umdah

Fakta Tentang Dengki | Tafakkur

Fakta Tentang Dengki- Ini merupakan artikel tafakkur umdah pada edisi ke II. Renungkanlah, semoga ini bisa menjauhkan kita dari penyakit hati yang benama dengki.
Katakanlah! Aku berlindung kepada tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluknya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita penyihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan pendengki apabila ia dengki
(QS. al-Falaq 1-5)
Dengki


Ketika dengki mulai bersemayam dalam sanubari seorang hamba, berarti ia telah mulai menghancurkan ketenangan dan kebahagiaan hidupnya. Hasad (dengki) adalah sifat tidak rela melihat nikmat Allah pada orang lain, sehingga seorang pendengki sangat ingin agar nikmat pada orang lain hilang walaupun nikmat itu tidak berpindah menjadi miliknya. Pendengki yang miskin menginginkan orang lain tetap miskin seperti dirinya, pendengki yang kaya menginginkan agar tidak ada yang melebihi kekayaannya. Dengki dapat bersemayam di hati siapapun, tidak peduli kaya atau miskin.

Hati yang selalu mendengki tidak akan pernah merasa tenang , kegundahan akan selalu mewarnai kehidupannya seiring dengan bertambahnya nikmat dan kebahagiaan pada orang lain. Pendengki juga tidak akan bahagia di akhirat, karena amal shaleh yang ia kerjakan tidak berarti dalam pandangan Allah SWT, karena kedengkian telah menghapus semua kebaikan yang telah dilakukan . Rasulullah SAW mengingatkan:

عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إياكم والحسد فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب ( أخرجه أبو داود والبيهقي )

Artinya: Dari Abi hurairah R.A bahwa Nabi berkata; Jauhilah dengki, karena dengki dapat menghanguskan kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu.

Tidak hanya itu, banyak sekali masalah yang harus ditanggung oleh pendengki dalam menjalani hidup di dunia, antara lain: mengalami kekalahan dalam perjuangan, karena sikapnya yang tidak terkontrol, dan akan meruntuhkan kredibilitasnya sendiri saat kedengkiannya diketahui orang lain, serta mengabaikan agama akibat kesibukannya memikirkan nikmat orang lain, tidak mampu memperbaiki diri sendiri, membuat gelap mata dan tidak dapat melihat kebenaran, dan membebani diri sendiri.

kesempurnaan iman tidak akan tercapai kecuali dengan mencintai orang lain sebagaimana kita mencintai diri sendiri. Mukmin sejati akan bahagia melihat saudaranya bahagia, mukmin sejati juga berduka melihat saudaranya berduka. inilah konsep hidup yang ditawarkan oleh iman, yaitu hidup dengan saling mencintai, mengasihi dan menyayangi sesama. Rasulullah bersabda:

ترى المؤمنين في تراحمهم وتوادَّهم وتعاطفهم كالجسد الواحد ، إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائرُ الجسد بالسهر والحُمَّى
( رواه البخاري )

Artinya: Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi diantara mereka ialah ibarat tubuh yang satu, apabila satu organnya sakit, seluruh tubuh tidak dapat tidur nyenyak dan merasakan demam.

Syeikh Hafiz Hasan al-Mas'udi menyebutkan tiga hal yang dapat menghilangkan dengki dalam hati seseorang yaitu: berpegang teguh dengan ajaran agama, merenungkan kemudharatan yang ditimbulkan oleh dengki berupa kegundahan dan kesusahan yang tidak henti-hentinya, dan belajar untuk rela hati menerima takdir Allah S.W.T (Qadha dan Qadar).

Mengenai dengki, Anas bin Malik pernah menceritakan tentang seorang lelaki yang digelar penghuni Surga oleh Rasulullah SAW, karena ia tidak pernah berbuat curang dan tidak pernah mendengki terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain. Abdullah R.A yang pernah bermalam di rumah lelaki itu menceritakan bahwa la tidak pernah melihat lelaki itu shalat tahajjud dan shalat fajar. Subhanallah....! begitu mulia hamba Allah yang mampu menjauhi dengki, hingga Rasulullah menjaminnya sebagai Ahli surga.

Wabillahit Taufiq.



Oleh: Tgk. Waliyunis al-Madadi
 


Related

tafakkur 8409474971958840205

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

A
item