umdah

Ketika Fitri Bertasbih

Gbr. Ilustrasi
Membaca judul cerita ini mungkin engkau akan berpendapat, ini kok sama dengan judul Ketika Cinta Bertasbih(KCB) yang popular itu !. Tidak, judul ini si Fitri sendiri yang memintanya demikian…

Kisah ini dimulai 7 tahun yang lalu, saat Fitri masih duduk di kelas 3 SMAN 1 Lhok Seumawe-Aceh.

Sesuai dengan namanya, Fitri tentu saja seorang cewek, cewek yang sangat manis malah. Di antara cewek-cewek seangkatannya semua orang sepakat untuk memilihnya sebagai cewek termanis dan paling menarik. Ya, Fitri memang pantas menerima anugerah itu, karena baik postur tubuh dan wajahnya bukan sesuatu yang pasaran, dia memang berbeda.

Melihat fisiknya, tentu saja Fitri layak menduduki rating pertama di sekolah sebagai primadona, tapi bagaimana dengan isi otaknya ? apakah dia termasuk dalam kategori orang yang dikatakan begini: “Sayang ya, cantik-cantik kok tulalit. Aduh, manis sih manis. Tapi sayang dalemnya tak berisi”. Tidak, Fitri malah sebaliknya. Sudah 2 tahun dia sukses menyabet juara umum. Bukan hanya dia yang pegang, malah meninggalkan jauh pesaingnya di belakang, nilai rata-ratanya 90, sedangkan pesaing terdekatnya hanya mampu mendapatkan 84. Bukankah ini prestise yang semakin bikin orang keblinger ?

Fisiknya oke, pikirannya juga ces pleng, akhlaknya bagaimana ? Mungkin beberapa patah kata ini bisa menggambarkan kepada engkau bagaimana dia sebenarnya saat itu. Dia lebih suka duduk di pustaka membaca buku ketimbang harus ke mushalla untuk bergabung dengan teman Rohisnya, atau dia lebih suka mengikuti lomba telling story dalam bahasa inggris daripada disuruh mengikuti lomba menghafal surat yasin, dia lebih memilih menghafal rumus-rumus matematika dan kimia ketimbang harus menghafal hadits-hadits yang diajarkan dalam pelajaran agamanya. Ini bukan karena Fitri anti agama, tidak, dia tetap melaksanakan kewajibannya seperti shalat dan lain-lain. namun sudah menjadi jiwanya ingin lebih menonjol di bidang ilmu pelajaran umum, apalagi semua guru-gurunya juga berpendapat dan memotifasinya demikian. Klop lah sudah atribut yang membentuk jiwanya seperti itu.

Bagaimana dengan pergaulannya ? Cukuplah ini menjadi gambarannya. Di antara ratusan lelaki di sekolah itu, bisa dihitung dengan jari yang berani ngomong dengannya. Ya, dia bukan hanya pendiam, tapi sudah mendekati bisu. Jangankan senyum, mendengar dia bercerita seperti cewek yang lain saja sudah termasuk hal yang aneh. Sekali dia tersenyum, sekolah gempar. Semua pada berteriak-teriak, “Hei ! si kutu tadi sudah mulai bahagia”, “Hei kalian, tahu apa ? si kutu tadi sudah kembali ke dunia”. Semua orang menyebutnya “Kutu”, kutu buku. Karena dia lebih suka berteman dengan buku-bukunya ketimbang dengan manusia. Tentu saja mereka berani menyebutnya seperti itu di belakangnya, karena jika berhadapan, bahkan gurunya sendiri pun segan. Siapa yang berani menyebutnya demikian ?

Di sekolah, Fitri hanya mempunyai teman dua orang cewek dan 1 orang cowok. Semuanya masih bisa disebut saudara dengan dia. Sedangkan seribuan siswa lainnya, walaupun bukan musuh, setidaknya juga tidak bisa disebut teman.

Terakhir, apakah dia punya pacar ? hanya orang bodoh yang akan bertanya seperti ini. Mengajaknya berteman saja sudah sukar seperti naik ke langit,dari mana datangnya cowok yang berani mengatakan: “I love you Fitri, aku sayang kamu fit, dek Fitri ! Maukah engkau menjadi manusia yang paling aku sayangi” Tidak, sampai hari itu belum ada manusia seberani dan sebodoh itu. Si Roni pun yang dianggap paling jagoan di sekolah, yang dikenal tak takut langit dan bumi, juga menyimpan rasa segan beberapa bagian terhadapnya, apalagi yang lain. Tidak ada yang tahu kenapa si”kutu” ini mempunyai perbawa yang begitu besar, orang hanya tahu dia anak seorang pimpinan pesantren ternama di sekitar kota itu. Banyak orang beranggapan karena darah ayahnya lah yang membuat orang begitu segan, bahkan cenderung menakutkan bagi sebagian orang.

3 bulan sebelum Ujian Akhir Nasional (UAN), Fitri sudah tampak lebih sibuk dengan pelajarannya dan lebih giat lagi dari hari-hari biasanya. Kalau biasanya dia masih sempat melakukan hal-hal sepele seperti makan bakso dan pergi ke kantin, kali ini tidak lagi. Dia terus belajar, seolah-olah dia akan mati bila tidak lewat UAN. Padahal semua orang berpikir, dia pasti lulus dengan nilai terbaik. Jika ada siswa yang dijamin lulus, itu pasti dia. Jika ada yang menganggap dia belum tentu lulus, semua orang tidak akan ragu menyebutnya gila. Tapi kenapa dia belajar seperti orang kerasukan seperti itu, mungkin ini hanya bisa dijawab olehnya sendiri. Tapi siapa yang berani bertanya ? Ada, Roni. Ya, akhirnya Roni, si jagoan berani juga unjuk keberanian. Pada suatu hari dia mendekati si kutu yang sedang duduk di pojok pustaka, namun sebelum itu dia sudah membuat perjanjian dengan semua teman-temannya tidak boleh ada yang mendekat atau mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Terpaksa mereka hanya gigit jari, padahal siapa yang tidak ingin mendengar pembicaraan paling bersejarah di sekolah ? Hari itu, tidak diketahui siapa yang menyebarkan, tapi semua orang sesekolah sudah tahu kabar itu, bahkan guru dan wak kantin juga tak ketinggalan. Mereka terus bertanya apa yang mereka bicarakan dan bagaimana hasilnya.

Mungkin engkau pun sudah mulai penasaran, baiklah kita ke dalam saja mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Hai, fit !...” Sapa Roni dengan perlahan sambil menarik kursi dan duduk dekat Fitri.
“Hmmm” Fitri hanya menggumam tak jelas.

Sebenarnya Roni bukan orang yang mudah gugup bila berhadapan dengan perempuan, sudah banyak cewek yang dia hadapi bahkan rata-rata cewek cantik di sekolahnya ngefans sama dia, tapi dia menganggapnya biasa saja. Tapi dasar nona cilik ini bukan cewek seperti umumnya, tak urung Roni deg-degan juga dibuatnya. Tapi bagaimana pun dia seorang lelaki jantan dan bukan orang bermental tempe. Hari ini dia harus membuktikannya, kalau tidak terpaksa dia harus menyunat dirinya sendiri sekali lagi…

“Boleh aku duduk di sini ? Mengganggu ngga ”
“Aku tidak melarang”
“Hmm..eu… kamu sedang baca buku apa sich ?”
“Iya … aku tahu, kamu tidak senang dengan apa yang aku lakukan sekarang. Sebenarnya aku juga tidak mau mengganggu kamu di sini. Tapi aku terpaksa”.

Mendengar ucapan Roni itu, sedikit menarik perhatian Fitri. Tapi dia hanya menoleh kepalanya sebentar sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke buku. Roni bukan orang bodoh, dia tahu bahwa perkataannya sedikit banyaknya sudah menarik perhatian Fitri. Dia mulai percaya diri.
“Akuu....”
“Iya, aku tahu kamu terpaksa karena mereka semua meminta kamu bukan ?”
Roni terkejut setengah mati karena kedatangannya ke situ bisa ditebak dengan jitu oleh Fitri. Namun di luarnya, sikap Roni biasa saja. Dia bukan orang yang gampang menunjuki perasaan.
“Ah kamu… kamu kan tahu di sekolah ini aku tidak suka diperintah, apalagi ditekan orang. Bagaimana aku bisa dipaksa mereka ?”
Fitri memang tidak suka bicara, tapi dia paling anti bila analisanya dianggap salah.
“Kamu tidak usah berpura-pura, aku yakin tidak ada yang mendengar”
“Setidaknya mereka tidak memaksa, tapi aku yang memaksa diriku sendiri”

Fitri hanya diam saja, tidak bertanya apa-apa lagi. Melihat hal itu, Roni keki juga sama si kutu ini.
Roni marah, kalau dia marah biasanya semua kata sumpah serapah tidak banyak keluar dari mulutnya, tinjunya lah yang biasanya banyak bermain. Tapi kali ini lain, tidak mungkin dia memamerkan ototnya sama cewek, tapi tidak bisa tidak dia harus melampiaskan kemarahannya.
“Kurang ajar ya, mentang-mentang semua mereka takut sama kamu, kamu pikir aku juga tidak berani ?” Tentu saja Roni mengatakan itu hanya dalam hati saja, karena hakikatnya dia juga tidak berani sama cewek yang satu ini.
“Oke… aku tidak akan mengganggu kamu lagi. Tapi boleh kan aku duduk menemanimu di sini ?”
“Duduk menemanimu” merupakan kata indah yang enak didengar oleh semua orang. Fitri juga orang, dia bukan robot atau kayu. Selama ini belum pernah ada orang yang berani mengatakannya demikian, ketika ada yang berani pun bukan berarti dia sudah sangat senang. Tidak. Dia membiarkan Roni duduk karena dia sangat paham bagaimana kedudukan Roni di hadapan semua siswa sekolah. Dia tidak ingin melihat bintang ini jatuh berserakan di lantai pustaka hanya karena masalah sepele, apalagi sekolah hampir tamat. Roni mendapatkan nama cemerlang selama ini bukan dengan mudah, banyak cucuran keringat dan usaha. Fitri sangat menghargai usaha orang. Di sekolah, orang yang sedikit menggerakkan hatinya hanya orang ini.

“Apakah ini pustaka ku ?” Fitri menjawab, suaranya tidak lagi seseram sebelumnya. Apakah gunung es sudah mulai mencair ?
“Iya. Siapa bilang bukan ?”

Fitri kembali menolehkan kepalanya, tapi dia tidak bertanya. Dalam menunggu, dia lebih sabar dari siapapun. Karena dia tahu Roni akan menjelaskannya sendiri.

“Setidaknya semua orang tidak berani ke pustaka jika kamu ada disini”
“Apakah kamu bukan orang ?”
“Aku bukan… ”
“Aku barang langka”
“Barang seperti apakah kamu ?”
“Masa kamu tidak tahu aku ini barang apa, kamu kan orang terpintar di sekolah ini.”
“Ya, tapi barang seperti kamu tidak ditulis di buku. Dari mana aku bisa tahu”
“Untuk mengenal ini barang apa tidak cukup hanya dengan ngomong sepatah dua patah kata saja. Perlu banyak waktu”
“Sayang, aku tidak punya waktu sebanyak itu” Kata Fitri sambil bangkit dari kursinya dan beranjak pergi…
“Hei… ! apakah kamu akan pergi begitu saja ?” Tanya Roni penasaran. Hampir saja dia berpikir telah mampu menarik perhatian si kutu langit yang misterius. Ternyata dia kecele. Tapi dia cukup puas karena dilihat dari sikapnya, tampaknya Fitri sudah mau bercakap-cakap dengan dia. Dan yang paling penting, namanya akan makin melambung di sekolah. Dialah satu-satunya orang yang berani melakukan pekerjaan tersulit di sekolah itu.

Begitu Fitri keluar dari pustaka, ribuan pasang mata melihat kepadanya. Ada yang mengintip dari jendela sekolah, ada yang melihat dari pojok bangunan, bahkan ada yang pura-pura tidak melihat, padahal mereka ingin secepatnya menyerbu si jagoan mereka dan bertanya apa saja yang mereka bicarakan berdua di pustaka itu. Kalau bisa, mereka ingin menulisnya supaya bisa mengabadikannya untuk kenangan di kemudian hari. Tapi mereka harus bersabar, tidak ingin sikap mereka itu diketahui oleh si kutu.

Akhirnya Roni keluar juga, dia berjalan dengan gagah dan melemparkan senyumnya yang khas kepada teman-temannya. Roni memang ganteng, badannya juga tinggi, melihat mereka berdua baru saja ke luar dari pustaka, ada banyak pasangan mata yang merasa iri dan cemburu. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, kalau si kutu langit adalah manusia aneh perempuan, si jagoan ini malah si makhluk aneh dari laki-laki. Walau sering tersenyum kepada orang, tapi yang berani tersenyum sama dia bisa dihitung dengan jari.

Setelah tiba dalam kelas, Roni segera diserbu teman-temannya. Entah sejak kapan, mereka sudah menjadi wartawan, buku dan pena lengkap di tangan. Siap mencatat segala apa yang dikatakan Roni. Sikap Roni terhadap teman sekelasnya tidak jelek, dia tidak ingin mengecewakan teman-temannya.

“Kapan kalian sudah berobah rajin mencatat ? Biasanya juga diancam buk tuti belum tentu mau !!! hehehehe”
“Udah Ron, jangan jual mahal gitu ahh… kasih tau donk kalian ngomong apa aja tadi ?”Tanya safi, orang paling ngefans sama si Fitri.
“Iya ron, cepat lah… ” Tanya rita, cewek paling akrab dengan Roni di kelas itu.
“Oke… pasang telinga kalian baik-baik ya...! Dia tidak mau apa yang kami omongin tadi dipublikasi. Paham !!!”
“Haahh… !” Mereka semua bengong.
“Tapi ron, masa dia tahu kami lagi menunggu hasil pembicaraan kalian ?” Tanya novi, cewek paling suka gossip di kelas itu…
“Kamu pikir otak dia sama kek punya kamu ? Ya tahu lah… ”
“Dilihat dari wajah kamu, pasti asyik dong ngomongnya !”
“Biasa aja, hanya tertawa-tawa saja sambil makan kacang !!!” Jawab Roni sambil bergaya bos kedapatan lotre. Senyum tak senyum.
“Tertawa … ! sambil makan kacang lagi…”
“Benar rooon ????” Tanya semua kawannya serentak. Mereka benar-benar terkejut, makan kacang dengan si Fitri ibarat petir di siang hari bolong, tertawa lebih-lebih lagi. Siapa mau percaya ada kejadian semacam itu ? Tapi Roni tidak pernah berbohong. Roni lebih suka dicambuk daripada disuruh berbohong. Mau tidak mau mereka juga percaya apa yang dikatakannya, bahkan ada sebagian yang sudah mulai corat-coret di bukunya. Entah apa yang mereka tulis.

“Heeii kalian ! kenapa tidak bertanya siapa yang tertawa dan makan kacang ? Bodoh banget. Yang makan kacang itu aku doank, yang tertawa juga aku tok… dia tersenyum pun ngga…” Mendengar itu, teman Roni hampir pingsan dibuatnya, mereka geram setengah mati dikerjai oleh Roni. Tapi akhirnya mereka tertawa seisi kelas, dimana hal ini telah membuat siswa kelas lain melongok-longok apa yang mereka lakukan. Ingin masuk tidak berani, terpaksa mereka menunggu info dari wakil masing-masing di kelas itu.

Sampai mau UAN, Roni tidak pernah menceritakan apa yang mereka bicarakan hari itu. Setelah UAN selesai baru dia katakan kepada beberapa orang sahabatnya.

Setelah kejadian di pustaka, Fitri dan Roni sudah sering terlihat berbicara, walau itu hanya sebatas Tanya kabar saja.

Semakin hari, perasaan Roni terhadap Fitri semakin tidak karuan. Perasaannya selalu senang setiap berbicara dengannya, melihatnya bagaikan melihat mentari pagi, dekat dengannya bagai berdekatan dengan bara api, membakar perasaannya sampai ke lubuk yang paling dalam. Dengan semua yang dirasakannya saat itu, dia tahu, cinta sudah menghampirinya. Perasaan yang paling dihidarinya selama ini.

UAN selesai, nilai pun telah keluar. Hanya tiga orang yang tidak lulus, yang lainnya tertawa bahagia… Fitri Rahmat Pobie, si kutu menjadi juara. Nilainya fantastis, 8,7.

Akhirnya SMA selesai juga, tapi cinta Roni justru belum selesai. Bagaimana kisah cintanya dengan si Kutu langit ? Kemana selanjutnya mereka meneruskan pendidikannya ?



 

Related

Remaja 8648981086994581258

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item