umdah

Ruang Shalat Perempuan dipisahkan di Masjid Besar Paris

PARIS - Sebuah keputusan yang ditetapkan oleh para pemimpin di Islamic Center terbesar di Prancis untuk mengadakan ruang shalat yang terpisa...

PARIS - Sebuah keputusan yang ditetapkan oleh para pemimpin di Islamic Center terbesar di Prancis untuk mengadakan ruang shalat yang terpisah bagi perempuan telah menimbulkan kemarahan dari beberapa kalangan perempuan yang menuntut hak untuk bisa beribadah di ruang yang sama dengan laki-laki.

“Untuk memberikan mereka kenyamanan, kami telah menyediakan ruangan yang besar untuk para perempuan - bukan di basemen, tapi di mezzanine (lantai dua di tengah bangunan)," ungkap juru bicara Masjid Besar Paris kepada wartawan The Local.

Menara Masjid Besar Paris.
Menara Masjid Besar Paris.
"Semua perempuan merasa puas. Tentu saja mereka tidak bisa melihat imam, tapi sebelum ini juga mereka tidak bisa, karena mereka diposisikan di belakang tirai,"

Keputusan untuk mengakomodasi jumlah Muslimah yang semakin meningkat ke ruangan yang berbeda ini telah menjadi isu hangat sejak awal bulan ini. Berdasarkan aturan yang baru, laki-laki dan perempuan harus dipisahkan dalam proses ibadah shalat di Masjid Besar Paris.

Sebelum diberlakukan peraturan ini, para Muslimah biasa melaksanakan ibadah shalat di ruang shalat utama masjid di belakang para laki-laki di balik tirai.

Sebagian Muslimah mengaku senang dengan keputusan baru ini.
"Saya biasa ke masjid lima kali seminggu dan ruang baru ini cukup besar, terasa akrab, dan yang penting masih di dalam masjid," seorang Muslimah bernama Ilham memberitahukan televisi Prancis, TF1.

Walau begitu, aturan baru ini memiliki satu sisi negatif dari sudut pandang perempuan
“Satu-satunya hal yang tidak berkenan adalah kami harus lewat di depan ruang wudhu' laki-laki untuk sampai ke sini," kata Siham, 34 tahun.

Di zaman Rasulullah SAW, laki-laki dan perempuan biasanya melaksanakan ibadah shalat bersama-sama di masjid, dengan laki-laki berada di depan di belakang imam, diikuti oleh anak-anak dan perempuan paling belakang. Rasulullah tidak membuat atau meminta sahabat untuk membuat tirai atau dinding antara laki-laki dan perempuan.

Kebijakan untuk memisahkan laki-laki dan perempuan dalam ibadah shalat yang diberlakukan sekarang adalah untuk melindungi Muslim, baik laki-laki atau perempuan, dari gangguan syaitan yang akan berbisik ke dalam hati mereka.

Hal ini khususnya antara laki-laki dan perempuan, agar hati mereka tetap bersih dan khusyu' dalam ibadah shalat. Karena alasan yang samalah dalam Islam diadakan aturan-aturan khusus yang melibatkan bercampurnya laki-laki dan perempuan.

Oposisi

Walaupun diterima oleh kebanyakan Muslim, ruang baru yang terpisah di Masjid Besar Paris ini ditentang oleh sebagian perempuan.

“Memindahkan perempuan tidaklah adil. Kami ingin membicarakan tentang masalah ini," ungkap Hanane Karimi, juru bicara untuk perempuan.

Menolak keputusan tersebut, beberapa perempuan menuntut hak mereka untuk bisa beribadah di ruang yang sama dengan laki-laki. Seminggu yang lalu, usaha dari beberapa perempuan untuk memasuki ruang shalat utama di masjid digagalkan setelah mereka dihadang oleh petugas keamanan masjid dan beberapa laki-laki lainnya.

“Mereka adalah korban tindakan kekerasan" ujar Karimi, mengingat kembali usaha memasuki masjid beberapa waktu yang lalu tersebut.

Pencegahan usaha beberapa perempuan untuk memasuki ruang utama masjid waktu itu diikuti oleh beberapa permintaan kepada kepala Masjid Besar untuk mengizinkan mereka beribadah di ruang utama.

Penempatan ruang bagi perempuan saat ini banyak dikritik oleh anggota Komunitas Muslim Prancis yang menganggap hal ini dipengaruhi oleh "kampanye kalangan ekstrim".

“Masjid mengizinkan para jama'ah untuk beribadah secara tenang. Bukan tempat untuk membuat kontroversi dan perselisihan," kata Abdallah Zekri, presiden Tim Pengamat Nasional melawan Islamophobia.

Prancis adalah rumah bagi minoritas Muslim sebanyak enam juta jiwa yang merupakan jumlah terbesar di negara Eropa. Warga Muslim dan adat tradisi mereka telah menjadi pantauan dalam beberapa tahun belakangan di Prancis.

Di bulan Oktober 2012, sebuah jajak pendapat oleh departemen opini Ifop menemukan bahwa hampir setengah dari warga Prancis menganggap Muslim sebagai ancaman bagi identitas negara mereka.

Jajak pendapat ini juga mengungkap bahwa sebagian besar orang Prancis menganggap bahwa Islam saat ini mengisi posisi jabatan yang terlalau berpengaruh di dalam masyarakat.

Related

News 8220346673702597992

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item