umdah

Pesona Cinta Di Sakratul Maut | Ep 3

Hei gembel.....!!! berhenti....!!!
Rasa takut bercampur gundah memenuhi relung jantungku yang berdetak semakin tak beraturan. Ku tak ingin kembali berurusan dengan satpam hitam lebam itu. Ia memanggil ku gembel jangan-jangan karna ku tidak memasukkan baju kedalam celana. Perlahan ku menoleh kebelakang mencari sumber teriakan itu.Ternyata dugaan ku salah. Bukan satpam tapi tiga berandal gondrong, berowokan dan berbadan kekar. Tak salah lagi! merekalah yang akhir-akhir ini sering mencari-cari ku, kata Arif. Ku lihat sosok bringas itu menuju kearah ku.

Pesona Cinta
“kak Angga…….! Lari kak…….! lari kak……!”.
Seketika perhatianku pada brandal itu buyar mendengar suara teriakan lela. Ya! Itu suara lela. Suara itu tidak asing lagi di telinga ku. Perlahan ku menoleh mencari sumbernya sambil memastikan siapa pemiliknya. Ku lihat Aspalela berdiri di pekarangan sekolah didampingi tema-temannya. Itu dia Aspalela, sahutku dalam hati. Ku percepat langkah ku memasuki pekarangan sekolah. Ku tak ambil peduli dengan brandal itu lagi. Ku terus berjalan sambil tersenyum pada mereka yang mendukungku. Hati ku semakin damai ketika pak satpam keluar dari kantor menuju pintu gerbang yang sudah waktunya ia kunci.

Akhirnya aku sampai diruang kelas. Perlahan ku masuk dan mengucap salam buat teman-temanku yang sedang menanti guru pengawas ujian. Sepontan mereka bersorak menyambut kedatangan ku. Aslan, siketua kelas langsung mendendangkan selawat..
”thalaal badru alaina minsaniyyatil wada`hahahaaaaa...” suasana kelas pun riyuh menertawaiku. Ada-ada saja tingkah mereka. Aku hanya tersenyum bahagia menyikapi canda tawa mereka. Itu wajar buatku yang sudah lama menghilang dari bangku sekolah. Jujur saja sebenarnya akupun sudah lama merindukan canda dan tawa bersama mereka. Dan hari ini mereka membuatku puas dan lega.

Tak lama kemudian pengawas ujian pun masuk membagikan soal ujian.. Suasana kelas hening seketika.
“ bismillah, selamat bekerja” salam pengawas.
Bayangan bunda berkelebat di mataku. Seakan ia tersenyum padaku.
”Oh bunda demi engkau akan ku tuntaskan perjuangan ini dengan sempurna”.

Tanpa terasa indahnya hari-hari ku jalani bersama teman-teman. UAN dan UAS telah kuikuti dengan penuh semangat dan tanpa hambatan apapun. Berandalan itupun tidak pernah muncul lagi. Namun demikian hatiku masih saja dibalut resah dan penasaran. Siapa sebenarnya berandalan itu dan apa mau mereka mencariku. Huuuufffff..... kumenghela nafas panjang mencoba melupakan brandalan itu. Aku khawatir kalau mereka masih saja mengintai dan menunggu kesempatan yang tepat untuk menyergapku.

Ternyata, apa yang selama ini kukhawatirkan itu benar. Senja itu, kala sepoi-sepoi angin bertiup dari puncak bukit menyusup kebun-kebun kurma yang rimbun, membelai ladang gandum yang menguning dan menghempas badanku yang sedang bersandar dibawah pohon palem yang rindang, tak jauh dari pekarangan rumah. Sebuah avanza silver yang ditumpangi pria bersenjata laras panjang melintas. Meraka tidak lain adalah anteknya Yahudi Israel yang sedang menyusup dalam misi memblokade dan menguasai tanah kelahiranku, Palestina Merdeka. Jantungku berdegup kencang decemkram kegelisahan melihat tiga berandal yang mencegatku tempo hari ada diantara mereka. Barulah dapat ku mengerti kenapa ku terus diincar oleh mereka. Jangan-jangan mereka telah mengetahui kalau aku adalah saksi kunci atas terbongkarnya beberapa kasus penyelundupan narkoba dan penculikan anak-anak pertengahan bulan lalu.

Sebenarnya aku tidak suka mencari masalah dengan mereka, karna taruhannya adalah nyawa. Tapi semua itu dengan sangat terpaksa kubeberkan karna Islam yang agung mengajarku banyak hal, membiarkan suatu kemungkaran terjadi itu lebih mungkar dari kemungkaran itu sendiri. dan membiarkan suatu kedhaliman terjadi itu lebih dhalim dari kedhaliman itu sendiri. Singkatnya membiarkan suatu kejahatan terjadi itu lebih jahat dari kejahatan itu sendiri. Aku tak mau dibenci dan dikutuk tuhanku lantaran perbuatan mungkar itu. Tapi sayang mereka sudah buta dengan kebenaran. Segala cara mereka halalkan demi harta kekayaan dan pangkat jabatan dari majikannya, Nethanhayu.
”ya rab... mau kubawa kemana jasad yang malang ini...” desahku.

“Kak.. kok ngelamun..?”. Sapa Aspalela yang tiba-tiba datang bersama kakaknya membuyarkan lamunanku.
“oh.. tidak, ini kakak cuma ge mikir aja, lulus ne kakak mau kemana ge. Kuliah atau ngaji gtu...”. Jawab ku santai. Hati kecilku terus beristigfar menyesali kebohonganku barusan.

Sekilas ku melihat betapa bidadari itu kian hari kian anggun dan cantik menawan. Sadarku setan sedang mengintai dan hendak menggiringku kejurang hitam yang tiada bertepi. Kuputar lingkaran buah tasbih ditelunjuk kananku untuk menepis perasaan haram itu.

“yang betol... pasti mikir brandalan yang barusan lewat itu khan? Lela liat kok. Makanya lela cepat-cepat samperin kakak. Atau jangan-jangan kakak ge mikirin Lela yaa? heeee”. Tuduhya lagi.

”hahaha” aku tak bisa membendung tawaku mendengar candanya. Ku kembali terdiam. Kurasa apa yang hendak kujawab, semuanya sudah terjawab. Memang benar! Bahkan dua-duanya benar. Akhir-akhir ini brandal itulah yang terus-terusan jadi buah pikirku dan sering membuatku resah dan terganggu. Tapi sejujurya resahku terhadap Aspalela lebih parah dari seratusan berandalan itu. Aku resah kepolosan dan ketulusannya mampu mendobrak benteng imanku yang lemah. Aku yakin semua akan indah pada waktunya. Dan sekarang bukanlah waktu yang tepat dan bukan melalui jalan yang tepat, yaitu jalan yang diridhai Allah dan Rasulku.

”Angga.. jangan tolollah, masak cinta setulus itu disia-siakan. Lihat! Dia begitu mengkhawatirkan mu. Sadar diri dikit kenapa seh… tiada duanya didunia ini gadis yang mencintai mu setulus Aspalela. Apa kurangnya dia, harta melimpah, prestasi diatas angin, cantik menawan, semua ia miliki. Ia begitu sempurna khan…? kasihani dia…. dia sangat mengharapkan balasan kasih sayang dan cintanya. Terimalah dia sebagai kekasih hati mu, kau akan bahagia. Kalau tidak, kau akan merasakan pedihnya penyesalan dikemudian hari… kau akan menyesal bila nanti ia berpaling dan jatuh cinta pada yang lain karna bosan mengharapkan cinta mu yang tak pernah terungkap dan tak kunjung tiba..”. Perlahan dan hamper ku tak menyadari keberadaan setan dalam diam mulai berusaha merasuki dan menjebol benteng iman ku. Dengan sangat licik ia membisikkan kata-kata bijak nan indah itu direlung hati ku. subhanallah…subhanallah… laa haula walaa quwwata illaa billah… … Tuhan kuatkan iman ku…desah ku berulang-ulang menampik perasaan haram itu.

“oke lah kak Lela bisa ngerti (sambungnya menyikapi diamku).

Ramadahan diambang pintu. Besok kita puasa. sebenarnya ada banyak hal yang hari ini ingin Lela utarakan ke kakak. Tapi tak apalah, Lela akan selalu mencoba mengertiin kakak. Dan dikesempatan ini Lela Cuma mau bilang, maafin Lela!. Betapa selama ini Lela telah banyak menyusahkan kakak. Betapa terguncangnya hatiku mendengar permintaan maafnya itu, ku merasakan kata perpisahan akan menyertai kepulangannya sebentar lagi.

Betapa selama ini Lela telah lancang masuk dalam kehidupan kakak. Kini Lela sadar siapa lela dan siapa kakak. (sadar apa Lela...?se harusnya aku yang berhak mengatakan kalau aku sadar, aku tak pantas bersanding dengan putri seorang ternama sepertu mu. bantahku dalam hati.) mungkin ini semua jua karna faktor keturunan ibuku, yang sudah takdinya berasal dari bangsa yang kakak memusihinya. (cukup Lela... aku tahu, dia seorang wanita yang baik dan saleha).

Nasihat kakak akan selalu terpatri dijiwa Lela. Kakak pernah bilang yang cantik menawan belum tentu nyaman mata memandang. Yang elok mempesona belum tentu membahagiakan. Sebaliknya, mata yang selalu bertadabur atas kebesaran-Nya. Mulut yang selalu berzikir menyebut asma-Nya. Perkataan yang selalu mengingatkan manusia dan...Wajah yang selalu bersimbah wudhuk hanya karena Rabbnya... yang selalu menjelma menjadi bidadari tuhan dalam tahajud diakhir malam, dialah yang cantik itu. Yang kasih sayangnya tak pudar ditelan waktu. Yang mengulur tangan siap membantu. Yang melangkah lebar siap berpacu. Beramal dan berbuat baik setiap waktu...dialah sang ratu kecantikan itu. (oh lelaaaaaa... maafkan aku kalau ternyata kata-kata itu dapat menyakiti hatimu, ku membatin)

Kata-kata itu masih Lela simpan dilubuk hati Lela. karna Lela tahu, gadis seperti itulah ratu impian kakak. Tidak seperti Lela... (oh Lelaaaa, jangan ada kata perpisahan antara kita...)

Masih terdiam membisu. Lidah ku kelu dan geraham ku terkunci rapat. Hati ku menjerit... hati ku mengeluh. Sebongkah pilu yang sudah tak mampu ku bendung meleleh kepipiku.

Namun Lela janji pada kakak dan diri Lela sendiri, suatu hari Lela akan menjadi seorang gadis seperti apa yang kakak gambarkan dalam puisi-puisi kakak. Sekali lagi maafin Lela. Mungkin minggu depan Lela tidak akan angkat kaki dari Palestina menuju Mesir.

Hheah..!!! ke negrinya imam syafi`i..?! (senyumku terharu. keharuan itu membuatku angkat bicara) Do`aku menyertaimu Lela. Lela... tiada yang harus dimaafkan karna tiada yang salah atau yang harus disalahkan. Meskipun ada! jauh-jauh hari sebelum hari ini telah kakak maafkan. pesan kakak mintalah selalu pendapat hati mu karna Ia yang berbenih iman tidak pernah tenang dan damai ketika berhadapan dengan dosa dan kesalahan. Dia akan selalu teduh dan bahagia kala jiwa menghadapi fahala dan kebenaran. doaku menyertai mu, moga Allah selalu menuntunmu kejalan yang bahagia selalu. semoga engkau menjadi ratu salihah di AL-AZHAR.” ungkap ku tegar. .

Amiiin...! insyaallah kak. Lela pamit dulu...

Aku berusaha tersenyum melepas kepulangannya. Kutertunduk menahan sebak dida. Air mata yang sudah dari tadi kubendung dan kucengkram dalam kebisuan, kembali meleleh kepipiku. Entah.... terkadang aku kagum bahagia melihat cara berfikirnya yang semakin dewasa. Terkadang aku harus mengurut dada menahan duka nestapa yang mendalam... tapi kuyakin, semua akan indah pada waktunya.

Andai tiba waktunya, dan Lela halal bagiku, sekali-kali ku takkan pernah menyia-nyiakan cinta Aspalela. Buat apa ku memberinya harapan, harapan yang nantinya akan berbuah derita dan kebencian. Ku teringat petuah guruku. Ia mengatakan, Kala darah muda masih mengalir dalam jiwa kita, prinsip dan keinginan kita akan berobah dan terus berobah. Kala itu jangan sekali-kali memberi harapan atau menetapkan suatu pilihan pada seorang yang engkau sukai. Karna harapan dan pilihan itu akan berubah seiring dengan mata mu yang masih liar. semua akan indah pada waktunya. Seperti halnya ulat bulu, ia masih harus menjadi kepong-pong sebelum akhirnya menjadi seekor kupu-kupu yang cantik mempesona. Ya! Semua akan indah pada waktunya.

Subhanalah...subhanallah... buah tasbih kecil senantiasa menemani dan menegarkan kembali hatiku kala iman ku mulai goyah dengan derai air mata Aspalela ***

Senja itu tepatnya Ramadhan ke 27. jam menunjukkan pukul 05. 15. Hati ku begitu resah dan gelisah entah kenapa. Seakan ada tugas dan kewajiban yang telah ku abaikan bertahun lamanya hingga menumpuk dan tak sanggup ku selesaikan lagi. Ku masuki kamar mandi, kembali ku berwudhuk untuk yang kesekian kalinya. Lalu ku shalat dua raka`at dan melantunkan beberapa surat ayat suci al-Quran. Ku sempurnakan ibadahku dengan tasbih, tahmid dan tahlil. Namun gemuruh batinku belum jua tenang. Padahal biasanya dengan wudhuk dan zikir saja ku telah mendapatkan secercah ketenangan itu. Entah kenapa tiba-tiba ku teringat Aspalela. ”Amiiin...! insyaallah kak. Lela pamit dulu...” itulah kalimat terakhir yang ku dengar. Setelah itu ku tidak pernah melihatnya lagi. Hampir sebulan. Ya! Hampir sebulan Ramadhan sudah aku tak pernah melihatnya meski ditempat-tempat dimana dulu aku sering melihatnya disana.

Kuputuskan untuk keluar rumah, tak lupa peci putih sebagai mahkota keisalamanku. Ku berjalan tanpa arah, pasrah kemana kehendak hati. Pikiran ku mengawang kesana kemari. Terkadang teman ku lewat dan menyapaku. Sedangku hanya tersenyum dan tidak mendengar apa dan bagai mana sapaan mereka. Barangkali itu hanya sekedar tanya kemana arah tujuan ku. Atau jangan-jangan ada yan gmengucap salam. Yaallah aku tak menjawabnya.. Ohh.. pikiranku sedang tak menentu. Hatiku sangat resah dan pikiranku kacau memikirkan sesuatu yang ku sendiri tidak tahu. Yang jelas, kenapa kuresah...

Tidak ku sadari, ku telah berjalan jauh. Hampir tiga dua kilo dari rumah. Gerimis menyedarkan ku kalau sesungguhnya sebentar lagi hujan akan mengguyur bumi. Pekat awan dan semburan kilat mulai terlihat di sebelah utara. Dan betapaku terperangah melihat pasar pusat pembelanjaan dan deretan toko berdiri megah didepan ku. Masya Allah... ku benar-benar tidak percaya ternyata Allah telah menuntunku kesini. Hujanpun mengguyur deras. Ku sempatkan diri untuk singgah di halte yang tak jauh dari tempat ku berdiri. Gemuruh petir yang bersahut-sahutan dan semilir angin tak hentinya mengalirkan kesejukan membuat orang-orang enggan berlama-lama disitu. Mereka lebih memilih berkumpul bersama keluarganya menanti waktu berbuka puasa yang sebentar lagi akan tiba. Jalan-jalanpun terlihat sepi dan Satu persatu toko mulai ditutup. Dan semakin jarang saja orang yang berlalu lalang. Tinggallah daku seorang diri mencoba menikmati suasana yang sangat bersahaja itu sebagai sebuah anugrah yang telah mengantarkan ku dalam keadaan resah bersama derasnya hujan, dan gemuruh halilintan yang terkadang memecahkankan kesunyian. Tanpa sadar keresahanku mulai berkurang seiring dengan guyuran hujan yang mulai mereda pula.

”tolong.................. tolong...................”

Seketika lamunanku buyar ditenggarai teriakan minta tolong yang terngiang sayup-sayup dari kejauhan. Ku pasang baik-baik telinga ku menguping dimana sumber suara itu. Ku yakin dengan apa yang ku dengar barusan, suara seorang perempuan minta tolong. Tapi dimana orangnya?

”aaaaaaaaaa tidak!.............. lepaskan......... uhhu hhuuu.....”

Sepontan ku beranjak dari tempat duduk ku. Sambil ku berlari tanpa memperdulikan derasnya hujan, ku melongok kesana kemari. Terkadang ku berpacu mermpercepat langkahku mencari dimana sumber suara itu. Tapi aneh sudah tiga deretan ruko ku lewati dan ku selidiki tidak ada apa-apa. Ya tuhan ada apa sebenarnya dan dimana sumber suara itu. Ku yakin dengan apa yang ku dengar suara tangis dan teriakan seorang perempuan minta tolong. Tuhan tunjukkan kemana harus ku mencari, kepada siapa ku harus bertanya, dimana pemilik suara itu berada?. Dhaar.. suara petir menggelegar.

”lepaskan......... aaaaaaaaaaa.... aaaaaaaaaaaaaaaaa lepaskaaaaan!!!”.

Teriakan itu kembali tergiang. Semakin lama semakin jelas kudengar. Ku percepat langkarku sambil terus berputar- putar menoleh kesana kemari. Betapa ku kaget bukan kepalang melihat lima pria berbadan kekar sedang menyekap seorang gadis. Dari pakaian seragam yang mereka kenakan dan senjata laras panjang yang mereka pegang, ku dapat menebak kalau kelima pria itu adalah tentara yahudi Israel. Kulihat, ternyata mangsa yang mereka sekap tidak lain adalah seorang gadis muslimah berhati mulia yang selama ini teramat sangat ku sayangi dan ku cintai itu tak obahnya adik kandungku sendiri. Aspalela....! Melihatnya mengisak tangis dan berteriak histeris minta tolong, ku semakin nekat tanpa gentar sedikit pun untuk meladeni lima jahannam itu.

.” keparat..... lepaskan Adik ku....!!!” teriak ku lantang. Tanpa buang-buang waktu dengan gagah berani ku secepat kilat ku meluncur kehadapan mereka berbekal sebatang besi tua yang kupungut disamping jalan. Tanpa belas kasihan, ragu atau takut sedikitpun ku hayun besi tua itu ke kepala meraka. Mereka menjerit kesakitan dan jatuh terpelanting ke belakang tanpa sempat mengelak atau membalas serangan ku yang membabi buta. Sebenarnya ku tak ingin lagi mencampuri urusan mereka setelah beberapa kasus yang mereka lakukan ku bongkar pertengahan bulan lalu. Apa lagi akhir-akhir ini aku menjadi buronan mereka. Tapi melihat ulah mereka aku merasa tidak pernah bisa tinggal diam, apalagi kali ini yang jadi korban kebinatangan mereka adalah seorang gadis yang amat ku sayangi. Meski ku selalu berkilah dan menghindar dari perangkap cintanya tapi sejujurnya dalam diam ku mulai simpati dan iba padanya. Dan detik ini nyawa dan kehormatannya terancam. Sungguh matipun ku rela. Dan ku tahu, muncul dihadapan mereka sama artinya ku keluar dari persembunyaian lalu datang dengan sukarela menyerahkan nyawa pada berandal itu. Tapi kutak peduli. Apapun yang terjadi kalau memang sudah takdir ilahi tetaplah saja terjadi.

Ku berdiri gagah didepan Aspalela. Menanti serangan balik mereka. Ku terperangah melihat mereka bukannya membalas menyerangku malah bangun dan lari terbirit-birit. Belum sempat ku tersenyum, tiba-tiba mereka datang lagi dalam jumlah yang lebih besar. Sebanyak apapun aku tak gentar sedikitpun. Aku siap mati syahid melawan kafir-kafir yahudi itu.


Sejenak ku alihkan pandangan ku kearah Aspalela masih duduk memeluk kedua lututnya. Ia menagis dan sangat trauma dengan kejadian itu. Ku jadi semakin iba melihatnya. Kuterharu melihat penampilannya yang sudah sangat berubah. Ia tidak lagi mengenakan pakaian kebencian ku. Pakaian kebencian agama ku. Ia terlihat begitu anggun dengan pakaian muslimahnya meski telah kasat-kusut di tarik pria berandal itu. Ku segera hampiri Lela..

”Lela... ini aku, Angga... tenanglah...!”

Mendengar suaraku. Seketika Lela mengangkat wajahnya yang bersimbah air mata. Ku tuntun ia bangkit dan memberi isyarat padanya untuk lari dan bersembunyi. Lelapun menurutinya.

Tanpa buang-buang waktu aku terus melawan gerombolan iblis jahannam yang berjumlah kurang lebih sepuluh orang. Untung saja mereka maju satu persatu. Beberapa kali kusempat bersalto melayangkan besi tua dan bogem mentah dengan tenaga penuh kewajah mereka. Tanpa memberi kesempatan sedikitpun kepada mereka untuk membalas. Dengan besi tua ditangan ku masih tegar dan siap memasang kuda-kuda. Tak pelak dua diantara mereka maju mengahayunkan belati ke perut dan wajahku. Ku tidak mau melewatkan kesempatan itu, mereka yang hidup dan dibesarkan dalam kebiadaban sudah selayaknya diberi pelajaran. Dengan gesit ku pukul keras tangan mereka, Seketika mereka terhuyung dan roboh. Lewat sepuluh menit”berduet maut” mereka terus mendesak ku. Berulangkali ku jatuh bangun. Ku menyadari kemenangan sangat tipis untuk berpihak padaku. Secepat kilat kuraih senjata AK-47 yang tak jauh didepan ku. Secepat itu pula salah seorang mereka menarik pelatuk senjatanya ke arah ku. Dooor..! Dooor..! dooor...! Ku roboh bersimbah darah. Sempat ku dengar jerit histeris Aspalela. Sekuat tenaga ku berusaha bangkit dan membalas tembakan mereka sampai isi megazin senjata yang ku pegang kosong. Kulihat mereka jatuh berderet bersembah darah.

Diantara sadar dan tidak ku masih berusaha tetap tegar dan berjalan menghampiri Aspalela. Berulangkali ku terhuyung dan roboh.

”Lela... sebentar lagi pada Azan magrib. kamu pulang ya...”. pintaku sembari menyetop sebuah taksi dan meminta sopir mengantarnya pulang. Setelah itu kuroboh tak sadarkan diri. Aku tak tau lagi apa yang terjadi.
kak.....”. ia mengiba dan terisak-isak. Ku mengarti, ia sangat trauma dengan kejadian tadi. Tapi disadari atau tidak diakui atau tidak, kejadian itu adalah kesalahannya sendiri. Inilah akibatnya pergi sendiri kepasar ditengah suasana yang sangat mendukung sepeti ini. Inlah jua alasan kenapa agama ku begitu melarang kaum hawa keluar rumah tanpa ditemani mahram lelakinya. Jadi sekali-kali Islam tidaklah melarang sesuatu yang terkadang kita senangi kecuali besarnya akibat yang sangat tidak diharapkan.

Akhirnya ku terpaksa ikut mengantarkannya pulang. Sepanjang perjalanan pulang tidak ada percakapan diantara kami. Masing-masing kami memikirkan tragedi yang yang sangat tragis itu. Betapa keresahan telah mengundangku untuk menyelamatkan Aspalela. Tak sanggup ku bayangkan bagai mana nasib Aspalela bila seandainya ku terlambat datang. Satu hal miris membuat ku ta`jub pada Tuhan ku, tak terbayang aku sanggup menghalau lima pria lihai dari genk kapak itu. Ini benar-benar anugrah ilahi yang tidak bisa ku lupakan sepanjang hidupku.

Di sela- sela lamunan ku. Ku amati Pak sopir yang sepertinya jua traumat melihat kaos putih yang ku kenakan berdarah-darah. Duh Yaa Allah... punggungku sangat perih... Yaa Allah ku terluka. Pantas saja ku pusing dan mata ku berkunang-kunang. Aku telah kehabisan banyak darah rupanya. Ku pejam mataku menahan perih dan deru nafasku yang mulai tersendat-sendat sesak seperti seekor duyung yang terdampar kedaratan. Tak lama kemudian ku tersadar mendengar suara Aspalela meminta taksi berhenti. .........

                                                  Bersambung

Related

Remaja 2875060430229756966

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item