umdah

Pesona Cinta Di Sakratul Maut | Ep 01

Pesona Cinta
Tiada semilir angin yang biasanya menyapa lewat celah – celah jendela meski sehembus saja. tiada kicau burung yang biasanya bercumbu riang di taman melati meski sesiul saja. Tiada secercah cahaya yang biasanya mencerahi panorama bumi meski sekejap saja. Sukma meradang di sudut hati, resah gelisah kambuh kembali. Disini, dalam gundah yang tak tertahankan, hati mencoba bertanya pada sunyi yang mencekam, pada gelap malam, pada kelam buta tentunya jua pada seromoni kebisuan, kejamnya hari mengarungi kesendirin, kejamnya waktu menggiring ku ke lembah putus asa yang sangat tidak diridhai tuhan.

Dalam rangkaian isyarah, ku pertanyakan perhatian penuh iba yang setiap orang mendamba, ku pertanyakan pelipur lara yang karenanya setiap orang bahagia, ku pertayakan kasih sayang yang utuh sepanjang masa, yang tak pernah pudar walau di telan masa apalagi disekat jurang kematian yang datang tak terduga, kupertanyakan kicau burung dan cahaya yang pergi begitu saja.

Ooo… tiada kasih yang abadi seabadi kasih- Mu,
tiada cinta yang sejati, sesejatinya cinta- Mu, tiada tempat ku mengadu,
tiada tempat ku merayu, selain Engkau…..
Tuhan ku…
hanya iringan munajah satu – satunya pilihanku.

Oh.. rasa malu yang mengahantui menempik keras betikan munajah yang hendak terangkai. karena keasingan ku sendiri. Bagaimana bisa bermunajah pada –Nya di waktu sempit dan sekarat ku. Sedangkan waktu luang dan sehat telah ku buang percuma di lautan dosa. Memang ku hamba-Nya. Dan ku tau Dia adalah Tuhan ku satu – satunya. Tuhan ku yang memang benar amat maha pengasih, penyanyang dunia akhirat, yang kasihnya tidak pernah pilih kasih meski pada hamba- Nya yang tidak tau terima kasih, tapi pada hamba yang bagai mana? pada hamba seperti ku yang sepanjang hidupn ku tak kunjung tau terima kasih? Tidak! Sangat tidak layak kasih yang mulya itu tercurah pada ku yang mengabai firman-Nya. Dimana ku tau persis bunyi titah- Nya "lain syakartum laazidannakum walaingkafartum inna `azabi lasyadid " memang benar pula ku hamba Tuhan. Tuhan ku yang sangat penyayang, yang sayangnya tidak pernah pilih sayang meski pada hambanya yang berhati setan. Tapi pada hamba yang bagai mana? pada ku yang sepanjang hidupku tidak pernah menepi dari lautan dosa?
Tidak! Sangat tidak layak kasih sayang- Nya yang suci tercurah pada hambanya yang durhaka....Jatuh dan berderailah air mata yang tak sanggup ku bendung lagi. Terisak dalam kenangan hina penuh dosa yang telah kurajut sepanjang hidup ku. Tangis pilu ku pecah… kelangit tak sampai ke bumi tak kunjung sama persisnya…ku sadar munajah ku sia – sia, meski Dia berseru " berdoalah nisacaya ku kabulkan doa mu" karna sesungguhnya doa seorang hamba akan tertolak mentah – mentah bila nur hatinya telah dipadamkan oleh ulah cintanya sendiri.

“Dan engkau. Betapa selama ini kau mengakui cinta sejati pada Azzawajal tapi tidak mengindahkan jalan – jalan yang telah digariskan-Nya. Bermula bagai mana umpamanya kau mengakui cinta pada seorang gadis namun sama sekali tidak kau jaga perasaannya dan tidak pernah kau membahagiakannya. Betapa selama ini kau mengakui cinta sejati pada Rasul tetapi jangankan kau ikuti setiap risalah dan sunnahnya, malah kau lupakannya.
Betapa selama ini kau mengakui cinta surga tapi tidak mempersiapkan bekal untuk kembali padanya.
Betapa selama ini kau mengakui iblis adalah musuh bebuyutan mu tapi tidak menjauhi dan berhati – hati terhadap jebakan mautnya malah kau bersekutu dengannya.
Betapa selama ini kau mengakui takut dan tak kuasa menahan azab neraka tapi tidak pernah kau akhiri kedurhakaanmu dalam hawa napsu. Dan kau mengaku takut dijemput malaikat maut tapi kau tak pernah mempersiap diri untuk menghadapinya dengan senyum ceria.
Betapa kau makan dan minum dari pemberian Allah tapi tidak mensyukurinya.
Betapa kau mengukur keaiban orang lain, sebesar semut tampak nyata dan kau lupa pada aib mu sendiri sebesar gajah di pelupuk mata.
Dan kau telah mengubur orang mati tapi tidak mengambil i`tibar kalau kau akan dikubur esok harinya”… Dengan tegas hati kecil menuding ku. Seakan ia bukan belahan jiwaku.
Duhai sedih dan pilunya batin ini. Tiada kata lagi yang mampu ku ungkapkan.. memang sudah kodratnya penyesalan selalu datang terlambat ….Subhanallah, secercah cahaya dan kicau burung yang sedari tadi ku pertanyakan kudapati. ternyata tuhan mendengar tangis dan isak munajah dalam kerendahan hati ku. ..! tapi…… inikah kicau burung?
Inikah cahaya indah itu? Kusadar, tidak….. oh tidak!.. ku tau mulai menyadari bahwa sungguhnya cahaya yang ku dapat bukanlah pandangan indah taman melati tempat kupu – kupu menghibur diri dalam kepak sayapnya. Melainkan wajah orang – orang yang ku saying, wajah orang – orang yang ku cinta menderai air mata. Kicau burung sayup – sayup sampai yang kudengar hingga jelas ku dengar ternyata isak orang – orang yang ku sayang, ternyata tangisnya orang – orang yang ku cinta.

Oh tuhan ternyata ruangan serba putih tempat ku terbaring lesu adalah rumah tempat berkumpulnya orang – orang sakit. Ada apa gerangan..? apa ku sakit ?. apa ku sudah gila? Kenapa ku tak sadari semua ini.. lama ku peras otak mereka ulang apa sebenarnya yang terjadi, ada apa gerangan.

Akhirnya ku ingat kalau beberapa jam yang lalu ku sempat duet berandalan terminal. Saat itu ku berjuang mati-matian demi menyelamatkan seorang gadis muslimah yang hendah dirampas kehormatannya. Ku benar-benar tak menduga kalau gadis muslimah yang kutolongi itu ternyata Aspalela. Gadis pertama yang mencinta ku. Yang tak pernah menyerah mengetuk pintu hati ku. Gadis pertama yang hadir membuka memory cinta dalam hidup ku. Padanya ku mengenal cinta karna dialah yang pertama mencintaiku meski cintaku padanya tak pernah terungkap. Entah, bersalahkah aku terus membiarkannya mencintai ku sedangkan aku tak mengatakan ya atau tidak yang padahal kupun sangat mencintainya sama seperti dia mencintai ku. Apakah detik ini ia telah ditunangkan dengan seseorang pilihan orang tuanya? Apkah ia menerimanya karna lelah mengharap cinta ku yang tak pasti? Tidak, ku yakin Lela tahu semua, Lela tahu ku mencintainya dan ia pun tahu kenapa ku tak membalas mengungkapkan cinta padanya. Semua belum tiba saatnya. Dia tau kuhanya akan jatuh cinta pada seorang yang telah halal bagi ku.

“oh…!!! Astagfirullah…!!! Ampuni hambamu ya Allah..! ku telah melayani perasaan ku. Perasaan yang seharusnya ku enyahkan dari benak ku karna perasaan itu beralamatkan pada seorang gadis yang belum halal bagi ku. Pada-Mu ku memohon utuhkan cinta dan kasih sayang ku buat seorang gadis yang nantinya halal bagi ku. Biarlah dia jadi cinta pertama ku. Cinta yang engkau, rasul dan seluruh malaikat-Mua ridho pada ku… Astagfirullahal adhim ya Allah…!!!.”
**
Bermulanya pesona. Diufuk timur fajar mulai menyingsirkan sinarnya, Melebar senyum cerahnya pada dunia, Pada burung – burung yang berkicau ria di atas dahan, Pada gunung – gunung yang tinggi menjulang, Pada hamparan laut yang kebiruan, Tentunya jua pada ku yang sedang duduk termenung sepi diatas trotoar pelabuhan, Pelabuhan yang selalu jadi teman setia kala ku terenyuh dalam duka nestapa. mata ku terus terpana seakan tak mau terpejam barang sedetik jua menatapi riak yang jua tak pernah lelah berkejar – kejaran bersama camai yang kini menertawakan buah tasbih kecil terus berputar di telunjuk kanan ku.
“ subhanallah, subhanallah, subhanallah, ”

Kutawar setiap duka dan kesedihan yang hadir disetiap desah nafas dan denyut nadi ku. Ku tadabbur setiap gerak dan diamku, setiap masalah yang menghalangi jalanku. Setiap hikmah yang dijanjkan dibalik semua itu. Ku sish satu pertanyaan, kapan kiranya duka nestapa itu mampu kusulap jadi senyum terindah dalam hidup ku…?

“iZza……..! ngapaen pagi – pagi geni termenung. Tak baik terus-terusan nyendiri di tempat seperti ini.….? sapa pria berbadan kekar yang bekerja di pelabuhan itu yang tak lain adalah pak Arman, tetangga yang jua teman baik almarhum papa Ku hanya tersenyum getir padanya. Tentunya sebagai ungkapan terimakasih banyakku atas perhatian pria yang baik hati itu. “nggak sekolah… Za..?” lanjutnya lagi sambil terus berlalu menghampiri teman – temannya yang sudah dari tadi berkumpul lengkap dengan seragam dinasnya. Seperti biasanya, pagi-pagi buta mereka sudah siap - siap membongkar barang yang dipasok kapal kargo Klantan, yang sebentar lagi akan merapat kepelabuhan.

Senyum getir penuh dukaku kembali terenyuh dalam tatapan kosong pada riak – riak yang tak pernah bosan menjilat bibir pantai. Semilir angin berdesir mengalirkan kesejukan menembus kulitku. Namun sedikitpun ku tak bergeming dibuatnya. Sebenarnya ku tidak sedang terpesona dengan keindahan pantai. Tidak jua sedang terpikat pada hamparan laut biru yang usianya tak seorang pun tau. Tidak jua sedang memikirkan kapan semuanya itu telah ada, semenjak kampung – kampung di sekelilingnya bermula atau semenjak awal dunia tercipta. Sejatinya ku sedang memikirkan cercaan demi cercaan ibu wali kelas, setiap kali bayangannya berkelebat dimata ku, kata demi kata yang terucap, terbesit di bibirnya begitu lumrah mencabik-cabik batin ku. Padahal, perjuangan di bangku SMA tinggal setahun lagi. Tapi semuanya amburadur, tersandung dan terbentur dengan berbagai masalah yang semakin hari semakin menjadi – jadi.

Skandal cinta mati seorang cewek telah menggiringku kelembah putus asa penuh duka. Seorang cewek berparas ayu telah mengacak-acak masa depan ku. Bagaimana tidak !, karenanya ku bolos sekolah berminggu-minggu hingga nama baik ku sebagai siswa teladan dan sang juara kelas telah hancur. Gadis yang ku maksud tak lain adalah teman sekelas ku. Aspalela. Ironisnya dia anak semata wayang ibu wali kelasku. Masalahnya dia menaruh perasaan yang berlebihan pada ku.

Ku tak menduga dalam diam Lela telah jatuh hati pada ku. Ironisnya lagi, tiada secercah kebahagiaan yang ku dapat. Malah sebaliknya, jatuh bangun dalam duka nestapa yang tiada habisnya.

“Tuhan singkirkan duri itu dari jalanku…” begitulah kiranya doa yang yang setiap detik harus ku adukan pada-Nya. Betapa tidak, ungkapan Cinta dan sikapnya bagaikan penjara yang didalamnya neraka penuh azab siksa yang setiap harinya membuatku menetes air mata dan cabut sekolah. Satpam, wawak, teman-teman sekelas semuanya menyaksikan betapa setiap harinya ku pulang tanpa permisi. Semuanya dengan sangat terpaksa ku lakukan meski status siswa teladan yang pernah kuraih kini raib dalam skandal perasaan haram itu. Dengan sangat terpaksa kutempuh jalan singkat itu demi menghindari perangkap – perangkap maut Aspalela yang telah dibutakan oleh cintanya. Jenuh. Aku benar-benar jenuh. Kini ku terbelalak. Nyata sudah senyum merekah yang selama ini menyambut kehadiran ku disekolah bukan senyum tulus seorang sahabat atas nama persahabatan yang bernilai fahala, tapi senyum penuh makna seorang sahabat atas nama cinta. Oh... ku jadi semakin benci pada diri ku sendiri. kenapa harus pada ku?. Kenapa harus aku?... pertanyaan itu bagaikan anak panah yang meleset dari busurnya di tengah kegelapan malam dan menusuk bertubi-tubi kejantungku.
Senja kini. Hitung- hitung, Pertengahan januari lalu ketidak hadiranku tercatat di buku absen ibu wali kelas sudah 65 alpa. Belum lagi cabut dan alpa dua minggu ini. Oh!! Persetan dengan cinta Aspalela… Wajar sangat bila ibu wali kelas marah dan gusar karna kebolosan ku telah mencemar nama baik kelas yang ia pimpin. Tapi… apalah daya ku menghadapi Aspalela yang tak lain adalah putri semata wayagnnya. Bukan karna harta atau raut wajah yang membuat ku tak sudi menerima dan membalas segenap harapan Aspalela. Bahkan kalau dihitung – hitung Lela lebih Cantik dari Pretty Zinta, bintang bersinar di film bollywood itu. Kekayaannyapun tidak kurang. Baru kelas satu SMA ia sudah punya mobil pribadi dan usaha sendiri. Bayangkan, kecil-kecil sudah jadi manten begitulah kata oang jawa. Bukan pula karna ku sendiri berasal dari keluarga yang tak berpunya harta benda yang tinggalnya jauh di pelosok desa atau diriku yang hampir tak mampu membayar SPP sekolah. Bukankah semua orang tahu pangkat jabatan atau harta benda tidak pernah jadi ukuran dalam cinta. Kalau pun ada hubungan yang terjalin karna kecantikan dan ketampanan, itu bukan atas dasar cinta, tetapi birahi. Kalaupun ada sebuah hubungan yang terjalin karna harta benda dan kekayaan, itu bukan dan sama sekali tidak atas dasar cinta. Tetapi materi.

Jiwa ku bergolak antara maju dan mundur. Hati ku bimbang di antara ya dan tidak. Sebenarnya, semua orang tahu, Keputusan mutlak ada di tangan setiap individu untuk menerima dan menolak siapa saja yang ia kehendaki. Konon katanya cowok itu adalah pencari dan cewek itu adalah penunggu sebuah pencarian itu. Dan aku cowok, bukan cewek.
Jadi apa sususahnya…? Timpal teman ku. Tidak sobat.

Masalahnya, aku punya hati yang mungkin sebagai seorang cowok kau akan muak dengannya. Karena hati inilah yang tak tega menolak cinta Aspalela. Memang ku akui, ku tak punya hati seputih dan selembut awan dan sangat tidak layak pula berada pada martabat yang mulia itu, tapi hati kecilku selalu mengingatkan untuk pandai menimbang rasa. Jelaslah betapa sakitnya bila perasaan disia-siakan. betapa sakit dan kecewanya bila cinta tak kesampaian. Aku memang cowok tapi aku bukan raja. Apa kata dunia, Mentang- mentang kita seorang cowok bisa berbuat seenaknya? Tidak sobat. Prinsipku ketika dicintai jangan sekali-kali engkau jadi raja. Karena, memang hari ini kau sedang dicintai, mungkin besok kau yang akan mencintai. Dan hukum karma itu berlaku, bila hari ini kau jadi raja yang angkuh dan sombong, kelak ketika kau akan mencintai, ku akan jadi budak seorang ratu yang angkuh dan sombong dan sama bejadnya. Jawab ku pelan, berusaha menyakinkannya.

Seiring dengan bergulirnya waktu, ku larut dalam gejolak perasaan ku sendiri. Setiap harinya hanya menyendiri dan menyepi hanya karna tak tega menyakiti perasaan orang lain. sejujurnya Aku punya semua yang cowok lain punya. punya napsu, punya cinta jua kasih sayang. Sesungguhnya ku punya seribu alasan kenapa ku benci pergaulan bebas. Terutama, ku sangat tidak mau menginjak – injak petuah bunda.
“jangan sekali-kali bermain di dekat sumur, suawatu waktu kamu akan terjatuh kedalamnya”.

Dan tempo hari petuah itu kembali terucap. Petuah yang begitu bermakna bagi seseorang yang berfikir. Apalagi seseorang itu selalu mengindahkan benih iman yang telah tertanam dalam dadanya semenjak ia lahir. Lebih dari itu, buat ku sekolah bukanlah tempat mencari pacar atau pacaran, tapi tempat mencari ilmu pengetahuan. Sekali lagi sekolah bukan tempat belajar mencari jodoh atau pasangan hidup tapi tempat belajar ilmu pengetahuan. Sekali kali pula bukan tempat berbagi kasih sayang tapi tempat berbagi ilmu pengetahuan. Meskipun ya dan tidak pernah dialarang, buat ku kesempatan itu belum saatnya untuk kujelajahi. Meskipun sudah tiba saatnya, tapi pacaran itu tidak ada dalam kamus agamaku. Agama ku sangat membatasi hubungan antara lelaki dan perempuan yang bukan mahram. Batas itu hanya bisa dilalui dengan sebuah akad yang sah yaitu pernikahan. Coba ! wajarkah seorang siswa yang masih duduk di bangku sekolah seperti ku berbicara masalah pernikahan? Oh sobat…! apa kata dunia bila pria seusia ku menikah?! Bagaimana bisa jiwa ku yang masih kosong ilmu pengetahuan agama, menjaga tugas dan kewajiban sebagai seorang Suami, bagaimana bisa ku bahagia dan membahagiakan Istriku layaknya Rasulullah S.A.W dalam membahagiakan Aisyah.

Tak obahnya
Sesuap nasi di kelaparan
seteguk air dikehausan
pelita di kegelapan
selimut di kedinginan malam
pelipur lara di kedukaan
benteng keselamatan
istana keabadian
sepanjang hayat dikandung badan.

Bukankah seorang suami harus menjadi pembimbing bagi Istrinya?, akankah daku menjadi Suami laknat Allah??? Tidak ! sama sekali tidak. Sama sekali tidak terlintas dibenakku untuk hal itu. Sama sekali belum terbesit dihatiku untuk memikul beban yang maha dahsyat itu. Latar belakang inilah yang selalu mengukuhkan diriku untuk tidak membalas cintanya. Cinta yang jelas – jelas terlarang dalam agamaku. Cinta yang jelas-jelas haram hukumnya dalam agamaku. Keharamannya karna mencegah lebih baik dari pada mengobati. Sesuai dengan teguran dalam sapaan terindah-Nya jangan kau dekati zina. Jangankan untuk berbuat, mendekatinya saja sudah dilarang. Dan larangan tegas itu bermaknakan haram. Jelaslah pergaulan bebas dan pacaran haram dalam agama ku. Tentunya jua menjalinan cinta dan memadu kasih sayang diluar ikatan nikah itu jua jelas haram. Dan ku tak kan pernah menyangsikan syariah tuhan ku. Dia yang maha mengetahui tidaklah menghalalkan sesuatu kepada hamba-Nya kecuali atas dasar kasih sayang-Nya yang tiada bertepi. Dan tidaklah Ia mengharamkan sesuatu kepada hamba-Nya kecuali atas dasar cinta dan kasih sayang-Nya pula. Tentunya ia ingin hamba-Nya selalu bahagia, damai dan aman sentosa di dunia dan akhirat pastinya. Fakta bebicara, Dia mengharam pembunuhan demi keselamatan jiwa segenap hamba-Nya. Dia mengharamkan khamar demi keselamatan akal sehat h segenap amba-Nya. Dan Dia mengharamkan pencurian demi keselamatan segenap harta benda hamba-Nya. Begitu pula halnya dengan perzinaan. Dia mengharamkan perzinaan itu demi keselamatan dan kejelasan identitas segenap keturunan hamba-Nya. Sekali lagi, ku takkan pernah menyalahinya walau segalanya harus ku korbankan. meski nyawa harus kupertaruhkan. Selama matahari masih bersinar harapan selalu milikku. Ku tak boleh menyerah…

Seketika bayangan Aspalela berkelebat dimataku...!. dengan penuh semangat ia berdiri didepanku. aneh benar kenapa dia tetap bersikukuh dengan kata hatinya padahal betapa ku selalu menghindar darinya. ingin rasanya ku berteriak lantang didepannya.

" Lela........... engkau bagaikan jurang yang sangat luas dan dalam, dengan tebing – tebingnya yang terjal menjajal hiduku. betapa ku sangat sengsara karna mencoba mengertikan mu Lela.......tidak adakah secuil perasaan dari mu untuk mengertikan ku?..".

Di saat-saat seperti ini rasanya tiada kata lagi yang mampu ku ucap untuk memarahinya dalam hati ku. betapa selama ini ku selalu menjaga tutur kata dan sikap ku agar tidak seorapun yang tersinggung dan terluka karenaku, tak terkecuali Aspalela. Buat sekarang dan esok harinya haruskah semua itu ku akhiri?
“ahhhh….! Tidaaaa…..k! Persetaaaaan!!! persetan dengan cintaaaa…!!!” ku berteriak lantang sembari bangkit dari duduk dan berelari sekuat tenaga. ku berlari dan terus iangin berlari sampai tenagaku terkuras habis. Seakan semua masalah yang sedang menyiksa batinku luluh bersama peluh yang mengucur dari kening bersama derai air mata duka yang terus meretas membasahi pipi.

“ Jangan penah jatuh cinta pada sebuah ciptaan,
sebelum antum jatuh cinta pada pencipta ciptaan itu sendiri….
Dan jangan pernah membalas cinta sebuah ciptaan,
sebelum antum membalas cinta pencipta ciptaan itu sendiri....

Di depan Bunda ku terengah – engah kelelahan. Tapi wanita yang mulia ini tidak ambil kaget atau heran hingga harus bertanya-tanya dengan keadaan ku. sekilas ku sempat menangkap gurat wajah penasarannya. tapi gurat itu seketika ia sembunyikan dalam sungging senyumnya yang selalu indah dihatiku. Seakan apa yang sedang terjadi sudah begitu sering dilihatnya. padahal baru kali ini ku pulang bercucuran keringat dan terengah - engah layaknya bocah-bocah palestina yang lolos dari moncong senapan yahudi Israel. tapi tiada pertanyaan yang harus ku jawab kalaku lelah dan hampir kehabisan nafas seperti ini. ohh! luasnya samudara kasih sayang dan pengertianmu yang tiada bertepi selalu teduh tuk kunikmati, bunda, itulah beliau, Bundaku. Wanita yang paling kusayangi sepanjang hidupku. Dialah wanita pertama pula yang paling kucintai, ya, Yang pertama dalam hidup ku. Dia pula dewi tercantik dihatiku, yang takkan terkalahkan meski seribu miss Indonesia antrian mencoba meraih posisi itu, sepanjang hidup ku. Ya, sepanjang hidupku. Malaikat selalu menyaksikan betapa jujurnya ungkapan ini, karena yang cantik menawan belum tentu nyaman mata memandang,yang elok mempesona belum tentu membahagiakan. Tetapi, mata yang selalu bertadabbur atas kebesaran-Nya, mulut yang selalu berzikir menyebut asma-Nya, perkataan yang selalu mengingatkan manusia dan wajah yang selalu bersimbah wudhuk hanya karena Rabbnya. Dialah yang cantik itu, yang kasih sayangnya tak pudar ditelan waktu, yang mengulur tangan siap membantu, yang melangkah lebar siap berpacu, beramal dan berbuat baik setiap waktu. Dialah sang ratu kecantikan itu, atas dasar semua itulah kuurungkan semua niat ku menikmati dunia berdua dalam bayang-bayang cinta Aspalela.

Masih dengan senyum ramahnya, bunda mengambil handuk ku. kutatap jam dinding yang terpajang tak jauh di sebelah kanan emak.

“masih pukul tujuh. Hari ini adalah hari penentuan riwayat pendidikan ku. Ku harus datang untuk meraih semua itu. Tiada yang tak mungkin. Ku bisa! Ku harus jadi lulusan terbaik. Ya, buat bunda. Bundaku tersayang.” desahku........

Related

Remaja 1600598304026159709

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item