umdah

Fakta Tentang Kesuksesan MUDI dalam Membina Santri

Samalanga- Dengan jumlah santri mencapai 5000 orang lebih plus ditunjang dengan 665 orang guru (Ini berdasarkan data oktober 2013 M/1434 H...

Abu MUDI, Abi Zahrul dan santri
Samalanga- Dengan jumlah santri mencapai 5000 orang lebih plus ditunjang dengan 665 orang guru (Ini berdasarkan data oktober 2013 M/1434 H), MUDI Mesjid Raya Samalanga memang layak disebut sebagai Dayah/pesantren terbesar di Aceh saat ini, bahkan di sumatera pun demikian. Maka tidaklah aneh bila hal ini mengundang perhatian dan tanya dari berbagai pihak bagaimana MUDI bisa berkembang sedemikian pesatnya.

Berbagai kunjungan tamu penting dari dalam dan luar negeri semakin menguatkan data dan fakta bahwa orang yang ingin mengetahui tentang dayah ini semakin bertambah dari hari ke hari.

Sebenarnya sangat sulit membuat sebuah tulisan bagaimana MUDI mendidik santrinya, karena faktor paling penting dalam membuat MUDI menjadi seperti sekarang ini adalah nilai historis yang begitu tinggi dan peninggalan para pendahulunya yang sudah mengakar kuat di setiap lini pembelajaran. Namun demikian, kami tetap berusaha memberikan informasi kepada pembaca setia UMDAH bagaimana MUDI melaksanakan proses pendidikan sehingga berhasil seperti sekarang ini, walaupun itu hanya secara garis besar saja.

1. KEDISIPLINAN

Kedisiplinan merupakan faktor utama yang paling ditekankan di MUDI Mesjid Raya Samalanga. Baik guru maupun santri, asalkan melanggar tata tertib yang telah ditetapkan pasti tidak luput dari hukuman dan sanksi. MUDI tidak segan-segan memberikan hukuman bagi santri yang melanggar peraturan. Hukuman dan sanksi ini tergantung besar dan kecilnya kesalahan, untuk kesalahan yang kecil bisa jadi hanya mendapat teguran dan peringatan. Namun jika sudah berkali-kali atau pelanggarannya tidak bisa ditolerir walaupun sekali ini bisa sampai kepada tahap dikeluarkan.

Di antara kesalahan yang dianggap besar adalah:

1. Mencuri.
2. Berhubungan dengan yang bukan mahram.
3. Mencemarkan nama lembaga.
4. Berkelahi.

Seorang santri yang melakukan ke-4 hal di atas bisa saja dikeluarkan dari Ma'had apabila telah terbukti dan tidak ada tanda-tanda untuk bisa berubah, lebih-lebih berhubungan dengan yang bukan mahram. Melakukan hal ini bisa saja dikeluarkan langsung bila tingkat kasusnya sudah menjurus kepada melakukan hal asusila atau amoral. Untuk mengontrol hal ini, MUDI membentuk seksi HUMAS (Hubungan Masyarakat).

Sedangkan dalam proses belajar mengajar, MUDI juga mengawasi ketat jadwal dan waktunya yang telah ditetapkan. Walaupun itu hanya satu menit atau dua menit terlambat saja, itu sudah dianggap tidak disiplin. Untuk mengawasi hal ini, MUDI menetapkan hampir seratus orang guru dari kelas takhassus yang disebut dengan seksi Pengajian. Seksi pengajian ini difokuskan untuk menjaga stabilitas belajar santri dan juga kedisiplinan dewan guru.

Tidak hanya bidang belajar saja, dalam bidang ibadah dan amalan sunnah pun MUDI membentuk seksi khusus untuk menanganinya, yaitu seksi Ibadah. Seksi ibadah ini jumlah anggotanya hampir sama dengan Seksi Pengajian dan HUMAS.

Dalam bidang kebersihan, MUDI diatur oleh Seksi Gotong Royong. Seksi inilah yang menetapkan siapa yang mengurus kebersihan dapur, siapa yang membersihkan halaman dan lain-lain.

Jadi, secara garis besar MUDI menetapkan 4 seksi utama untuk mengurus kedisiplinan, yaitu:

1. Seksi HUMAS
2. Seksi Pengajian.
3. Seksi Ibadah.
4. Seksi Gotong Royong.

Untuk membentuk ke-4 seksi di atas, MUDI membutuhkan 300 orang guru lebih dan dibina oleh puluhan guru senior yang disebut Staf Ahli.

2. KETAKDHIMAN (HORMAT PADA GURU).

Dari dulu sampai sekarang, MUDI masih terus menekankan hal ini kepada santrinya. Bahkan hal ini dipandang sebagai hal paling sakral untuk membuat seseorang itu menjadi alim dan barakah. Hampir setiap hari santri disuguhkan cerita-cerita para pendahulunya yang sangat ta'dzhim kepada guru sehingga keberkatan dan kemakmurannya nampak nyata dalam masyarakat. Berbagai cerita dan kisah nyata ini benar-benar telah membuat mereka sadar akan pentingnya hormat pada guru. Contoh nyata adalah Abu MUDI sendiri, berbagai cerita tentang keta'dzhiman beliau terhadap gurunya hampir-hampir bisa dihafal diluar kepala oleh setiap santri.

Seseorang yang menjadi bagian dari MUDI biasanya akan dikucilkan dalam pergaulan apabilana terdapat sedikit saja ketidaktakdhimannya kepada guru. Mereka dipandang hina dan tidak patut dijadikan teman. Tidak ada cara lain yang terjadi bagi orang semisal ini kecuali dia akan keluar dengan sendirinya dari pesantren, makanya hal ini paling dihindari oleh santri dan segenap unsur di MUDI.

3. FAKTOR ABU MUDI

Di pesantren manapun, pimpinannya pasti menjadi panutan bagi segenap penghuninya, begitu pula halnya di MUDI. Hampir di semua bidang Abu menjadi tolak ukur untuk menjadi lebih baik. Katakanlah itu bidang kedisiplinan, semenitpun beliau tidak pernah terlambat dalam mejalankan tugasnya. Tidak hanya dalam disiplin saja, dalam bidang kebersihan pun demikian. Sampai pada batang korek api beliau anggap sampah besar yang harus dibersihkan. Dalam bidang yang lain juga demikian dimana tidak mungkin disebutkan satu persatu disini, yang jelas prinsip hidup beliau itu telah menjadi patron yang luar biasa bagi kesuksesan santri-satri MUDI.

4. ALUMNI YANG MUMPUNI

Semenjak berdirinya, MUDI telah menghasilkan ribuan alumni yang tersebar di setiap pelosok nusantara dan mancanegara. Walau tidak semuanya dapat disebut sukses luar biasa, namun ada sebagian dari mereka yang benar-benar menginspirasi. Sebut saja Almarhum Abu Panton, Abu Daud Lueng Angen (Pimpinan Dayah Darul Huda), abu Lamno, Abu Kuta Krueng, dan masih banyak lagi yang telah sukses dan menjadi tokoh yang patut diperhitungkan. Kesuksesan Alumni itu terekam jelas dalam benak setiap santri MUDI, setiap kebosanan dan kemalasan belajar datang, cerita tentang kehebatan para alumni itu dapat menjadi obat mujarab yang akan membuat semangat mereka kembali terpacu untuk secepatnya ingin menjadi seperti pendahulu mereka. Mereka selalu percaya dan yakin bahwa apabila MUDI sanggup memberikan prestasi yang luar biasa bagi pendahulu mereka, bagi mereka juga bukan mustahil. Terkadang hal ini tidak hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut, tetapi para alumni itu sendiri datang ke pesantren dan menceritakan berbagai kisah menakjubkan yang telah dilakukan oleh pendahulu mereka di MUDI, hal-hal yang patut ditiru oleh siapapun yang belajar di MUDI. Tentu saja kejadian ini memberikan pengaruh yang signifikan bagi kesuksesan santri.

5. KEBERKATAN

Di antara sekian banyak tulisan di atas, yang paling mendasar alasan MUDI bisa seperti sekarang ini adalah karena Allah telah memilihkan tanah yang berkat bagi ruang dan tempat MUDI berpijak dan para pendirinya yang berakah. Ini berdasarkan pengakuan Abu Kuta sendiri pada suatu kesempatan (Salah seorang ulama Aceh yang dipercayai mempunyai karamah).

Tulisan ini jauh dari mencukupi untuk menggambarkan bagaimana MUDI mendidik santrinya sehingga telah menghasilkan lulusan mumpuni di bidang agama dan kemasyarakatan. Namun demikian, kiranya ini bisa menjadi awal mula bagi tulisan selanjutnya di kemudian hari. InsyaAllah. (TM).

Related

Tips 2982868592593220003

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item