah meluas dan menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat, yang tertimpa musibah bukan hanya para pelakunya saja melainkan masyarakat lain juga akan ikut terkena getahnya. Rasul Saw bersabda :

إِذَا خَفِيَتِ الْخَطِيئَةُ لَمْ تَضُرَّ إِلا صَاحِبَهَا، وَإِذَا ظَهَرَتْ فَلَمْ تُغَيَّرْ ضَرَّتِ الْعَامَّةَ

“Ketika tersembunyinya suatu kesalahan (kemungkaran) maka tidak akan berbahaya kecuali bagi para pelakunya. Dan ketika kesalahan itu nampak jelas kemudian tidak ada yang merubahnya, maka akan berbahaya bagi sekalian manusia”. (HR. Imam al-Thabrani)

Kita harus menyadari bahwa generasi muda sekarang adalah tiang punggung umat di masa mendatang. Ada satu pepatah yang berbunyi :

شُبَّانُ الْيَوْمِ رِجَالُ الغَدِ

“Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan”.

Namun ada satu catatan penting yang patut dicermati bersama. Kesalahan para generasi muda Islam dalam menyikapi ruang lingkup pergaulannya hendaklah disikapi secara bijak tanpa menghakimi secara sepihak. Bagaimanapun keburukan akhlak yang sudah ditampilkannya bukanlah alasan yang tepat untuk membenci dan mengucilkan saudara seiman kita tersebut. Marilah kita mencoba mengikuti metode dakwah Nabi Muhammad Saw yang penuh dengan kesabaran, kelembutan dan kemuliaan akhlak dalam usaha merangkulnya kembali agar ia benar-benar merasakan bahwa agama Islam yang dianutnya adalah suatu rahmat yang besar bagi dirinya dan alam lingkungannya. Rasanya, tidak patut bagi kita untuk memusuhi para pelaku maksiat karena yang seharusnya dibenci adalah diri maksiat itu sendiri.

Sebagai makhluk beretika, Islam menuntut kita untuk bergaul baik dengan sesama manusia seperti tidak menyakiti manusia lain ataupun dengan menampilkan wajah yang berseri ketika berjumpa dengan sesama sehingga kehadiran kita pun disenangi dan dicintai oleh orang lain. Dan bilamana pun pada akhirnya kita tidak mampu untuk menjadi perantara kebaikan kepada sesama, maka hendaknya kita menjaga diri agar tidak terjerumus dalam keburukan yang ditimbulkan oleh diri sendiri dan orang lain.

Mengakhiri tulisan singkat ini, tidak ada salahnya bila kita meluangkan waktu sejenak untuk merenungi butiran kalam penuh hikmah dari al-Musnid al-Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, seorang ‘Ulama besar Yaman sekaligus keturunan Rasul Saw dari jalur Imam Husain bin ‘Ali ra :

لا تصاحب من يُشغلك عن الله وعن طاعته ويدعوك إلى مخالفته بلسان حاله ومقاله
فعليك ألا تختار في هذا الزمان مجالسةَ أحدٍ إلا إن علمت أنك تنتفع في دينك كأن تزداد بمجالسته بصيرة بطريقك أو نشاطاً في التشمير لنيل مطلوبك أو تنفعه أنت في دينه

“Janganlah engkau bersahabat dengan orang yang menyibukkan kamu dari Allah Swt dan ketaatan-Nya serta mengajak kamu untuk melanggar Allah Swt dengan sikap dan perkataannya. Maka wajib atas kamu di zaman ini untuk tidak memilih sahabat kecuali kamu tahu ia akan memberi manfaat dalam agamamu, seperti bertambahnya pengetahuan jalanmu untuk menuju ridha Allah Swt dengan duduk bersamanya atau semangat untuk mendapatkan yang kita inginkan ataupun kamu yang memberikan kemanfaatan dalam agamanya”.

Demikian Saudara ku yang kumuliakan. Yaa Rabbii Shalli ‘alaa Muhammad, Yaa Rabbii Shalli ‘Alaihi wa Sallim. Allaahumma Shalli wa Sallim wa Baarik ‘Alaih wa ‘alaa Aalih.
Oleh: Muhammad Fahmi Adhamy S.HI, Sekretaris Lajnah Bahtsul Masa-il (LBM) LPI MUDI Mesjid Raya, Samalanga.

Related

Remaja 8086064450815029238

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item