umdah

Pesona Cinta Di Sakratul Maut | Ep 02

Di kaki langit sebelah timur fajar mulai menyingsingkan sinarnya. Mentari mulai melebar senyum tulusnya pada dunia, pada burung – burung yang berkicau ria di atas dahan, Pada gunung – gunung yang tinggi menjulang, pada hamparan laut yang kebiruan, Tentunya jua pada ku yang sedang termenung sepi di atas trotoar pelabuhan. Semilir angin mengalirkan kesejukan menembus jaketku, ku tak bergeming. Mata ku terpana dan terus terpana menatapi riak yang tak pernah lelah berkejar – kejaran menjilat bibir pantai. Sesekali ku melirik ke arah sebongkah batu karang yang menjulang tak jauh di sana. Dia membuat hati kecil ku malu. Puluhan tahun sudah ia berdiri tegak ditengah hempasan gelombang, namun ia masih jua utuh dan kokoh seperti dulu. Sedangkan aku……. Aku jauh beda darinya. Aku lemah dan tak berdaya. Tak mampu menjaga hati nurani, perasaan, dan segenap anggota badan yang tuhan titipkan padaku. Ku benar-benar kewalahan. Bagaimana pula nantinya ku bisa tegar menghadapi derasnya arus modernisasi dan westernisasi yang menggila dan terus-menerus mendobrak benteng imanku.

Pesona Cinta

Arloji di tanganku berdenging menunjukkan pukul 07.00. Sadarku, sudah saatnya ku berangkat kesekolah. Namun…, Kejenuhan membuatku begitu malas untuk beranjak pergi dari situ. Teringat sekolah, ku teringat Asplela. Sebenarnya Aspalela tak lain adalah sahabat sekelasku. Sahabat yang ku kenal seperempat tahun yang lalu. Tapi akhir-akhir ini…. Yeah…! Ingin rasanya ku terus menyendiri dan menyepi saja. Karena menatapnya hanya membuatku kian larut dalam gejolak perasaan napsu imanku sendiri. Dan pastinya, perlahan imanku yang lemah akan lapuk dan roboh di hadapannya. Hanya inilah buatku solusi meredamkan desiran hati yang bermaknakan perasaan istimewa itu. Yang namanya sahabat, sudah kugaris bawahi, bahwasanya aku, bagaimanapun dan sampai kapanpun ia tetaplah sahabatku. Dan Aspalela takkan ku obah dari jumlah daftar itu.

Dini hari, setelah gadis itu meminta nomor hand phone ku, aku kian lemah dan tak berdaya. Aku menilai dalam diam dia juga menaruh perasaan yang sama padaku. Aku semakin tak mampu lagi menyayanginya atas nama sahabat, aku ingin semuanya atas nama kekasih. Semenjak itulah, kala ku teringat sekolah, ku teringat Asplela. Seakan sekolah dan Aspalela adalah satu paket yang tak dapat dipisahkan dalam ingatanku. Betapa tidak. Gadis blasteran Qairo Aceh itu begitu brilian dan cantik menawan. Suaranya yang begitu manis merdu ditelingaku. Cara bicara dan candanya begitu memikat hatiku. Cara berpakaiannya, ala timur tengah yang muslimah banget itu begitu indah mempesona dimataku. Sikapnya yang suka merendah, menolong dan mudah memaafkan menunjukkan betapa putih dan lembut hatinya. Satu hal yang membuatku terus terbuai dalam hayalan adalah sunggingan senyumnya, merah bibir yang disertai lusung pipi kirinya begitu manis merekah.
“Aaahhhhhh…….!!! Aspalela… engkau begitu sempurna. Sayangnya, bayang mu yang begitu anggun, sayang di bawa setan menggoda iman ku”. desah ku.

“Sebenarnya cinta itu lumrah, mencintai itu mudah, dicintai oleh orang yang kita cintai itu memang payah tetapi mencinta dan dicintai dalam cinta dan kasih sayang Allah itulah yang teramat sangat susah. Inilah yang membuatku sangat berduka. Kala ku jatuh cinta, terpesona mata, terpikat hati, tersenyum bahagia, dan terbuai dalam hayalan. Yang semua itu beralamatkan pada Aspalela seorang, apakah Tuhan mencintai dalam cintaku? apakah Tuhan tersenyum dalam senyumku? apakah Tuhan bahagia dalam bahagiaku? Dan bila nantinya cintaku terbalas, apakah tuhan meridhai setiap gerak dan diamku? Apakah tuhan memberkati setiap desah nafas dan denyut nadiku?”. Ku membatin.

Sekalilagi, Inilah problema inti yang membuat ku takut dan berduka. Takut terjerumus pergaulan bebas. Dan berduka karena tak sanggup menolak perasaanku datang menggebu-gebu ini. Betapa selama ini, seluk-beluk dunia percintaan sarat dengan pelampiasan hawa napsu. Seakan-akan tidak sah mencintai tanpa bukti peluk cium bagi pemula. Dan seterusnya nauzubillah….Intinya bercinta dan mencintai sama artinya dengan melampiaskan hawa napsu sendiri sebagai pecinta, dan memuaskan napsu orang yang dicinta. Sungguh nista cinta yang tak obahnya prilaku binatang itu.

Lebih dari itu, buat ku sekolah bukanlah tempat mencari pacar atau pasangan hidup tapi tempat mencari ilmu pengetahuan, bukan tempat berbagi kasih sayang tapi tempat berbagi ilmu pengetahuan. Seandainya pun ya, buat ku kesempatan itu belum saatnya untuk kujelajahi. Mustahil banget bagiku, agama ku yang agung hanya membolehkan ku menjelajahi dunia itu lewat pentas pernikahan. Dan ku sadar betul kehancuran masa depan semakin nyata lewat pernikahan dini. Andaipun semua merestui bagaimana bisa jiwa ku yang masih kosong ilmu pengetahuan agama, menjaga tugas dan kewajiban sebagai seorang Suami, bagaimana bisa ku bahagia dan membahagiakan Istriku layaknya Rasulullah S.A.W dalam membahagiakan Aisyah. Bukankah seorang suami harus menjadi pembimbing bagi Istrinya?, akankah daku menjadi Suami laknat Allah??? Tidak ! sama sekali tidak. Sama sekali tidak terlintas dibenakku untuk hal itu. Sama sekali belum terbesit dihatiku untuk memikul beban yang maha dahsyat itu.

Batinku yang lemah menjerit… seandainya ayah masih hidup ia pasti akan membimbingku. Ayah pasti akan selalu mengukuhkan diriku untuk tidak menjelajahi dunia cinta. Cinta yang jelas – jelas terlarang dan haram hukumnya dalam agamaku. Orang bijak berkata “mencegah lebih baik dari pada mengobati”. Sesuai dengan teguran dalam sapaan terindah-Nya “jangan kau dekati zina”. Jangankan untuk berbuat, mendekatinya saja sudah dilarang. Dan larangan tegas itu bermaknakan haram. Jelaslah pergaulan bebas, tentunya menjalinan cinta dan memadu kasih sayang diluar ikatan nikah itu haram. Dan ku tak kan pernah menyangsikan syariah tuhan ku. Dia yang maha mengetahui tidaklah menghalalkan sesuatu kepada hamba-Nya kecuali atas dasar kasih sayang-Nya yang tiada bertepi. Dan tidaklah Ia mengharamkan sesuatu kepada hamba-Nya kecuali atas dasar cinta dan kasih sayang-Nya pula yang tiada berperi. Tentunya ia ingin hamba-Nya selalu bahagia, damai dan aman sentosa di dunia dan akhirat. Fakta bebicara, Dia melarang pembunuhan demi keselamatan jiwa segenap hamba-Nya. Dia melarang khamar demi keselamatan akal sehat segenap hamba-Nya. Dan dia melarang pencurian demi keselamatan segenap harta benda hamba-Nya. Begitu pula halnya dengan perzinaan. Dia melarang perzinaan itu demi keselamatan dan kejelasan identitas segenap keturunan hamba-Nya.

"aaahh!!! Lela..... Lela......! Bayang mu yang begitu anggun, sayang dibawa setan menggoda iman ku. Aku benci…!! Kenapa engkau memulainya? bukan itu yang kuharapkan lela..!? kini engkau bagaikan jurang yang sangat luas dan dalam, dengan tebing – tebingnya yang terjal menjajal hidupku. betapa ku sangat sengsara karena perasaan ini, kenapa engkau tak mau menyadarinya,? haruskah ku akhiri kebersamaan didunia pendidikan yang sarat kenistaan dan penderitaan ini? Haruskah ku menjadi manusia yang ekstrim dan arogan, yeah biar engkau dan yang lainnya membenciku?. Batinku mengeluh, kutawar batin ku yang lelah. Buah tasbih kecil terus berputar di telunjuk kanan ku.
“ subhanallah, subhanallah, subhanallah, ”

Batinku menjerit,…
“ subhanallah, subhanallah, subhanallah, ”

Kutawar kembali setiap duka dan kesedihan yang menghantui jiwaku. Ku tadabbur setiap gerak dan diamku, setiap masalah yang menghalangi jalan hidup ku, Kuyakin akan sejuta hikmah yang dijanjkan dibalik semua itu, disetiap desah nafas dan denyut nadi ku. Namun, dalam hati kecil tetap jua ku sisih satu pertanyaan, kapan kiranya duka nestapa itu mampu kusulap jadi senyum terindah dalam hidup ku…? Sadarku ini semua karena imanku yang lemah dan ilmu pengatahuan agamaku yang masih dangkal.

Seketika senyumku melebar… jalan hidupku terasa penuh warna yang indah. Ku teringat bait-bait puisi bunda tempo hari.

Tak usah jatuh cinta pada sebuah ciptaan,
sebelum engkau jatuh cinta pada pencipta ciptaan itu sendiri….
Tak usah membalas cinta sebuah ciptaan,
sebelum engkau membalas cinta pencipta ciptaan itu sendiri....
Kenapa harus iri melihat orang lain berpacaran…?
Tidakkah indah hidup bebas tanpa cewek…?

“Ahhhh….!!! persetan dengan cintaaaa…!!!” pekikku sembari bangkit dan lari dengan sekuat tenaga. Aku sangat bersyukur. Lewat bait-bait puisi bunda itu ku bisa menemukan senyumku kembali. Tekatku semakin mantap. Aku takkan bertekuk lutut pada pesona kecantikan itu. Karena Yang cantik menawan belum tentu selamanya nyaman mata memandang.Yang elok mempesona belum tentu selamanya membahagiakan. Tetapi, mata yang selalu bertadabur atas kebesaran-Nya. Mulut yang selalu berzikir menyebut asma-Nya. Perkataan yang selalu mengingatkan manusia dan... Wajah yang selalu bersimbah wudhuk hanya karena Rabbnya... dialah yang cantik itu. Yang kasih sayangnya tak pudar ditelan waktu. Yang mengulur tangan siap membantu. Yang melangkah lebar siap berpacu untuk beramal dan berbuat baik setiap waktu... dialah sang ratu kecantikan itu.

”Tuhan ampunilah aku yang telah melayani perasaan haram ini. Akan ku coba hidup indah bebas tanpa cewek….dijalan ridho Mu.” lirihku.

Sesampai dirumah, sekilas ku sempat menangkap gurat wajah bunda penuh kaget saat menatapku pulang terengah – engah, bercucuran keringat. Tak obahnya aku bocah-bocah palestina yang lolos dari moncong senapan yahudi Israel. Tapi gurat itu seketika ia sembunyikan dalam sungging senyumnya yang selalu indah dihati ku. Tiada pertanyaan yang harus ku jawab kalaku lelah dan hampir kehabisan nafas seperti ini. Malah ia menghampiri, tersenyum dan mengelus-elus rambutku yang acak acakan. ohh! Itulah beliau, luas samudara kasih sayangnya, sungguh tiada bertepi dan selalu teduh tuk kuselami.

Masih dengan senyum ramahnya, bunda mengambil handuk dan menuntunku sampai kepintu kamar mandi. kutatap jam dinding yang terpajang tak jauh di belakang bunda.

“masih pukul tujuh…. ” katanya mengingatkan.

Sadarku kalau hari ini adalah hari penentuan riwayat pendidikan ku di bangku sekolah. Ku harus datang untuk meraih semua itu. Buat bunda. ”Tiada yang tak mungkin. Ku bisa! Ku harus jadi lulusan terbaik. Ya, buat bunda. Bundaku tersayang.” gumamku.
Kupersingkat khayal dengan ibadah ku disana. Membasuh badah seadanya lalu kusempurnakan dengan wudhuk.

“Angga.. bunda strika bajunya ya…”

Mendengar tawaran tulus itu ku tertegun. Bagiku dukungan dan semangat yang disportnya tadi sudah cukup bahkan lebih dari dari yang kuharapkan. ku tahu betul bagaimana tulusnya wanita berhati malaikat yang telah melahirkan dan membesarkanku dalam cinta dan kasih sayangnya itu. Meski sehalus apapun ku menolak dan melarangnya walau seribu kali lagi, asalkan mampu dan sempat dilakukannya, ia akan melakukan apa saja yang terbaik buat ku. Apalagi hari ini, ia tahu betul hari ini adalah hari ebtanas disekolah. Begitulah kasih bunda padaku. Seakan bahagiaku adalah bahagianya sendiri. Dan dukaku adalah dukanya sendiri. disetiap ceriaku ada senyumnya, disetiap dukaku ada isak tangisnya karena sesungguhnya...dukaku adalah dukanya sendiri. Bahagiaku. Entah karena ia adalah seorang ibu... dan aku adalah darah dagingnya. Atau memang karena dia adalah wanita jelmaan malaikat buat yang diutus tuhan buatku. Yang jelas aku bahagia karenanya. Dan aku atas izin tuhan dan restunya bunda, aku tidakkan pernah menjadi seorang ayah buat anak-anak ku sebelum ku mendapatkan seorang ibu buat mereka layaknya ayah memberiku ibu seperti bunda.

Sebongkah pilu yang sempat meleleh ke pipi ku rasanya tak cukup mewakili desiran hati ku mengenang kasih bunda. Tak sanggup ku bayangkan bila nantinya ada kata perpisahan antara kami. Mungkin ku akan mati dalam kegilaan menderai air mata menagisi hari-hari yang penuh kenagan bersamanya. Betapa engkau telah mengandungku sembilan bulan lamanya. Betapa engkau telah melahirkan dan membesarkanku dalam cinta dan kasih sayang mu. Telah engkau lukis kenangan terindah di setiap liku-liku kehidupan ku. Bunda, kalau tuhan memberiku satu pilihan, kukan memilih takkan mati sebelum berbahagia dan membahagiakan mu layaknya engkau telah membahagiakan ku semenjak kecil. Ku ingin senyum mu, senyum yang selalu jadi penawar luka dan kesedihan ku. Senyum yang selalu menyambut kepulanganku disetiap kesempatan kan terpatri selamanya. Menjerit batin ku. Sebongkah pilu meleleh, kian deras kepipi ku. Sejenak tangan ku terhenti menimba. Ku sapu air mata ku.

Sembari berkaca di depan cermin lemari ku mengiba. Bunda ku tahu engkau sangat berharap ku dapat meraih peringkat kelas sekaligus jadi siswa taledan tahun ini, seperti tahun- tahun yang lalu. “Oh bunda… Angga akan kembali kebangku sekolah. Meski izza azizie bukan namaku lagi. Bersama nama baru yang engkau berikan akan kembali menjadi yang terbaik. Ya! Bunda akan duduk di deretan paling depan menunggu nama Angga Noveri dipanggil sebagai juara kelas sekaligus lulusan terbaik tahun ini”.

Perlahan ku menuntun langkah ku keluar dari kamar. Sejenak ku berbincang dengannya lalu pamitan. Ku masih menolak membawakan kereta baru yang seminggu lalu beliau belikan untuk ku. Bunda mengerti, aku punya banyak teman yang nasipnya setiap pagi naik angkot dan jalan kaki kesekolah. Dengan kereta itu ku tak mungkin memboncengi mereka, semuanya. Lagi pula jalan kaki bisa menjadi sport pagi buatku. Ku terus berpacu dengan waktu berjalan kaki melewati jalan pintas yang sudah sering mengantarkanku kesekolah tepat waktunya.

Jam 07.30 ku sampai di depan pintu garbang sekolah.
“alhamdulillah…….! Untung saja…….!” Desahku berulang – ulang. Kuraba dada ku yang berdegub kencang dan terus mempercepat langkah memasuki pekarangan sekolah. Betapa ku sangat lega karena pintu garbang belum terkunci dan satpam yang hitam tinggi besar itu tidak terlihat batang hidungnya. Ku sangat khawatir kalau sampai harus berurusan lagi dengan dia seperti tempo hari.
“hei…….!!! Berhenti……..!!!”. Dhaaaaar…teriakan itu bagai gemuruh halilintar yang serta merta menyambar langkah ku. ku yang baru saja beberapa langkah melewati pintu garbang memasuki pekarangan sekolah tersentak kaget dan terpaksa kuhentikan laju langkahku mendengar bentakan itu.

Beberapa siswa yang sedang berjalan tak jauh dari ku, langsung berlari memasuki pekarangan sekolah. Ku coba tenagkan detak jantungku yang tak beraturan. Aku gugup dan pucat. Tak obahnya seorang narapidana yang dihadapkan ketiang gantungan. Kutak habis pikir, ada-ada saja rintangan dan halangan yang menghambat setiap perjuangan ku. Padahal setiap harinya ku takpernah lupa mengisi daftar kegiatan harian ku. Dan disana tidak ada sisa waktu ku barang sedetikpun untuk yang namanya rintangan dan halangan. Tapi nyatanya seakan semua waktu ku tersedia untuk semua rintangan dan halangan itu. Tidakkah tuhan mengizinkan ku mengecap pendidikan di tempat ini lagi? Tidakkah tuhan meridhai ku bangkit untuk memperbaiki setiap keterpurukan hidup demi secercah harapan, bahagia dan membahagiakan bunda?.

Perlahan ku menoleh ke belakang mencari sumber teriakan itu. Ternyata dugaanku salah. Bukan satpam. Tetapi tiga berandal berbadan kekar yang teman-temanku bilang seminggu ini mencari-cari ku. Tiga sosok beringas itu terus berjalan ke arah ku…

Related

Remaja 4247076091937419989

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item