umdah

Penjelasan Sifat Mukhalafatuhu Lil Hawadits Bagi Allah

Sifat Mukhalafatuhu Lil Hawadits
Pada artikel sebelumnya kita telah mempelajari arti dan penjelasan sifat wujud, qidam, baqa dan mukhalafatuhu lil hawadits, dimana kesemuanya itu merupakan sifat yang wajib pada Allah SWT. Sekarang saatnya kita mengkaji sifat yang kelima dari segala sifat Allah taala yaitu Qiyamuhu Binafsihi.

قِيَامُـهُ بِالنَفْسِ وَحْدَانِيَّـةْ    مُنَـزَّهًا أَوْصَـافُهُ سَنِيَّـةْ
عَنْ ضِدٍّ أَوْشِبْهٍ شَرِيْكٍ مُطْلَقَا    وَوَالِدُ كَذَا الْوَلَدُ وَالْلأَصدقاء

"Allah berdiri sendiri dan Esa, Maha bersih Allah dari pada lawan, yang menyerupai, sekutu, yang melahirkan, anak dan teman".

Dalam bait ini dijelaskan dua macam sifat yang wajib bagi Allah, sebagai lanjutan dari bait-bait dibelakang yaitu

5. Qiyamuhu bi nafsih (berdiri sendiri)

Makna Qiyamuhu bi nafsih
لايفتقر الى محل ولا الى مخصص

Tidak berhajad Ia kepada zat lain dan tidak berhajad juga kepada yang menjadikannya

Qiyamuhu bi nafsih suatu kata yang mengandung dua makna:

1) Tidak berhajad Ia kepada zat lain
2) Tidak berhajad juga kepada yang menjadikannya

Dua makna ini kemudian digabungkan menjadi satu lalu di istilahkan dengan kata qiyamuhu bi nafsih (berdiri dengan sendiriNya), Allah sendiri adalah suatu zat (bukan sifat), maka kalau Ia zat tentu saja tidak perlu kepada zat lain untuk berdirinya, sebagaimana yang terjadi pada sifat, sifat tidak mungkin ia berdiri sendiri bila tidak ada zat untuk berdirinya, putih tidak akan wujud bila tidak ada benda seperti batu, kapur dan lain-lain. Tidak ditemukan putih yang berpisah dari zat, melainkan putih itu terdapat pada zat sepeti kapur putih yang berarti kapur tersebut berwarna putih ataupun warna putih berdiri pada kapur.

Dari uraian ini dapat diketahui bahwa pendapat orang-oarang Nasrani yang mengatakan Tuhan itu sifat yang bertempat pada tubuh Nabi Isa adalah salah, sesat-menyesatkan karena Tuhan itu bukan sifat, tetapi suatu zat yang berdiri sendirinya .

Dan lagi zat Allah tidak berhajat kepada tempat lain sebagai tempat duduk, tempat tinggal dan sebagainya, dan Allah tidak di atas, tidak dibawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di muka dan tidak di belakang, karena kesemuanya itu merupakan ketenteuan dan keadaan pada yang baharu. Sedangkan Allah tidak baharu. Jika umpamanya Allah demikian gambarannya, sungguh Dia baharu dan bukan Tuhan yang disembah dengan sebenarnya. Tetapi apabila tidak ada sifat-sifat baharu, maka itulah yang dikatakan Tuhan yang benar. Umpamanya barang yang ganjil bukan genab, dan juga sebaliknya, yakni yang genab bukan ganjil. Begitulah juga yang baharu bukan Tuhan yang benar dan Tuhan yang benar bukan baharu .
Kalau pun ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan bertempat di Syurga ataupun di Arasy, Jawabannya mudah saja, Syurga dan Arasy, Allah yang ciptakan, sebelum di ciptakan dimana Ia duduk, bingunglah orang itu dan tidak bisa memberi jawaban yang tepat mengenai pertanyaan tersebut .
Aliran yang mengatakan Allah duduk bersila di atas arsy dan bertempat di atas langit adalah kaum musyabihah (kaum yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk), sebagaimana yang telah diuraikan panjang lebar oleh KH. Sirajuddin Abbas dalam bukunya Iktiqat Ahlussunnah Wal Jamaah, halaman 256, berikut ini petikannya.

Dalil yang dikemukakannya
الرحمن على العرش استوى
Ar Rahman (Allah) duduk bersela di atas arsy (Thaha, 5)

Mereka mengartikan istawa dengan duduk bersela serupa selanya manusia. Kaum Ahlussunnah wal Jamaah mengartikan istawa di sini dengan mengusai atau memerintah. Jadi arti ayat ini menurut Ahlussunnah wal jamaah begini:
“Tuhan yang Rahman mengusai ‚arasy“

Kaum tersebut mengatakan Tuhan di atas langit berdasar dua dalil yang dikemukakan yaitu:

بل رفعه الله اليه
„Tetapi Tuhan mengangkat (Nabi Isa) kepadaNya, (An Nisa, 158)

Dalam ayat ini menurut mereka, dinyatakan bahwa Nabi Isa diangkat oleh Tuhan kepadaNya, yang berarti bahwa Tuhan itu di atas karena ada perkataan rafa’a yang berarti mengangkat ke atas.

Dan lagi firmanNya
أأمنتم من فى السماء ان يخسف بكم الارض فإذا هى تمور

‘‘Adakah Kmu merasa aman dengan yang ada di langit, bahwa kamu akan ditenggelamkan ke dala bumi ketika Ia bergoncang dengan kerasnya (Al Mulk, 16)

Dalam ayat ini menurut kaum Musyabihin, dinyatakan bahwa Tuhan itu di langit, di atas karena langit itu di atas.

Kaum Ahlussunnah Wal Jamaah, mengartikan ayat ini dengan tempat yang mulia, jadi Nabi Isa diangkat ketempat yang mulia dan ia berada di tempat yang mulia. Pada ayat ini memang disebutkan di atas atau di langit, tetapi yang dimaksudkan adalah tempat yang mulia karena perkataan di atas atau di langit biasa juga dipakai oleh Arab pada arti tempat yang mulia.

Dan Allah yang suci itu maha bersih dari pada lawan, yang menyerupai, sekutu, yang melahirkan, anak dan teman tidak melahirkan, dan tidak berhajad kepada Tuhan lain yang menciptakannya karena Ia wajib Qidam, sudah ada dengan sendirinya yang tidak diciptan oleh Tuhan lain. Dan inilah makna Qiyamuhu Bi Nafsih yang disimpulkan dengan, Tuhan itu bukan sifat tetapi zat dan tidak berhajat kepada pencipta. Dan Ia kaya dari itu semua, sebenarnya inilah hakikat kaya yang disebut began kaya mutlak, tidak sepeti kaya yang tedapat pada makhluk yang tidak terlepas dari campur tangan sang maha pencipta, karena betapun kayanya makhluk tetap membutuhkan kepadanya.

Manusia mempunyanyia rumah besar, mobil mewah dan lain sebagainya, itu semuanya pemberian Allah, kapan saja bisa hilang dan lenyab bila Allah menghendakinya. Dan dari karena itu kita tidak boleh sombong dan takabbur dengan sebab mempunyanyi harta yang titip hanya buat sementara, kita harus menyadari bahwa apa saja yang ada bersama kita semuanya milik Allah bukan milik kita dan kita selalu membutuhkannya (Allahush shmad)

Imam Sanusi membagikan keadaan apa saja yang wujud (majudat) kepada 4 (empat) macam:
1) Tidak berhajat kepada tempat dan pencipta yaitu Allah
2) Berhajat kepada tempat dan pencipta yaitu sifat yang terdapat pada makhluk
3) Berhajat kepada pencipta dan tidak berhajat kepada tempat yaitu zat makhluk
4) Berhajat kepada tempat dan tidak berhajat kepada pencipta yaitu sifat-sifat qadimah yang terdapat pada zat Allah yang tinggi .


2. Wahdaniyyah
Sifat yang ke enam yang wajib bagi Allah dan wajib diimani dan merupakan sifat yang terakhir dari sifat salbiyyah adalah wadaniyah yang berarti Maha Esa dan tunggal dan mustahil Ia bertubuh dan berbilang (banyak).

Imam Sanusy memberi definisi sifat tersebut dengan:
لا ثانى له فى ذاته ولا فى صفاته ولا فى أفعاله
Tidak ada yang menduai bagi Allah, pada zat, pada sifat dan pada perbuatanNya

Sebelum memasuki dalam pembahasan sifat tersebut ada baiknya kita perhatikan sejenak tentang susunan kalimat wadaniyyah yang merupakan satu kalimat bahasa Arab yang sarat dengan makna.
وحدانية
وحد wahda Untuk memberi pengertian Esa (satu)
ان Alif dan Nun untuk memberi pengertian mubalaghah (maha)
ي Ya huruf nibah yang dihubungkan kepada wahdah (kumpulan satu)
ة Ta huruf taknis yang menandakan lafal wadaniyyah itu sifat

Maka kalau diartikan wahdaniyah ini dengan lengkap dan sempuna serta sesuai dengan susunannya bahwa:
Sungguh Maha Esa Allah pada zatNya
Sungguh Maha Esa Allah pada sifatNya
Sungguh Maha Esa Allah pada semua perbutanNya

Demikianlah makna harfiyah wahdaniyyah dalam kitab Ad Dusuqy halaman 89 yang dinukil oleh Abu Kemala dalam risalahnya .

Dengan sebah Allah bersifat dengan Wahdaniyyah maka zat Allah tidak bertubuh, Allah itu tunggal tidak ada zat lain yang sebanding dengannya dan Allah esa dalam mengatur dan tidak ada campur tangan orang lain pada penciptaan, semuanya itu kemudian disebut dengan kam yang berarti banyak, maka dari sifat wahdaniyyah ini dapat dinafikan lima kam yaitu lima model bentuk banyak yang tidak boleh ada pada Allah. Dengan mengerti lima macam model tersebut dan mengimani bahwa kelima macam tersebut tidak ada pada Allah, sampailah kita pada pengetian wahdaniyyah yang berarti Allah itu maha Esa. yaitu:

  1. Nafi Kam muttashil pada zat yaitu, Zat Allah tidak mungkin dibagi, karea zatNya itu bukan sebuah susunan yang tersesun sehingga padat dibagi, Zat Allah tidak seperti sebutir berar yang tersusun dari ratusan unsur tepung dan bukan juga sepeti tubuh yang tersusun dari daging, tulang dan urat dan sebagainya. Zat Allah tidak bulat, dan tidak picak, tidak tipis dan tidak tebal, begitulah seterusnya, sebab segala-galanya itu sifat makhluk ciptaannya, sedangkan Tuhan yang khalik yakni yang menciptakan dan yang menjadikan sudah barang tentu sifat makhluk yang dijadikan tidak ada pada Tuhan yang mectakan dan yang menjadikan.
  2. Nafi Kam munfashil pada zat yaitu tidak ada satu zat pun yang sebanding dan bersamaan dengan zatNya, karena yang lain itu semuanya makhluk ciptaanNya yang tidak mungkin sama dengan pencipta.
  3. Nafi Kam Muttashil pada sifat yaitu sifat Allah Esa, bukan berlain-lainan dengan sebab berlain-lainan taaluq, Ilmu Allah Esa, dimana dengan Ilmu yang Esa tersebut Allah mengetahui benda-benda di langit dan benda-benda di bumi dan lain sebagainya, semuanya Allah mengetahui dengan ilmu tersebut. Berbeda halnya ilmu yang ada pada manusia, dimana ilmu tehnik mesin tidak mungkin dengan ilmu itu bisa bertukang, ilmu berbahasa inggris tidak mungkin bisa membaca Quran dan lain sebagainya.
  4. Esa pada sifat tidak berarti Allah itu sifatnya hanya satu, karena sifat Allah itu sangat banyak yang tidak ada seorangpun yang mampu menghetongnya, akan tetapi yang dimaksud dengan Esa pada sifat adalah, pada Allah itu tidak ada dua sifat yang bersamaan dan sama fungsinya, seperti Allah mempunyanyi dua sifat ilmu, dua sifat qudrah dan seterusnya dimana yang satu berfungsi untuk ini dan yang satu lagi berfungsi untuk itu.
  5. Nafi Kam munfashil pada sifat yaitu, tidak ada sifat lain yang sempurna seperti sempuna sifat Allah. Memang sifat lain ada pada makhluk seperti ilmu, mendengar, melihat dan lain-lain, tetapi serba kekurangan yang fungsinya terbatas, tidak seperti sifat Allah yang maha mengetahui, maha pencipta dan maha segala-galanya.
  6. Nafi Kam munfashil pada perbuatan yaitu didak terdapat dari semua pebuatan-pebuatan makhluk yang bersamaan dengan perbuatan Allah, bahkan tidak ada satu perbutanpun selain dari perbuata Allah, Ia esa pada menciptakan alam semesta, pada menjaga dan pada mengaturnya.

Demikianlah zat Allah yang maha Esa yang tidak tersusun dari pada berbagai unsur sehingga menjadi satu. Tidaklah demikian, Allah Maha Esa sehingga tergadang di istilah dengan nuqtah.
Nuqtah adalah suatu zat yang sangat halus yang tak dapat dibagikan lagi, karena zat Allah merupakan zat yang tidak menerima bagi dan tidak mungkin untuk dibagi sehigga di sebut juga dengan nuqtah. Dengan disebut demikian tidak berarti Allah itu bagian dari pada nuqtah ataupun seperti nuqtah karena nuqtah itu baharu, sedangkan Allah qadim, tidak sama yang qadim dengan yang baharu, tetapi disebutkan demikian supaya mudah dimengerti tentang zat Allah.

Di antara Ulama besar yang menyebutkan demikian adalah Syeh Ibrahim Al Bajuri ketika menjelaskan keluasan makna basmalah. Beliau mengatakan bahwa semua isi Kitab dan isi-isi Shuhuf yang diturunkan Allah di kandung oleh al Quran, isi Quraan terhimpun dalam surat Al Fatihah, isi Fatihah terhimpun di dalam basmalah (bismiilah), isi basmalah terhimpun di dalam huruf ba yang terletak sebagai huruf pertama pada bismillah, makna ba adalah biy kana ma kana, wa biy yakunu ma yakunu (dengan qudrah saya menciptakan barang yang telah ada, dan dengan qudrah saya juga menciptakan barang yang selagi akan ada), makna ba terkandung semuanya dalam nuqtah (titik) ba, yang dimaksud dengan titik ba disini adalah tetesan pertama pada pena yang sangat halus ketika menulis huruf ba, dimana dari tetesan itu dimulai untuk menulis huruf-huruf sesudahnya, nuqtah (titik) ba yang dimaksudkan di sini adalah sebagai kata ganti dari pada menyebut zat Allah yang berarti semua makna itu terdapat pada zat (ilmu) Allah, karena sebagaimana nuqtah (titik) ba tersebut sangat halus dan tidak mungkin untuk dibagi-bagikan sehingga nuqtah (titik) ba tersebut dijadikan sebagai kata ganti dari pada menyebut zat Allah dan dari kekuasaanNya ada segala alam semesta ini .

Semoga Penjelasan Sifat Mukhalafatuhu Lil Hawadits Bagi Allah ini dapat memberi manfaat bagi kita semuanya, terimakasih. (Redaksi)


Related

Telaah 1023318043121920048

Posting Komentar Default Comments

  1. Penjelasan kitab Jauharah ini amat bagus. mohon diposting kalau ada lanjutannya. Syukran...semoga dibalas dengan pahala yang berlimpah dari Allah SWT...amin.

    BalasHapus

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item