umdah

Pengertian Iman Dan Islam

Pengertian Iman Dan Islam-Artkel ini merupakan sambungan artikel sebelumnya, Tauhid Ahlussunnah Waljamaah.
Dalam artikel ini anda akan mendapatkan ragam pengertian esensial tentang iman dan islam dan yang berhubungan dengannya. Selamat membaca. !

iman dan islam



وَفُسِّرَ الإِيْمَـانُ بِالتَّصْـدِيْقِ وَالنُّطْقُ فِيْهِ الْخُلْفُ بِالتَّحْقِيْقِ
فَقِيْلَ شَرْطٌ كَالْعَمَلْ وَقِيْلَ بَلْ  شَطْرٌ وَالإِسْلاَمَ اشْرِحَنَّ بِالْعَمَلْ
مَثَالُ هَذَا الْحَجُّ وَ الصَّـلاَةُ  كَذَا الصِّـيَامُ فَادْرِ وَالزَكَاةُ

"Jumhur ulama mengartikan iman dengan tashdiq. Mengenai pengucapan dalam dua kalimah syahadat terjadi ikhtilâf atau perbedaan pendapat ulama:
  1. Syahadat merupakan syarat dari pada iman, sama juga dengan amal-amal ibadah lainnya.
  2. Syahadat merupakan bahagian dari pada iman. dan Islam adalah realisasi amalan seperti haji, shalat, puasa, zakat dan lain-lain".

Iman terbagi kepada lima pembahagian:

1. إيمان عن تقليد: الايمان الناشئ عن الأخذ بقول الشيخ من غير دليل
"Keyakinan yang bersumber dari perkataan guru tanpa disertai dalil".

2. إيمان عن علم: الايمان الناشئ عن معرفة العقائد بأدلتها
"Keyakinan yang bersumber dari ma‘rifah aqidah yang disertai dengan dalil".

3. إيمان عن عيان: الإيمان الناشئ عن مراقبة القلبى لله بحيث لا يغيب عنه طرفة عين

"Keyakinan yang bersumber dari keterikatan hati kepada Allah sehingga hatinya tidak pernah terlepas dari mengingat Allah walau sekejap mata".

4. إيمان عن حقّ: الإيمان الناشئ عن مشاهدة الله بالقلب
"Keyakinan yang bersumber dari musyahadat Allah dengan hati"

5. إيمان عن حقيقة: الإيمان الناشئ عن كونه لا يشهد إلا الله
"Keyakinan yang bersumber dari kelakuannya yang tidak mengangggap sesuatu yang lain itu ada, kecuali Allah".

الإسلام: الإمتثال و الإنقياد لما جاء به نبى صلى الله عليه وسلم من الدين
بالضرورة
"Menjunjung tinggi dan patuh terhadap syariat Nabi Muhammad yang maklum secara dharurî".


Sesungguhnya berjayalah orang yang menjadikan dirinya – yang sedia bersih – bertambah-tambah bersih (dengan iman dan amal kebajikan), Dan sesungguhnya hampalah orang yang menjadikan dirinya – yang sedia bersih – itu susut dan terbenam kebersihannya (dengan sebab kekotoran maksiat). ( Ayat 9 – 10 : Surah asy-Syams )

وَرُجِّحَتْ زِيَـادَةُ الإِيْمَـانِ بِمَا تَزِيْـدُ طَاعَةُ الإِنْـسَانِ
وَنَقْصُهُ بِنَقْصِـهَا وَقِيْلَ لاَ  وَقِيْلَ لاَ خُلْفَ كَذَا قَدْ نُقِلَ

"Menurut pendapat kuat iman sangat tergantung kepada taat, apabila taat bertambah, maka imanpun akan bertambah, dan apabila taat berkurang maka imanpun akan berkurang. Menurut pendapat «haif iman itu tetap (tidak bertambah dan tidak berkurang). Sebahagian ulama berpendapat bahwa sebenarnya pada masalah tersebut tidak terjadi ikhtilāf, hanya cara tinjaunya saja yang berbeda".


SIFAT-SIFAT YANG WAJIB BAGI ALLAH

Sebelum membahaskan sifat-sifat yang wajib bagi Allah, ada baiknya kita bahas sedikit masalah-masalah lain yang berhubungan dengannya, dimana nantinya dapat mempermudah untuk memahami sifat-sifatNya. Masalah-masalah tersebut adalah mengenai pembahagian urusan-urusan maujudat (syai’ al maujud)dan mengenai pembahagian jumlah al umur.

Untuk mengupas hal ini ada baiknya kita pedoman kepada hasil dari kesimpulan yang dibahas oleh Tim Lajnah Bahsul Masa-il Mudi Mesra. Catatan kesimpulan tersebut nantinya Insya Allah akan dilampirkan.

Dalam kesimpulan tersebut menklasifikasikan ADA kepada dua macam yaitu ADA dalam zihin (wujud fiz zihniy)dan ADA pada kharij (wujud fil kharij), untuk yang kedua ini terkadang disebut dengan wujud fil waqi’ atau wujud fi nafsil amriy

A. Jumlah Maujudat

a. Wujud Fiz Zihniy

Zihin adalah benak, jiwa atau pikiran, benak atau pikiran tidak lepas dari dua kondisi yang berlawanan, yaitu ilmu dan jahil. Pada saat keluar rumah kita menyaksikan rumah, dan pada saat yang sama pula tertanam dalam benak gambaran bangunan tersebut, dan pada saat itu pula gambaran bangunan tersebut ada dalam zihin dan inilah yang disebut dengan wujud fiz zihni, kondisi ini disebut dengan ilmu atau tasawwur, maka wujud fiz zihniy adalah mengetahui, mentawwur dan tergambar akan sesutu dalam benak atau pikiran. Sebaliknya, sebelum menyaksikan bangunan tersebut, dalam benak kita tidak ada gambaran itu, kondisi ini disebut dengan jahil, maka bangunan tersebut tidak ada (ma’dum) dalam zihin.
Dikatakan wujud fiz zihniy, karena keberadaannya ditinjau dari aspek zihin semata, tidak dilihat pada kenyataan, sesuatu yang telah tergambar dalam zihin dan sudah dimengerti sudah sah disebut wujud fiz zihniy, baik hakikat sesuatu tersebut ada pada kenyataan maupun khayalan semata.

b. Wujud Fil Kharij

Wujud Fil Kharij adalah sebalik wujud fiz zihniy, kalau wujud fiz zihniy dilihat dari aspek zihin, maka yang ini dilihat pada kenyataan walaupun tidak diketahui dan belum tergambar dalam zihin. Maka jikalau suatu barang yang sudah ada tetapi tidak diketahui maka barang itu sudah sah disebut wujud fil kharij, karena keberadaannya sama sekali tidak dilihat dalam zihin, tetapi ditinjau diluar zihin sehingga disebut juga dengan wujud fil kharijil az azhan, barang seperti ini banyak sekali seperti berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang sudah ada padahal kita tidak mengetahuikanya dan seperi sifat-sifat kamaliyat (kesempurnaan) Allah yang tidak diketahui dan tidak wajib untuk mengetahui tetapi sifat-sifat tersebut ada. Barang yang sudah ada dan sudah diketahui maka barang itu boleh disebut dengan dua nama (wujud fiz zihniy dan wujud fil kharij).

Barang yang sudah ada tidak semuanya dapat dilihat karena untuk melihatkanya terkadang perlu untuk dibuka hijab (tutupan), seperti hadas, ilmu dan sifat-sifat ma’aniy lainya, akan tetapi sifa-sifat ini ada, tidak bisa dilihat tidak berarti barang itu tidak ada, tetapi apa bila hijab hilang dari mata maka sifat-sifat tersebut pasti terlihat seperti Nabi pernah milihat hadas pada salah seorang sahabat yang belum berwudhuk sehigga Nabi menyeruhnya untuk berwudhuk, barang yang munkin dilihat walaupun untuk melihatkannya harus terlebih dahulu untuk dibuka hijab, barang ini diberi nama khusus yang tidak termasuk kedalamnya barang lain yaitu kharijul a’yan yang berarti lahir dan nampak dimata.

Dan masih ada satu jenis lagi yang sifatnya ada tetapi tidak munkin bahkan mustahil untuk dilihat, tetapi untuk dikatakan tidak ada tidak boleh karena barang itu ada, disebut ada sebagaimana barang-barang lain itupun tidak boleh karena tidak bisa dilihat, namun barang itu ada, untuk mengemukakan hal ini memang sulit sehingga ada yang berpendapat bahwa jenis itu tidak ada sama sekali (ma’dum), yang termasuk kedalam jenis ini adalah sifat-sifat ahwal (wujud dan ma’nawiyah), kedua macam ini akan dilanjutkan pembahasannya pada tempatnya, jenis seperti tidak ada nama khusus selain dari nama umum yaitu wujud fil kharij atau wujud fil kharijil al azhan

B. Jumlah Al Umur

Zihin adalah salah satu indra yang istimewa, dengan adanya zihin manusia bisa mengetahui dan bisa melihat apa saja yang tidak dijangkau oleh mata, jangkauan mata terbatas pada benda-benda yang nyata dan yang bisa diraba, akan tetapi zihin bisa melihat apa saja, baik yang nyata maupun yang tidak nyata bahkan barang yang tidak ada samasekali semuanya bisa dijangkau (ta’aluq) oleh zihin, maka dari sini dapat diketahui bahwa jangkauan zihin lebih luas dari pada jangkauan mata, dan kesemuanya jangkauan itu yang dimaksud dengan Al Umur yaitu:

a. Al Mawjud

Mawjud adalah suatu istilah arab yang digunakan kepada benda-benda yang dapat dilihat dan bisa diraba, dengan kata lain, apa saja jenis zat yang tingkatan wujudnya sampai pada tingakat wujud fi kharijil ‘ayan maka sudah boleh digunakan kata mawjud, termasuk kedalamnya benda mati atau mahkluk hidup dimana untuk melihatnya tidak terhalang dengan suatu hijab apapun. Dan ada pula untuk melihatkannya harus terlebih dahulu untuk dibuka hijab seperti zat Allah, Nabi pernah melihatNya dengan mata kepala pada saat beliau israk mi’raj dan seperti qudrah, iradah dan sifat-sifat ma’aniy lainnya andaikan Allah membuka hijab pada mata kita pasti kita melihat sifat-sifat tersebut.

b. Ma’dum

Ma’dum adalah kebalikan dari pada mawjud, kalau mawjud digunakan pada yang sudah ada maka ma’dum digunakan kepada barang yang belum ada, baik barang itu akan ada maupun barang itu sudah pasti kepada tidak ada (mustahil), dalam istilah manthiq disebut tidak ada pada pada kharijul a’yan dan tidak ada pada kharijil azhan. Luasnya jaukaua ilmu sanggub mengetahui sampai pada barang yang belum ada, dengan kata lain akal mengetahui bahwa barang itu belum ada ataupun tidak akan ada, akan tetapi mata tidak dapat melihat barang-barang yang belum ada karena memang barang itu tidak ada maka tidak dapat melihatnya berbeda halnya dengan ilmu yang mengetahui bahwa Allah tidak mempunyanyi anak, tidak berjasad dan lain-lain yang termasuk kedalam barang yang mustahil dan inilah yang dimaksud oleh Ulama Tauhid bahwa ilmu ta’aluq kepada yang mustahil. Hakikat barang yang tidak ada bila diiktiqad kepada ada oleh seseorang (i’tabara al mu’tabir) maka barang tersebut sudah sah dikatakan Wujud fiz zihniy.

c. Hal

Satu perkara lagi yang sangat sulit untuk dipahami adalah hal sebagai bentuk tunggal dari kalimat ahwal, ini mengambil posisi tengah, karena mawjud digunakan kepada barang yang dapat dilihat dan bisa diraba dan ma’dum digunakan kepada barang yang tidak ada sama sekali, sedangkan hal digunakan kepada satu keadaan yang tingkatan wujudnya berada antara ada dan tidak, untuk dikatakan tidak ada tidak boleh karena barang itu ada, disebut ada sebagaimana barang-barang lain itupun tidak boleh karena tidak bisa dilihat, namun barang itu ada, dengan kata lain wujudnya berada pada tingkatan wujud fi kharijil azhan. Yang termasuk kedalamnya ini adalah sifat-sifat ahwal (wujud dan ma’nawiyah).

Ketiga macam tersebut yang paling tinggi tingkatan wujunya adalah mawjud sehigga dapat dilihat (kharijul a’yan) dan yang paling bawah adalah ma’dum sehigga tidak ada sama sekali (tidak ada pada kharijil a’yan dan tidak ada pada kharijil azhan) dan satu lagi adalah hal yang berada pada antara ada dan tidak (ada pada kharijil azhan dan tidak ada pada kharil a’yan). Ketiga macam ini sangat perlu untuk dipahami secara mendalam karena sifat-sifat Allah yang sedang kita pelajari tidak keluar dari tiga macam ini, sifa-sifat ma’aniy termasuk kedalam mawjud, sifat ma’nawiyah termasuk kedalam hal dan sifat-sifat mustahil termsuk kedalam ma’dum, klasifikasi ini akan nampak denga jelas di saat membaca penjelasan pada tempatnya masing-masng.

C. Klasifikasi Sifat-Sifat Yang Wajib Bagi Allah

Sifat-sifat wajib bagi Allah ada dua puluh yang dikelompokkan menjadi empat kelompok: Nafsiyyiah, Salbiyyah, Ma‘anî dan ma‘nawiyyah.

a. Sifat Nafsiyyah

صفة نفسية: صفة ثبوتية يدل الوصف بها على نفس الذات دون معنى زائد عليها

"Sifat yang menunjuki kepada diri zat bukan kepada makna yang selain zat "

Nafsiyah adalah dihubungkan kepada nafs (zat) karena antara sifat Nafsiyah dengan zat sangat erat kaitannya dengan sebab zat tidak akan ada apa bila tidak ada sifat nafsiyah demikian juga sifat nafsiyah tidak akan ada apa bila tidak ada zat, kedua-duanya saling keterkaitan sehingga sifat itu menunjuki kepada diri zat dan tidak menunjuki kepada sifat lain selain zat sebagaimana yang ditunjuki oleh sifat-sifat ma’niy. Yang termasuk dalam pembahagian ini adalah wujud.

b. Sifat Salbiyyah

صفة سلبية: صفة دلت على سلب ما لا يليق بالله

"Sifat yang berfaedah untuk menafikan sesuatu yang tidak layak bagi Allah" .

Salbiyah bermakna menafi dan meniadakan karena semua sifat salbiyah menunjuki kepada menolak hal-hal yang tidak layak dengan Allah, apa saja sifat yang kontradiktif dengan ketuhanan dapat terbantah dengan sifat salbiyah, misalnya Allah bersifat baharu tertolak dengan qidam, perlu kepada pembantu tertolak dengan sifat qiyamuhu binafsih dan hal-hal lain semuanya terbantah dengan sifat salbiyah lainnya. Sifat salbiyah merupakan bahagian dari yang ma’dum, ternafi yang ma’dum itu sebut padaNya karena kalau misalnya wahdaniyyah tidak ada pada Allah, berarti Alllah mepunyanyi kawan, mempunyanyi kawan suatu hal yang mustahil terhadap Allah, maka dari ini dapat mengantar pikiran kita kepada sebut wahdaniyyah wajib terhadap Allah dan sebut tersebut merupakan bahagian dari wujud fi kharijil azhan yang berada antara ada dan tidak. Yang termasuk dalam pembahagian ini adalah : Qidam, Baqa, Mukhalafat lil hawadith, Qiyamumu bi nafsih dan wahdaniah.

c. Sifat Ma‘anî

صفة معانى: صفة قائمة بموصوف موجيبة له حكما

"Sifat yang terdapat pada zat yang melazimi kepada hukum ".

Sifat ma’aniy berbeda dengan sifat hal karena sifat ini wujudnya nyata dan bisa diraba dan dia bertempat pada zat sehingga dalam bahasa arab diibarat dengan qaaimah bizzat berbeda dengan sifat hal yang diibarat dengan saabit bizzat yang berarti ada akan tetapi tidak dapat dilihat, berbeda dengan sifat ma’aniy yang sifatnya wujud, nyata dan dapat dilihat jikalau dibuka hijab dan dengan ada sifat tersebut sehingga berkonsekwensi kepada ada sifat lain kepada zat seperti yang mengetahui denga sebab ada ilmu, yang mengusai dengan sebah ada kuasa (qudrah) padanya dan lain-lain sifat ma’nawiyah dengan sebab adanya sifat ma’aniy dan inilah yang dimaksudkan dengan kata-kata melazimiy suatu hukum. Yang termasuk dalam sifat ini adalah: Qudrat, Iradat, ‘Ilmu, Hayat, Sama‘, Basar dan Kalâm.

d. Sifat Ma‘nawiyyah

صفة معنوية: صفة واجبة للذات ما دامت الذات معللة بعلة
"Sifat yang wajib pada zat selama masih ada ‘illat".
Yang termasuk dalam pembahagian ini adalah: Qâdirun, Murîdun, ‘Alîmun, Hayyun, Samî‘un, Ba¡îrun dan Mutakallimun.

Itulah Pengertian Iman Dan Islam dan syarahannya, semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua dan menjadi amal ibadah di yaumil mahsyar..aamin.

BERSAMBUNG


Related

Telaah 5616509825395598764

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item