umdah

Ikrar Cinta di Baiturrahman | Cerpen

Pengantar Redaksi.

Terwujudnya sebuah ikatan pernikahan didasari oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah dengan perjodohan/dijodohkan. Perjodohan yang lazim terjadi dalam masyarakat adalah orang tua si perempuan memilihkan seorang laki-laki baginya untuk menjadi pasangannya dalam mengarungi bahtera kehidupan. Dalam agama, hal ini dibolehkan bila perempuan itu masih bikir (Belum pernah menikah). Artinya, orang tuanya dapat memaksa anaknya itu untuk menikah dengan lelaki yang telah mereka pilih tanpa harus ada izin dari anaknya itu.

Nah, bagi sebagian perempuan, kata "dijodohkan" ini selamanya tidak enak didengar lebih-lebih bila harus menjalaninya. Mereka selalu beranggapan bahwa di jaman sekarang ini tidak pantas lagi ada model-model perjodohan yang seharusnya ada di jaman Siti Nurbaya. Mereka selalu beranggapan bahwa pernikahan harus didasari oleh cinta. Padahal pepatah mengatakan "Menikah dulu, akhirnya cinta." Lagi pula agama membolehkan orang tua untuk menjodohkan anaknya. Dan  ini bukan tanpa alasan, karena orang tua manakah yang ingin menyengsarakan anaknya, orang tua manakah yang tidak ingin melihat anaknya bahagia ? Jika pun ada kejadian yang tidak senonoh dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, itu perlu dikaji balik status orang tua itu bagi anaknya. Siapa tahu itu hanya anak dalam status sosial saja.

Nah, apakah mungkin seorang perempuan bisa bahagia bila menerima perjodohan dari orang tuanya  ?
Ada baiknya Anda membaca cerpen ini, karena sang penulis dengan indahnya melantunkan hikayat cinta seorang dara yang dijodohkan dengan lelaki yang sangat dibenci.

Sekian.
_________

Ikrar Cinta di Baiturrahman

“Aku tidak mau bu! Aku tidak mau menikah dengan Idrus, aku tidak mencintainya”. Butiran air mata Shazia di pagi itu telah membasahi kebaya putih yang sedang ia kenakan di hari yang bagi orang lain mungkin adalah kebahagiaan, namun baginya adalah hari duka seakan dihujam api neraka yang panas menyayat batinnya.
‘ ibu tidak mau mendengar lagi apa alasan kamu, pokoknya hari ini kamu harus menikah dengan ustad Idrus sesuai wasiat terakhir ayahmu, jika kamu ingin membatalkannya, hari ini juga kamu bunuh ibu! Biar ibu mati sekalian, biar kamu senang” dengan kemarahan ibu Shazia mengambil gunting yang terletak dimeja hias sang pengantin dan menyodorkannya kepada shazia yang hanya mampu menangis karena dipaksa untuk menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Tiba-tiba ibu shazia tersungkur menangis mengiba dihadapan anak semata wayangnya.

“ dulu ibu tidak memohon apa-apa dari mu nak! Sembilan bulan ibu memberikan kasih sayang kepadamu serta mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan dirimu, tidak sedikitpun ibu mengharapkan engkau membalas jasa, ibu berikan semua yang engkau minta , tapi hari ini ibu hanya meminta satu permintaaan darimu, menikahlah dengan nak Idrus! Sesuai amanah terkhir ayahmu, dia akan membahagiakanmu, ibu mohon!” dengan cucuran air mata ibunya terus mengiba kepada anak gadisnya. Shazia yang melihat ibunya terus-terusan mengiba tidak sanggup lagi merasakan kesakitan yang menggoresi luka hati. Akhirnya luluhlah hatinya dan ia menyanggupi permintaan ibunya. Mereka berangkat dengan mobil menuju mesjid Baiturrahman dimana ustad Idrus dan rombongan lainnya sedang menunggu calon pengantin wanita untuk melakukan ijab kabul. Didalam mobil shazia tidak henti-hentinya menangis dan sesekali ia menyeka air matanya, ini ia lakukan demi orang tuannya.

Tepat jam 11.00 wib mobil berhenti disebuah bangunan megah yang indah, bangunan yang mempunyai nilai sejarah ketika kejayaan kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Didepannya terdapat sebuah taman bunga yang indah serta dihiasi kolam ikan yang luas. Inilah mesjid Baiturahman, mesjid agung yang menjadi ikon Nanggroe Aceh Darussalam yang pernah dijuluki Serambi Mekah yang berada di kota Banda Aceh. Semua turis yang berkunjung ke Aceh akan menyempatkan diri mengungjungi mesjid yang bersejarah ini dan mengambil gambarnya untuk mengabadikan momen- momen indah disini. Matahari bersinar cerah, hembusan angin semilir meniup kebaya putih yang ia kenakan. Dengan perasaan yang bercampur baur Shazia didampingi oleh ibu dan saudara lain melangkah menuju sang mempelai lelaki yang telah lama menungggunya. Ia didudukakan disamping sosok lelaki yang memakai koko putih, dengan peci dikepalanya, lelaki yang usianya telah matang sekitar 30 tahun dengan kulit sawo matang serta tubuh yang terlihat agak sedikit kurus dengan postur tubuhnya yang tinggi. Tak terasa air mata terus menetes, namun cepat-cepat ia seka. Ketika pak penghulu menanyakan kesiapannya, Shazia malah terdiam laksana patung, jasadnya memang berada disini, namun pikirannya jauh menerawang ke angkasa luar. Dari kesakitan yang ia rasakan kini, ia hanya bisa mendengar sebuah suara ketika sosok lelaki itu mengikrarkan sebuah kalimat “ saya terima nikah dan kawinnya Shazia binti Muhammad dengan mas kawin 45 gram mas murni dibayar tunai”
“sah” sepontan terdengar suara para saksi. “Grrrrrrrrrrrrrrrrrrh..!” suara itu membangunkan lamunan Shazia, ia kembali menangis, menangis bukan karena rasa terharu atau bahagia, namun ia menangis karena tersiksa, pernikahan yang sama sekali tidak ia harapkan. Ingin rasanya ia menjerit namun terlihat mata ibunya yang terus memandanginya. Sebuah rona kebahagian terlihat dari raut wajah para undangan, termasuk sosok lelaki yang bernama Idrus. Shazia masih mematung ketika suaminya mengecup keningnya,yang terlihat hanyalah butiran air mata yang mengalir di pipi manisnya. Dunia terasa gelap dimatanya, ia kini telah menjadi milik orang lain, semua harapannya bersama sang kekasih pujaan hati pun kini telah sirna seiring bergantinya statusnya menjadi nyonya Idrus. Hiks.. hiks.. ia tak henti-hentinya menangis.

Ketika acara diakhiri dengan tausiyah dan doa barulah sang mempelai beserta kelurga kedua belah pihak berdiri menyambut ucapan selamat yang dihanturkan oleh para tamu undangan. Namun tiba- tiba Shazia menangkap sosok pemuda yang sangat ia kenal berdiri diluar mesjid. Lelaki itu hanya menatap mereka dari kejauhan dengan raut kesedihan. “ bang Aldi” pekik Shazia dalam hati. Tangisan Shazia terus tumpah, ingin ia berlari menuju dan memeluk lelaki tersebut, namun ia sadar, kini statusnya telah menjadi istri orang. Dalam isakan tangis yang menyiksa batinnya ia berjanji untuk meyakinkan hatinya jika perkawinan ini akan segera berakhir.

Mobil pengantin melaju meninggalkan mesjid Baiturrahman yang menjadi saksi bisu pernikahan yang tidak diinginkan oleh Shazia. Ia terus menyesali takdir hidupnya. Banyak angan, asa dan harapan yang telah ia rajut bersama kekasihnya Aldi namun semua pupus hanya karena wasiat terakhir ayahnya. Ia harus menerima kenyataan bahwa Idrus, pemuda yang bukan tipenya dan tidak pernah ia cintai kini telah menjadi pendamping hidupnya. Air matanya terus terurai bersama mimpi yang telah pergi.

Malam itu sang rembulan terlihat tesenyum dengan ditemani sang bintang yang senantiasa memacarkan sinarnnya berkelap kelip indah mehiasi langit. Setelah menikmati makan malam bersama ibu dan suaminya dirumah megah yang bertingkat dua, ia berpamitan kepada ibunya untuk beranjak ke kamar. Dengan senyum yang dibuat- buat ia berusaha menyenangi hati ibunya. Padahal didalam hatinya ia merasakan bagai tercabik-cabik duri karena ia harus bersadiwara suka diatas duka. Didalam kamar pengantin yang dihiasi dengan bunga-bunga indah serta wanginya tercium menelusuri setiap sudut ruangan Shazia langsung merebahkan diri diatas kasur empuknya. Dia berusaha untuk tertidur pulas agar tidak bisa menemani suaminya. Tidak ada kata sepatahpun yang terlontar dimulutnya. Ia terus terdiam bagaikan patung yang tak bisa bersuara. Idrus hanya tersenyum memandangi istrinya merebahkan diri diatas ranjangnya sampai tidak ada celah untuk dapat ia rebahkan pula disampingnya. Sebelum ia tidur ia mengambil wudhu untuk shalat insya. Ingin ia membangunkan istrinya itu, namun kelihatannya Shazia telah terbawa ke alam mimpi berkelut didalam selimut. Setelah selesai shalat Idrus mengambil sebuah bantal dan ia rebahkan pula tubuhnya diatas kursi dekat pojok kamar sampai terdengar kokok ayam dan suara azan yang membangunkan Idrus untuk melakukan kewajibannya sebagai hamba Allah. Idrus mendekati istrinya yang masih berselimut dan berusaha membangunkannya

“ dik[1] Shazia, bangun sayang! Sudah azan , kita sholat subuh berjamaah yuk!”
Suara tersebut tidak digubris oleh Shazia, ia terus tertidur dengan buaian mimpi yang melenakannya. Shazia bisa dibilang bukan wanita shaleha. Ia tidak pernah melaksanakan kewajiban shalat, namun almahum ayahnya selalu mengingatkannya, tapi tak sedikitpun didengarkan,sampai-sampai orangtuanya kewalahan. Ia juga suka fashion dan suka keluar malam dengan pakaian yang tidak menutupi semua tubuhnya dan tidak menutupi kepalanya hingga tak hayal jika ia tidak menyukai pernikahan ini karena dia dan suaminya sungguh jauh berbeda. Tipe suami yang dinginnkan Shazia adalah muda,lulusan universitas terbaik, kaya, keren dan gaul. Sedangkam Idrus seorang pemuda miskin yang hidup sederhana dan lulusan dari pondok pesantren yang kini dipercaya menjadi pengajar agama di majlis ta’lim di daerahnya. Ia yang berpenampilan sederhana dengan baju koko dan peci dikepalanya membuat Shazia semakin ilfeel dan tidak menyukainya. Ia tidak menyukai orang yang ketinggalan zaman. Pagi itu dimeja makan Shazia meminta ibunya untuk membelikan mereka rumah baru yang bisa ditempati olehnya dan suaminya. Ia berdalih ingin berbulan madu berdua tanpa ada yang menggangu. Dengan bahagia ibu Shazia menyetujuinya, ia senang melihat putrinya yang sudah mulai bisa menerima kehadiran Idrus. Hari itu juga ibunya mengajak Shazia dan suaminya melihat-lihat rumah yang ingin mereka tempati. Keluarga Shazia bisa dibilang cukup kaya, almarhum ayahnya adalah seorang kontraktor, sedangkan Shazia adalah putri semata wayang mereka. Jadi apapun keinginan Shazia selalu dipenuhi seperti halnya mobil baru, baju baru, beserta pelengkapan lainnya. Karena selalu dimanja membuat Shazia bebas melakukan apa saja, sampai-sampai ketika ia dinasehati tidak diindahkan lagi. Oleh karena itu almahum ayahnya sangat takut bila Shazia melangkah lebih jauh lagi dan hilang kontrol. Namun ketika ia mengikuti majlis ta’lim sekali didaerahnya yang di pandu oleh ustad Idrus disanalah ayahnya mengenal Idrus dan semakin dekat dengannya, namun saat itu ketika katika sedang asyik mengobrol di pinggir jalan depan mesjid tua,sebuah kereta hampir menabrak Idrus namun ayah Shazia yang berusaha menyelamatkannya hingga membuat kepalanya membentur tembok. Tapi diakhir hayatnya ia berpesan kepada Idrus agar menikahi putrinya untuk mampu membimbingnya kepada jalan yang benar. Wasiat terakhir itulah yang kini telah diwujudkan Idrus.

Akhirnya Shazia bisa bernafas lega, kini rumah baru yang ia tempati bisa membuatnya lebih leluasa melakukan tindakan apapun tanpa pantauan oleh ibunya. Ia bisa marah, menangis, tertawa dan semua hal. Kini tak ada yang bisa melarangnya. Barang-barangnya telah diangkut kerumah barunya. Ia kelihatan bahagia menggandeng tangan suaminya didepan ibunya. Ketika hari menjelang sore ibunya berpamitan pulang dan tinggalah Shazia dengan suaminya dirumah baru mereka. Malam itu ketika mulai sunyi Idrus mengajak Shazia untuk shalat isya , tetapi Shazia malah lebih memilih tidur. Suaminya masih bisa memakluminya” mungkin istriku terlalu capek tadi siang, biarkan ia beristirahat dulu” pikirnya. Ketika selesai shalat dan berzikir suaminya menuju ranjang tempat Shazia tertidur lelap. Dipandangi wajah istrinya lekar-lekat dengan rasa syukur hingga ia mencoba untuk mencium kening istrinya itu namun tiba-tiba
“plaaaaaaaaaaaaak! “ sebuah tamparan mengenai pipi pemuda yang santun itu.
“ kurang ajar sekali kamu ya! Berani menyentuhku! Coba kalau tadi aku terlelap dalam tidur bisa-bisa kamu telah memperkosa diriku” lontaran itu bertubi-tubi ia lemparkan kepada lelaki yang sangat ia benci.
” astaqfirullah, dik Shazia aku ini suamimu. Aku telah halal menyentuhmu, jadi aku tidak ingin mendengarkan kamu berkata demikian, namun jika aku telah menggangu tidurmu aku minta maaf dik“ dengan sangat santun Idrus mencoba menenangkan emosi Shazia yang melonjak.
“ dengar ya Idrus!, aku tidak pernah mencintai kamu, sampai kapanpun! Penikahan ini kulakukan karena terpaksa demi memenuhi wasiat terakhir ayahku. Jadi jangan pernah berharap aku akan mengakui kamu sebagai suamiku, apalagi membiarkan kamu menyentuhku. Gara- gara kamu hubungan ku dengan bang Aldi yang kami bina selama lima tahun pupus ditengah jalan, itu semua gara-gara kamu! Jadi demi ibu kuhormati kamu, kuharap kamu tidur dikamar lain, dan jangan pernah ganggu kehidupanku.” Dengan isak tangis dan emosi ia luapkan semua kemarahannya kepada Idrus. Melihat kondisi demikian idrus mengalah. Ia dapat merasakan tekanan batin yang dialami Shazia. Sebelum ia beranjak ke kamar lain ia sempat berkata
” maafkan aku dik Shazia, aku tidak tahu tentang semua ini, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan, kamu bisa membenciku, memarahiku asalkan dirimu bisa tenang, namun engkau tetap menjadi istriku yang akan kucintai sepanjang hidupku, akan kutunggu saat itu, dimana pintu hatimu bisa terbuka untukku, kuharap untuk saat ini, kita bisa menjadi teman walaupun engkau menganggap aku musuhmu”. Idrus berlalu meninggalkan Shazia dikamarnya dengan luapan kesedihan.
Pagi hari ketika Idrus hendak sarapan terlihat meja yang kosong tanpa makanan. Shazia yang telah rapi dengan pakaian modisnya yang terlihat cantik dengan rambut panjangnya sudah berkemas memegang kunci mobil hendak keluar.
“ kamu jangan cari aku!, mungkin aku pulang agak malam jadi jangan telepon atau sms aku” Shazia terus melangkah tanpa sedikitpun ada rasa simpati kepada suaminya”
“ hati- hati ya dik, semoga Allah melindungimu”. Dengan tersenyum Idrus melepaskan kepergian istrinya. Setelah pulang dari pengajaran pengajian Idrus mencoba memasak didapur untuk makan malam mereka. Namun yang ditunggu tak kunjung datang. Ia terus menunggu Shazia hingga larut malam. Hingga terdengar suara mobil berhenti di bagasi depan rumah. Idrus melihat istrinya pulang dalam keadaan mabuk – mabukan, ia terus memapahnya kekamar, walau shazia menolak untuk dipapah. Begitulah yang dilakukan Shazia akhir- akhir ini, ia selalu keluar pagi dan pulang malam. Ternyata ia masih berhubungan dengan mantan kekasihnya dulu. Itu terbukti dari komunikasi mereka lewat handpone dan Aldi juga sering menjemput dan menghantar Shazia pulang. Walaupun demikian Idrus berusaha bersabar,ia akan menunggu saat dimana istrinya sadar dan mau membuka hatinya menerima ia sebagai suaminya. Saat itu ketika Shazia hendak keluar idrus memberikan sesuatu kepada Shazia”
“adik ini ada hadiah ulang tahun buat mu dik, sebuah jilbab dan baju muslimah, semoga bisa bermamfaat untuk adik. Saya sering memberi tausyiah kepada warga akan kewajiban seorang wanita menutup aurat, tapi saya merasa malu ketika mereka menyebutkan nama adik, mereka bertanya “kenapa istri Teungku[2] tidak menutup aurat?’ Saya tidak memaksa adik memakai ini, mungkin ini bisa adik simpan siapa tahu suatu saat nanti bermafaat buat adik” dengan nada sopan Teungku Idrus menyampaikan keinginan hatinya. Namun respon yang buruk diberikan oleh Shazia” kamu pikir aku ini wanita kampungan, yang memakai baju bodoh seperti ini, saya sudah bilang jangan pernah ikut campur kehidupan saya, jika kamu tidak suka dengan saya, silahkan ceraikan saya!”. Shazia terus melontarkan kata-kata kasarnya agar idrus tidak suka lagi dengannya sehingga ia mau menceraikan dirinya. Namun kesabaran Idrus terus bertahan ia hanya bisa berdoa agar Allah memberi petunjuk kepada istrinya. Suatu hari ibu Idrus mengunjungi rumah anaknya. Ia baru menyadari bahwa anaknya telah diperlakukan buruk oleh menantunya, ia menyuruh anaknya untuk menceraikan istrinya dan menikahi Irna gadis soleha yang pernah dekat dengan dirinya ketika mondok dulu. Namun dengan tutur lembut idrus menolak keinginan ibunya, ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup, dan ia yakin istrinya akan berubah sesuai keinginan almarhum bapak mertuanya. Mendengar hal tersebut ibunya tidak bisa berbuat banyak, ibu nya berharap jalan yang ditempuh idrus adalah jalan yang terbaik. Keesokan harinya Shazia mulai terserang demam tinggi, idrus setia menemani sang istri mengompres suhu tubuhnya, membuatnya bubur,bergadang menjaga kondisi kesehatanya dan membawanya kerumah sakit. Dari pihak dokter Shazia divonis mengidap tipes, hingga ia harus dirawat dirumah sakit, sementara suaminya masih setia menunggunya. Ada rasa yang berbeda kini ketika ia melihat suaminya tertidur lelap dikursi ruangan rumah sakit. wajah yang lelah ia pandangi, terbesit rasa yang berbeda dihati Shazia, namun ia tepis rasa itu karena gengsi demi bang Aldi. Hari demi hari berlalu dirumah sakit Zainal Abidin Banda Aceh, rambut cantik Shazia perlahan- lahan mulai rontok, jadi terpaksa ia menggunakan jilbab dan memakai pakaian muslimah agar menutupi sebagian kepala yang telah gundul oleh kerontokan. Ia sekarang sudah bisa meninggalkan rumah sakit dan pulang kerumah, melihat istrinya memakai kerudung Idrus terus memuji Shazia” subhanallah adik Shazia cantik sekali!” namun pujian itu tidak berarti bagi Shazia , ia memakai kerudung itu bukan untuk suaminya akan tetapi untuk kekasihnya Aldi agar tidak jijik melihat rambutnya yang rontok. Setelah benar- benar sembuh nantinya ia akan kembali membuka kerudung yang dianggapnya pakaian yang kurang mode.
Sudah seminggu selama Shazia sakit Aldi tidak menghubunginya bahkan tidak juga menjengguknya. Shazia yang telah besepakat dengan Aldi untuk segera berpisah dengan suaminya dan menikah dengannya akhirnya menemui sang suami Idrus yang sedang mempelajari kitab Sirus Shalikin di kamarnya untuk bahan pengajarannya besok.
“tok- tok..!” Shazia mengetuk pintu
“ masuklah pintu tidak saya kunci!” ketika melihat Shazia yang telah berdiri disampingnya, Idrus berusaha tersenyum untuk istrinya dan mulai bertanya ada gerangan apa Shazia tumben masuk kekamarnya. “ ada apa adik?”
“ sudahlah aku muak dengan sebutan itu, kamu jangan pernah berharap dengan panggilan demikian aku akan luluh hati kepadamu, dengar ya! Aku ingin kamu mengakhiri semua ini, kamu orang baik, aku tidak ingin terus-terusan menyakitimu, tapi aku juga tidak bisa mencintaimu. Kumohon ceraikan aku! Aku ingin menikah dengan bang Aldi, kami telah bersepakat". Dengan luapan emosi dan airmata Shazia terus melemparkan kata-kata dengan nada tinggi.
“ maaf dik Shazia, aku tidak bisa menceraikanmu, ingatlah! Allah membenci perceraaian. Aku akan tetap bersabar menunggumu sampai hatimu benar-benar terbuka untukku. Engkau boleh menyakitiku, bagiku tidak menjadi masalah selama itu membuat mu bahagia, karena aku mencintaimu dunia akhirat, jadi sebelum kamu mengambil keputusan ini, berfikirlah matang-matang” .
Mendengar penuturan Idrus yang masih tetap bersikukuh pada pendiriannya, ia juga tidak membencinya bahkan enggan menceraikannya. Shazia semakin kehabisan cara dan kesabaran untuk bisa membuat Idrus mau mentalak dirinya
” baiklah jika kamu tidak mau menceraikanku, besok aku akan urus gugatan cerai, aku tidak perduli lagi dengan perasaan ibuku, aku sudah tidak sanggup membina hubungan denganmu sementara didalam hatiku ada cinta untuk orang lain”. Idrus tidak menanggapi lagi perkataan Shazia, ia berusaha diam dan tetap bersabar agar emosinya tidak muncul, ia kemudian memilih keluar membiarkan Shazia dikamarnya yang terus meluapkan uneg- unegnya. Melihat Idrus yang terus mendiamkan Shazia sampai pagi membuat Shazia ingin segera menemui kekasihnya dan mengurus surat gugatan cerainya, namun ada sisi perasaan lain yang ia terus pungkiri, perasaan rindu ingin melihat suaminya memberikan perhatian kepadanya seperti yang dilakukan hari-hari sebelumnya. Idrus berangkat dari rumah pagi-pagi sekali, ia telah menyiapkan sarapan pagi untuk istrinya yang masih tertidur pulas dikamar pojok kanan. Idrus mencoba menjauhi Shazia untuk sementara waktu agar ia tidak terus- terusan dituntut untuk mengucapkan lafadh talak kepada istrinya. Shazia yang bangun pagi itu terus mencari suaminya disetiap sudut, namun tidak ia dapati, ia berdalih ingin mennyampaikan perihal gugatan cerai yang telah diberitahukan semalam kepada suaminya, padahal didalam hatinya ia juga sedang menanggung rindu ingin mendengar suara dan ingin menatap wajah suaminya yang semenjak beberapa minggu lalu mulai mengetuk pintu hatinya.

Jam 9 pagi Shazia berangkat dengan mengemudi mobilnya untuk menemui Aldi mebahas masalah perceraainnya dan pernikahan mereka. Shazia telah menghubungi Aldi namun tidak ada jawaban, ia juga sempat mengirimkan sms namun balasan Aldi ialah ia sedang sibuk dengan pekerjaan dikantornya. Mobil Shazia terus melaju menuju arah kantor Aldi, namun selepas disana ia tidak menemui Aldi, menurut penuturan asistennya, Aldi sudah tidak masuk kerja selama seminggu. Shazia juga mencarinya dirumah nya namun alhasil nihil. Dengan pikiran yang terus berkecamuk didalam kepalanya, ia memutuskan untuk menenangkan pikirannya dengan mendatangi pantai Lampuuk yang terkenal di Banda Aceh dengan keindahan pasir putihnya. Sesampai di sana ia bukan mendapat ketenangan malah kebencian yang sangat mendalam ketika melihat sosok lelaki yang ia kenal merangkul erat seorang gadis yang berjalan di sampingnya.
“plaaaaaak !” sebuah tamparan tepat mengenai pipi aldi
“ tega abang ya membohongi adik, abang bilang abang sibuk, ternyata abang sedang asyik-asyikan bersama perempuan lain” dengan rasa yang perih ia coba bertahan.

Melihat tamparan Shazia yang memalukannya didepan umum, Aldi pun kembali menampar shazia secara spontan hingga membuat shazia menangis dan meninggalkan mereka. Namun tiba- tiba Aldi sadar akan tindakan yang dilakukan secara tidak sadar, ia berusaha mengejar shazia dan memberi penjelasan, namun sia-sia. Dengan laju mobil kecepatan tinggi Shazia mengemudikan mobilnya. Kini Shazia sudah sadar, orang yang selama ini ia cintai malah melukai hatinya, sedangkan orang yang ia lukai hatinya, begitu berjiwa besar seperti malaikat, ia tidak pernah kasar seidikitpun kepadanya, ia selalu memuliakan dirinya, namun apa yang ia berikan kepada suaminya yang begitu tulus mencintainya. Shazia menyesal, kini nyatalah kerinduan yang mendalam kepada suaminya. Ia ingin segera menemui suaminya untuk meminta maaf atas segala kesalahannya, ia ingin memeluk erat dan mencium suami yang berhati malaikat itu. Ia tidak perduli lagi apapun nantinya keputusan suaminya, ia ridha jika suaminya menceraikannya atas segala tingkah laku yang pernah menyakiti hati suaminya. Yang ia ingin kan sekarang adalah ia ingin menemui suaminya dan ingin mengatakan cinta kepada suaminya itu. Mobil terus melaju, perasaan shazia terus berkecamuk menahan rasa rindu untuk suaminya, dengan deraain air mata kerinduan yang tidak bisa dibendung lagi, shazia kehilangan kosentrasinya, hingga tiba-tiba ia menambrak pembatas jalan. Kepalanya pun terbentur dengan sangat keras dan mengeluarkan darah segar.

Bunyi sirine ambulan membawa shazia kerumah sakit Zainal Abidin. Ia dimasukkan keruang ICU dan menjalani operasi, sedangkan pihak keluarga serta suaminya berharap-harap cemas menunggu hasil operasi. Akhirnya dokter pun keluar dari ruang ICU, dokterpun mengatakan Shazia masih kritis ia koma jadi harus dirawat diruang intensif dengan alat bantu pernapasan seperti tabung oksigen dan alat detak jantung. Dokter menyerah dan berkata “semoga ada keajaiban dari Allah untuk istri bapak”!. Suaminya diperkenankan masuk dengan pakaian khusus untuk melihat kondisi istrinya. Idrus hanya mampu berdoa dan mengurai air mata melihat istrinya terbujur kaku bagaikan mayat. Ia terus setia menemani sang istri, dengan zikir dan bacaan Alquran terus ia lantungkan disamping sang istri. Setiap hari dan malam ia terus berdoa agar istrinya mendapat keajaiban, tak henti- hentinya ia berpuasa dan tahajud bermunajah memohon kesembuhan istrinya. Dua tahun telah berlalu shazia masih dalam keadaan koma, sedangkan suaminya masih setia menunggunya. Dokter telah meminta pihak keluarga shazia untuk mengkhiri penderitaannya, karena pada dasarnya Shazia sudah mati,hanya otaknya yang masih bekerja dan berfungsi, sedangkan organ lain tidak . untuk bernafas saja Shazia dibantu oleh alat pernafasan jika semua alat dilepas dari tubuhnya makanya otaknya pun akan berhenti bekerja. Ibu Shazia telah setuju untuk melepaskan semua alat intensif ditubuhnya, mengingat waktu yang lama telah mereka lalui, tapi Shazia belum juga tersadar. Namun suaminya menolak, ia masih berharap Shazia akan sembuh. Dengan terpaksa ibunya tetap akan meminta dokter untuk mengakhiri penderitaan Shazia dengan melepas semua alat yang membantunya, agar Shazia bisa meninggal dengan layak. Besok adalah hari pelepasan semua peralatan medis yang membantu pertahanan shazia selama ini. Walau tidak bisa berkata apa- apa lagi ia terus berusaha untuk menyembuhkan Shazia, sampai- sampai ia mendatangkan Aldi untuk kesembuhannya. Sebelum alat medis itu dilepas Idrus menyempatkan diri melihat istrinya untuk yang terakhir kali dan mengajaknya untuk berkomunikasi. Dengan kesedihan yang mendalam ia terus berbisik ditelinga istrinya
“ dik Shazia sayang ! bangunlah, ayo buka matamu!, mereka ingin melepaskan alat ini darimu, namun abang tidak setuju. abang sangat mencintaimu dik, jadi abang sangat berharap kamu sembuh, abang mau kamu membuka matamu sebentar saja. Dengan suara yang terbata- bata idrus berusaha menguatkan hatinya.” Ingatkah dulu ketika adik mulai memakai hijab pemberian abang, hati ini sangat senang, walau kamu memakai dengan terpaksa, adik sangat cantik, dan abang semakin mencintaimu”dan satu hal lagi, adik ingat selepas adik sembuh dari sakit tipes dulu, abang temukan secangkir kopi diatas meja di kamar abang, tapi abang yakin itu buatan adik, itu kopi buatan pertama dari adik untuk abang, namun itu kopi yang terenak yang pernah abang cicipi, abang ingin adik membuatkan lagi untuk abang, jadi adik harus membuka mata ya?” tanpa mereka sadari butiran air mata shazia membasahi pelupuk matanya, ia merasakan cinta yang begitu besar dari suaminya, namun ia tidak bisa bergerak dan bersuara. Idrus mulai putus asa ia tidak melihat reaksi apa- apa dari istrinya, terkhir kali ia berusaha menyadarkan istrinya dengan berkata” Dik maafkan abang yang telah membuat adik jadi seperti ini, adik ingin menikah dengan bang Aldikan? Lihatlah disini bang Aldi menunggumu!. Ia akan segera menikahimu, jika adik menginginkan abang menceraikanmu, akan abang lakukan, namun sebelum itu bangun dulu” bebagai macam cara Idrus berusaha membangunkan Shazia namun jasad itu terus membujur kaku. Dengan berusaha ikhlas akhirnya Idrus beranjak keluar karena tidak sangup melihat istrinya yang akan segera pergi meninggalkannya. Namun tiba- tiba tangan Shazia bergerak alat pendetak jantung pun menyala dengan stabil.
“ Teungku Idrus coba lihatlah Shazia!” Aldi memanggil Idrus yang membelakanginya hendak keluar. Shazia mula membuka matanya sang dokter pun masuk keruangan tersebut. Mata shazia terbuka secara perlahan, ia mencari sosok lelaki ia cintai kini. Di hadapannya telah berdiri Idrus, Aldi, dokter dan dua orang perawat
“bang Idrus” pekiknya. Dengan rasa syukur idrus menyambut hangat panggilan pertama Shazia untukknya. Dulu ia tidak pernah dipanggil dengan sebutan abang[3] yang ada hanya lah” kamu”dengan nada suara tinggi. Idrus terus menghampiri shazia yang ingin mengatakan sesuatu kepadanya dengan suara parau,dan terbata-bata serta kondisi tubuhnya yang masih lemah dengan butiran airmata yang berlinang disudut matanya.
“ bang Idrus maafkan aku.. aku telah menyesal menyakitimu, abang begitu tulus mencintaiku. Namun aku..? hiks hiks shazia menahas nafasnya ada sedikit sesak rasa dibatinnya jika mengingat perlakuaannya untuk suaminya, namun suaminya begitu setia menunggunya selama dua tahun. Abang pernah bilangkan akan menunggu sampai adik mau membuka hati untuk abang, hari itu sebelum kecelakaan sebenarnya adik ingin menemui abang dan ingin mengatakan kalau di hati ini benar-benar telah mencintaimu, engkau pilihan yang terbaik dari Allah untukku. Aku menyesal bang telah menyakiti abang, aku mohon abang jangan menceraikan aku, namun jika abang ingin menceraikan aku, aku kini telah ikhlas”. Butiran air mata terus membasahi hijab yang suaminya pakaikan untuknya ketika ia masih dalam keadaan koma.
“ssssts..! jangan berbicara itu lagi, kamu adalah istri dunia akhiratku, selamanya akan begitu sampai Allah yang bisa memisahkannya”

Dengan terharu Shazia memeluk erat suaminya, ada rasa kedamaian yang dirasakan jauh dilubuk hatinya, rasa yang hampir disia-siakannya
“ bang terimakasih untuk semuanya, untuk doa yang telah engkau panjatkan ketika aku masih koma, ajari aku untuk menjadi istri sholeha yang bisa berbakti kepadamu sampai akhir hayatku, dan dengan hijab ini akan kumulai hidupku yang baru semata-mata karena Allah,” suaminya yang mendengar ucapan shazia hanya bisa menganguk dan memeluk erat istri tercinta, istri yang didamba dengan penuh kesabaran, hingga kini telah nyata kembali padanya”
“ bang satu lagi pinta adik, adik mau abang membawa adik ke mesjid Baiturrahman, sekarang,adik ingin mendengarkan ikrar cinta kembali disana, dimana sebelumnya adik tidak pernah menganggap ikrar itu ada, sehingga ikrar itu berlalu begitu saja tanpa pernah memberi makna bagiku’’. Shazia benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan saat ini. kesempatan kedua yang di berikan Allah baginya untuk berubah menjadi istri yang baik tidak ingin ia lewatkan beigitu saja .
Sesuai permintaan Shazia, idrus mengendong Shazia yang masih dalam kondisi tubuh lemah dan kaku, mereka berangkat menuju mobil dengan didampingi orang tua mereka, sesampai disana Idrus tetap mengendong shazia sampai didalam mesjid. Disana lah ikrar kembali diperdengarkan. Baiturahman kembali menjadi saksi bisu kedua ikrar cinta mereka. Dalam keharuaan yang membiru Shazia tak henti- hentinya menangis dan bersyukur. Ikrar cinta di Baiturrahman kini telah memberi bekas kepadanya. Ia pun bahagia bersama alam semesta yang juga turut ikut bahagia bersamanya. Dan iapun kembali berbisik “ abang kapan kita berbulan madu?”
“secepatnya” tukas suaminya . J
Mereka pun tersenyum bahagia penuh makna.

Karya: Maisarah, S.pd

Related

Life Style 1756243857114185469

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item